DagelanStory: Vacuum Cleaner.

11 Agu

Mbah Kliwon punya rumah baru, sebagaimana layaknya warga baru di kampung, tetangganya pun banyak berdatangan untuk silaturahim, tak terkecuali sales barang-barang rumah tangga. Suatu pagi Mbah Kliwon dihampiri oleh seorang sales yang rupanya menawarkan sebuah vacuum cleaner.
“Assalamualaikum…sugeng enjing mbah, kula saking toko Sudi Mampir arep nawarke barang apik”

“Waalaikumsalam, hmmm…barang opo mas?” Jawab Mbah Kliwon sambil melinting rokok klobot kesayangannya.

“Niki mbah, sampeyan lak duwe omah anyar toh, lek sampeyan duwe barang iki dijamin ngresiki omah dadi enteng, barang iki jenenge vacuum cleaner mbah! Karo alat iki, mbah mboten usah soro-soro nyapu maneh!” Sang sales mengeluarkan jurus andalannya, sebuah vacuum cleaner pun dikeluarkan beserta sebendel buku katalog. Sepuluh menit pun berlalu seiring sang sales yang nggedhabrus ngalor-ngidul.

“Halah, gak percoyo aku, wis talah mas, mending yo nyapu omah dewe…” Mbah Kliwon makin asyik menyedot rokoknya.

Deloken yo mbah” Sang sales mengeluarkan sebungkus tas kresek dari kopernya. Inilah jurus pamungkas yang diajarkan oleh sang manajer untuk menghadapi konsumen ndableg.

“Kresek iki mbah, isine telek wedus, iki taksebar nang ubin e sampeyan, misale alatku iki mboten saget ngresiki, tak untale siji-siji!” Sang salesman merasa di atas angin, disebarnya kotoran kambing yang kecil-kecil nggilani itu di atas lantai teras Mbah Kliwon.
Dengan santai, Mbah Kliwon menjawab, “Mas, peno nguntale njaluk didulit saos opo kecap?”

“Lho, opo’o mbah?”
“Omahku lho gak ono listrike”

Menimba Wawasan di Perpustakaan C20.

10 Agu

Di bulan puasa, tak jarang orang-orang menemukan hobi baru untuk mengisi waktu luang mereka menjelang berbuka. Nah, bagi anda yang memiliki ketertarikan pada bidang yang berbau sastra ataupun hanya hobi membaca, tak ada salahnya untuk mampir ke perpustakaan yang terletak tak jauh dari kantor Kedutaan Amerika Serikat ini. Terletak di Jalan Dr.Cipto 20, perpustakaan milik pribadi ini dinamai sesuai lokasi berdirinya, yakni C20. Pengelola C20 menyebut perpustakaan ini sebagai ruang publik yang menyediakan berbagai referensi buku fiksi maupun nonfiksi serta audiovisual pilihan untuk disewa atau dibaca di tempat.

Penulis berkesempatan mewawancarai pemilik C20 yakni Ibu Yuli, beliau menyatakan bahwa sebagian besar koleksi yang terdapat di C20 adalah milik pribadi, sisanya adalah sumbangan dari rekan maupun titipan orang lain untuk disewakan. Kini C20 telah mengoleksi lebih dari 4.000 macam buku, baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Tema koleksi bukunya pun beragam, mulai dari sastra, sejarah, sosial budaya, hingga seni lengkap terdapat di sini. Awal mula berdirinya perpustakaan ini pun karena koleksinya yang sudah membeludak.

Tampilan Depan Perpustakaan C20

Bersahabat: Jauh dari Kesan "Angker" Perpustakaan Pada Umumnya.

“Selain itu kami juga mengadakan pemutaran film tiap akhir pekan mulai pukul 6 sore” Tambahnya. Tapi jangan harap menemukan film macam “Suster Keramas” atau “Hantu Jamu Gendong”, karena di sini film yang diputar pun berisi dan tidak sembarangan, umumnya yang diputar adalah film bergenre dokumenter maupun film Indonesia unggulan. Contohnya pada hari Minggu, 14 Agustus 2011, film dokumenter berjudul “Rumah Abu Han” akan ditayangkan di C20, film ini menceritakan  sebuah rumah kuno di Surabaya yang merupakan peninggalan suku Han pada zaman kolonial, beserta makna filosofis yang terkandung dalam arsitekturnya. Cukup layak ditonton sebagai penambah wawasan tentang sejarah kota Surabaya.

Selain itu, di bulan Ramadan ini C20 juga mengadakan agenda diskusi serta buka bersama, lumayan, kita bisa menggali pengetahuan lebih dalam sembari menanti azan magrib dikumandangkan. Salah satu tema diskusinya adalah “Mentawai Tattoo Revival: Tato dan Tradisi” yang diadakan pada Sabtu, 20 Agustus 2011.

Ibu Yuli menambahkan, di sini pengunjung bisa merasakan suasana seperti rumah sendiri, karena C20 didesain senyaman mungkin, lengkap dengan tempat duduk ala kafe di terasnya yang biasa digunakan pengunjung untuk cangkrukan. Memang, perpustakaan ini jauh dari kesan perpustakaan pada umumnya yang serba kaku dan tidak santai, bahkan cenderung colorful serta bersahabat.

Sangat mudah untuk menjadi member C20, untuk mendapatkan keanggotaan yang berlaku selama setahun, pengunjung cukup menunjukkan fotokopi kartu identitas, menyerahkan pasfoto, serta membayar biaya keanggotaan sebesar Rp50.000,00. Setelah itu, anda bebas memilih buku apa saja untuk disewa. (Penulis juga menyempatkan diri untuk mendaftar sebagai member, lalu menyewa sebuah buku sejarah sosial-budaya berjudul “Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe”)

Surga: Bagi Penggila Buku, Waktu Ngabuburit Jadi Tidak Terasa.

Ibu Yuli, Sang Pemilik C20.

Mengapa perpustakaan ini jarang diketahui masyarakat luas? Ibu Yuli punya jawabannya, yakni karena publikasi C20 kebanyakan adalah melalui lisan dan internet, untuk mengakses via internet, C20 menyediakan akun twitter, facebook, maupun website pribadinya. Beliau berharap bahwa dengan publikasi via dunia maya ini, C20 akan makin ramai dikunjungi.

Bagi yang memiliki buku bekas, majalah, maupun DVD yang masih layak guna, C20 juga menerima jasa penitipan jual, penulis juga sempat melihat ada kaus “Grammar Suro Boyo” juga dijual di sini. Bagi yang membutuhkan venue untuk acara khusus seperti pameran maupun sesi foto, C20 dapat pula menjadi pilihan yang tepat.

C20 siap menyambut pengunjung dengan tangan terbuka setiap Senin, Rabu, dan Jumat pukul 10.00 hingga pukul 19.00, serta mulai pukul 11.00 hingga 21.00 pada hari Sabtu dan Minggu.

Berburu Barang Antik di Jalan Bodri.

6 Agu

Anda penggemar barang antik? Atau hanya sekedar ingin cuci mata dengan pemandangan yang baru? Mungkin Pusat Barang Antik di Jalan Bodri bisa menjadi alternatifnya. Jalan yang teletak di belakang Gelora Pancasila ini memang sudah lama terkenal sebagai lokasi utama untuk berburu barang antik, bagi warga Surabaya bahkan dari luar kota sekalipun.

Sedatangnya anda di tempat ini, anda akan disapa oleh barang-barang kuno yang berjejer pada delapan kios yang berbeda. Barang dagangannya pun bervariasi, di sini, anda bisa menikmati berbagai macam koleksi benda antik seperti lampu kuno, terompet kuningan, setrika arang, bahkan gramafon antik yang tidak dapat sembarang ditemui di tempat lain. Dan hebatnya, kebanyakan masih dalam kondisi layak pakai.

Variatif: Kios barang antik yang nampak berjejer di jalan Bodri.

Mas Andi, salah satu pemilik kios mengatakan bahwa benda-benda antik ini umumnya didapat dari warga, khususnya yang tinggal di kawasan elit. Untuk menjual barang-barang antik itu juga tak sembarangan, sebagian bahkan harus dilengkapi surat-surat kepemilikan agar tidak terjadi kecolongan, mengingat barang-barang kuno itu memiliki nilai estetika yang tinggi. Tapi pernah juga ia menemui barang dalam kondisi yang kurang memuaskan, seperti retak di beberapa bagian hingga komponen yang tidak lengkap.

Seandainya saya bawa uang banyak...

Rata-rata kios barang antik di Jalan Bodri ini buka pukul 07.00 pagi hingga pukul 19.00 malam, sehingga memungkinkan pembaca untuk menikmati jalan-jalan pagi sembari melihat-lihat apa saja yang dijual di sana. Harga barangnya pun bervariasi, yang paling murah bisa mencapai Rp30.000,00 hingga yang termahal mencapai puluhan juta rupiah. Salah satu koleksi yang termahal adalah sebuah lampu kuno pemberian seorang warga Darmo Indah, lampu ini berharga Rp20.000.000,00.

Lampu ini harganya 20 juta rupiah, tertarik?

Kalau yang ini rata-rata 30 ribu rupiah, cukup murah untuk ukuran barang antik.

Cukup mudah untuk mengakses kawasan ini, anda bisa mengaksesnya melalui jalan Padmosusastro apabila datang dari arah Mayjend Sungkono, atau bisa juga melalui jalan Dr.Soetomo apabila anda datang dari arah Darmo. Asal tahu Gelora Pancasila, penulis jamin pembaca tidak akan tersesat.

Bagaimana? Apakah anda mulai terpikir untuk untuk memulai hobi baru mengumpulkan benda antik? Pastikan Kawasan Wisata Barang Antik di Jalan Bodri menjadi pilihan utama anda!

 

DagelanStory: Mimpi

5 Agu

Cak Wakiran punya anak bernama Karmin, suatu hari sang anak bermimpi buruk dan menceritakannya pada Cak Wakiran.

Paaaakkk, aku mimpi mbah kakung sedo…” Kata Karmin sesenggukan

Wis talah nak, iki mung mek mimpi, gak mesti kedaden tenanan!” Cak Wakiran berusaha menenangkan anaknya.

Besoknya, ada telepon dari Tulungagung, menyebutkan bahwa ayah Cak Wakiran wafat karena serangan jantung mendadak. Namun belum kering air mata Cak Wakiran, tiba-tiba Karmin berlari ke luar rumah sambil kembali menangis.

“Paaaaak, saiki aku mimpi mbah putri sedo paaaaakkk….hiks hiks”

Wis ta nak ojo mimpi sing aneh-aneh! Durung karuan temenan iku, wis saiki turuo maneh, gak opo-opo gak!” Kata Cak Wakiran setengah marah.

Besoknya, kembali ada telepon dari kerabatnya yang menyebutkan bahwa ibu Cak Wakiran meninggal karena gegar otak setelah terpeleset di kamar mandi.

Pada saat peringatan tujuh hari kematian orang tua Cak Wakiran, Karmin kembali bermimpi buruk, kali ini tangisnya makin keras. Ia pun keluar sambil memeluk Cak Wakiran.

Lho le, opoo kok awakmu nangis maneh? Mimpi opo maneh awakmu?”

“Aku mimpi bapak sing sedo saiki!”

“Halah gak usah percoyo mimpi ta lah nak! Sesuk bapak gakpopo gak!” Ujar Cak Wakiran menenangkan anaknya.

Meski begitu, malamnya Cak Wakiran tidak bisa tidur. Ia takut kalau mimpi anaknya menjadi kenyataan.  Namun ia berusaha untuk pasrah dan memberanikan dirinya untuk tidur…

Esoknya, Cak Wakiran bangun dalam keadaan sehat walafiat.

“Alhamdulillah ya Allah! Awakku isih urip!” Kata Cak Wakiran sambil meraba-raba mukanya sendiri, meyakinkan diri kalau dia masih hidup.

Tapi dari luar terdengar giliran istri Cak Wakiran yang menangis sesenggukan, perlahan Cak Wakiran melangkah ke luar untuk menanyai istrinya.

“Lho buk, ono opo kok sampeyan nangis gero-gero ngene?”

Huaaaa…bakul bakwan langgananku matek pak eeeee…..huaaaaa”

DagelanStory: Memancing

3 Agu

Cak Paidi punya kebiasaan baru, sore hari setelah hujan deras, ia mengambil alat pancing lalu pergi memancing di got depan rumahnya. Sambil berjongkok dan mengisap rokok kretek kesayangannya, orang-orang yang lewat pastilah akan melihatnya.

Ada yang kasihan, ada yang tertawa, tak jarang pula ada yang takut karena mengira Cak Paidi orang gila.

Tak lama seorang kawan bernama Cak Kliwon lewat. Dia tidak tega melihat temannya sendiri menderita sampai-sampai harus memancing di got depan rumahnya.

“Cak Paidi, kesini! ayo taktraktir mangan sego sambel nang warung Mbok Ponirah!”

Awalnya Cak Paidi malu-malu, namun karena desakan dari Cak Kliwon akhirnya hatinya luluh juga. Kemudian, mereka berdua pun duduk di sebuah warung.

Sampeyan ambil lauk apa aja deh, jangan sungkan-sungkan!” Kata Cak Kliwon.

Cak Kliwon makan dengan lahapnya, total tiga piring nasi dihabiskannya. Setelah membayar semuanya, Cak Kliwon mengajaknya ngobrol.

“Di, sampeyan itu selama ini mancing di got kecil depan rumah itu apa pernah dapet ikan?”

“Ya dapat lah! Lek gak entuk lapo takbelan-belani ndodhok sarungan berjam-jam.” Jawab Cak Paidi sambil mengisap rokok.

Mosok seh? Wis oleh iwak piro sampe saiki?”

Awakmu sing kelimo…”

 

DagelanStory: Minimarket

3 Agu

Pakde Paijo pergi ke minimarket baru di dekat rumahnya, suatu malam ia berkunjung untuk membeli makanan kucing.

“Mas, tuku iki yo” Pakde Paijo menyodorkan sekaleng makanan kucing kepada kasir.

“Mbah, sampeyan lek arepe tuku pakan kucing iki, sampeyan kudu mbuktekno lek duwe kucing. Wedine lek adakno sampeyan gak duwe terus ndilalah dipangan dewe panganane.” Jawab kasir sekenanya.

Pakde Paijo tidak kebanyakan protes, pulanglah ia ke rumah dan lalu kembali sambil menggendong seekor kucing.

Nyoh, ini lho mas kucing saya” Diletakkannya kucing itu di meja kasir. Dibayarlah sekaleng makanan kucing tersebut.

Besoknya, Pakde Paijo kembali ke minimarket untuk membeli biskuit tulang buat anjingnya. Tepat saat akan membayar, si kasir kembali menanyakan hal yang sama.

“Mbah, sampeyan nduwe asu mboten? Aku kuatire lek biskuit balung iki sampeyan pangan dewe” kata si kasir.

Pakde Paijo pulang lagi tanpa banyak bicara, ia kembali ke minimarket sambil menuntun seekor anjing herder.

“Ini lho mas anjing saya” Kata Pakde Paijo sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan.

Besoknya lagi, Pakde Paijo kembali ke minimarket sambil menenteng sebuah kardus bekas Indomie yang diberi lubang kecil di bagian sampingnya.

“Mbah, sampeyan arep tuku panganan gawe ulo ta?” Kata si kasir setengah heran.

“Ini isinya bukan ular mas, sampeyan jajal lebokno drijine sampeyan dewe ta lak gak nyokot.” Jawab Pakde Paijo dengan tenang.

Awalnya petugas kasir itu agak takut memasukkan jarinya, namun setelah dibujuk, ia memberanikan diri memasukkan jarinya ke lubang itu.

Ternyata kotak itu berisi sesuatu yang lunak, ketika si kasir mencabut jarinya ia mencium bau yang sangat tidak enak. Kasir tersebut misuh-misuh tidak karuan.

“Kurang ajar! Semprul! Sampeyan ngelebokno opo iku nang kotak Indomine sampeyan lha kok drijiku ambune gak wenak ngene??”

Yaopo mas, saiki aku wis oleh durung tuku tissue WC?”

Toko Lawang Agung, Pusat Kurma Terlengkap di Indonesia.

31 Jul

Bulan suci Ramadan telah menanti di depan mata, sudah menjadi pemandangan umum apabila kaum muslim Indonesia—khususnya di kota tercinta ini—ramai-ramai berburu sesuatu untuk dijadikan kudapan spesial, baik untuk berbuka maupun sahur. Di antara makanan tersebut, kurma adalah salah satu yang lazim ditemui. Buah yang tumbuh di kawasan gurun ini memang identik dengan bulan Ramadan karena memang konsumsi buah satu ini lumayan dianjurkan oleh agama. Selain itu, kurma juga terbukti secara klinis ideal sebagai asupan energi saat menjalani puasa.

Di antara toko maupun supermarket yang menjual kurma, ada sebuah pusat penjualan kurma di Surabaya yang mengklaim diri sebagai yang terlengkap di Indonesia, yaitu toko Lawang Agung. Terletak di daerah kampung Arab Ampel, tepatnya di Jalan Nyamplungan 75 Surabaya, toko ini bagaikan surga bagi mereka yang ingin berburu kurma untuk takjil maupun hanya ingin sekedar menjelajahi variasi buah asal jazirah Arab ini.

Di toko yang telah berdiri sejak tahun 1950-an ini, pembaca bisa menemui berbagai macam jenis kurma, bahkan ada lebih dari dua puluh jenis apabila stok sedang penuh. Mulai dari kurma asal Mesir yang ekonomis, kurma Tunisia yang legit dengan aftertaste  yang khas, hingga kurma Ajwa yang hitam manis dan konon bibitnya ditanam langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

Harganya pun bervariasi, berkisar sekitar 15 ribu rupiah perkilo hingga ratusan ribu rupiah untuk yang paling mahal. Yang paling mahal biasanya berjenis ruthab atau setengah matang karena lebih lezat dan empuk. Penulis lalu membeli sekilo kurma Mesir seharga 20 ribu rupiah. Tapi harga ini juga bervariasi, tergantung dari tingginya permintaan pula, umumnya harga kurma melonjak menjelang hingga pertengahan Ramadan karena saat itulah kurma paling banyak dicari.

Selain menjual buah kurma, Toko Lawang Agung juga menjual berbagai macam produk berbau Arab lainnya seperti air zam-zam, madu yaman, hingga makanan khas Arab yang sudah dibekukan macam kebab atau sambosa. Hiasan bernuansa khas juga dapat ditemukan di sini, seperti teko dan gelas untuk menyajikan air zam-zam.

Tampilan Depan Toko Lawang Agung (source: tokolawangagung.blogspot.com)

Bagi yang ingin memelihara kesehatan, Toko Lawang Agung juga dikenal memiliki koleksi obat herbal alamiah yang diramu berdasarkan cara islami semacam kapsul habbatussauda (jintan hitam) yang berkhasiat mengobati berbagai macam penyakit seperti hipertensi, gangguan ginjal, hingga mencagah timbulnya kanker.

“Sesungguhnya di dalam Habbatussauda terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit, kecuali kematian” {Shohih HR Bukhori, no. 5688; Fathul Baari, X/143; dan Muslim, no. 2215, source: nurusy-syifa.com}

Akhirnya penulis juga membeli sekotak kebab beku, total ganti rugi yang harus dibayar adalah Rp35.000 untuk sekotak berisi sepuluh kebab, cukup hemat dibandingkan membeli per satuan yang bisa jadi  mahal.

Air Zam-Zam, Teko, Serta Gelas Minumnya. Semua Ada di Lawang Agung.

Kurma Mesir yang Penulis Beli dari Toko Lawang Agung. Siap Tempur!

Tentu saja Lawang Agung bisa menjadi solusi bagi pembaca yang selama ini mencari pusat penjualan kurma yang lengkap dan dapat dipercaya. Sembari kita menambah wawasan dengan berziarah ke situs religi Ampel, apa salahnya kita mencoba toko yang satu ini. Tunggu apa lagi, selamat berburu kurma di Toko Lawang Agung!

Kenjeran, Menggali Kembali Mutiara yang Terpendam.

27 Jul

Setelah pembangunan jembatan Suramadu rampung, kawasan pesisir adalah sektor yang saat ini paling disorot perkembangannya. Diantaranya tersebut sebuah nama yakni tempat wisata Pantai Kenjeran. Nama yang satu ini memang rajin nampang bahkan di brosur-brosur pariwisata Surabaya sebagai tempat wisata unggulan.

Sebersit pikiran selalu terlintas di benak tiap kali melihat nama Kenjeran dipromosikan sebagai tempat wisata andalan kota Surabaya, apakah kawasan ini sudah siap bersaing dengan tempat wisata bahari lainnya? Mengingat dari segi pengelolaan, keindahan, maupun kebersihan Kenjeran masih kalah jauh dengan Losari di Makassar, Ancol di Jakarta, apalagi Kuta di Bali yang sudah mendunia. Masih malu rasanya untuk memamerkan Kenjeran milik kota ini yang masih belum siap.

Pernahkah pembaca mendengar ungkapan: “No surfing at Kenjeran Beach! Bukannya apa, selain nggak ada ombak airnya keruh dan kotor!” yang dipopulerkan oleh Cakcuk, sebuah distro lokal Surabaya? Mungkin itu sudah cukup bisa menggambarkan pandangan warga Surabaya mengenai pantai kebanggaannya ini. Pantai yang lokasinya tak jauh dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) ini saat ini memang dikenal sebagai tempat wisata yang kurang memiliki nilai plus. Bahkan sebagian orang Surabaya pun memiliki ungkapan “Malam mingguan di Kenjeran” sebagai olok-olok karena Kenjeran belakangan ditengarai sebagai lokasi favorit pasangan mesum.

Sekitar 15-20 tahun yang lalu, (katanya) pamor Kenjeran sebagai tempat wisata sempat jauh lebih ciamik dari saat ini. Masuk akal juga, karena bangunan-bangunan yang ada di kompleks wisata Kenjeran sejatinya terlihat megah, hanya saja tidak terawat, menyiratkan kesan angker dan pengap.

Salah satu dari bangunan yang tidak terawat itu adalah bekas kolam pancing yang terletak kira-kira 500 meter dari akses utama menuju Kenpark. Tempat ini menurut penulis lebih layak dijadikan arena uji nyali ketimbang kolam pancing. Besi tua bertebaran di sekitar gerbangnya, belum lagi tumbuhan liar yang merajalela di sana-sini. Sejauh yang penulis tahu, kini bekas kolam pancing ini digunakan bermain bola tiap sore oleh anak-anak penduduk sekitar.

Kolam Pancing Pantai Ria: Untung Belum Didatangi Kru Dunia Lain.

Selain di Kebun Binatang Surabaya dan di Monkasel, Ada yang Pernah Lihat Patung Suro-Boyo di Sini?

Namun saat ini Kenjeran tidak sepenuhnya mati suri, sebagaimana kawasan utara Surabaya lainnya mulai berbenah diri. Saat penulis berkunjung kembali, terlihat akses menuju Kenjeran Park (Kenpark) sedang mengalami perbaikan. Tempat wisata yang berisikan arena balap kuda, pusat kebugaran jasmani, maupun kolam renang ini sepertinya sedang menyadari potensinya untuk menjadi tempat wisata yang benar-benar dapat dibanggakan oleh masyarakat Surabaya lebih-lebih Jawa Timur.

Gerbang masuk yang dahulu terkesan garing dan jadul kini dipercantik dengan warna jambon ngejreng yang dijamin bakalan menarik tiap mata yang melintasinya. Melihatnya, otak penulis membayangkan bahwa tempat ini nantinya akan se-ngetop Taman Impian Jaya Ancol (bermimpi itu gratis!)

Lebih Mengundang: Gerbang Kenpark yang Baru.

Semoga Suatu Hari Kenjeran Bisa Seramai Ini. (source: wartakotalive.com)

Semangat Pak: Pekerja Sedang Membenahi Akses Menuju Kenpark.

Lain Kenpark, lain pula Pantai Kenjeran Baru. Tempat wisata yang terletak di Jalan Sukolilo 100 ini lebih menonjolkan kapasitasnya sebagai wahana wisata budaya, tempat ini dikenal sangat kental dengan nuansa Tiongkok. Karena di sini memang banyak sekali bangunan berarsitektur Tionghoa, mulai dari patung Dewi Kwan Im yang telah mencetak rekor MURI hingga Pagoda Tian Ti yang berdiri kokoh hingga terlihat dari jembatan Suramadu. Sebuah seaside restaurant yang penuh lampion juga dapat ditemui di sini, seakan menggantikan posisi Kya-Kya Kembang Jepun yang belakangan sudah ditutup dan menyisakan gerbangnya saja.

Kenjeran Baru juga terkenal sebagai surga foto bagi para pemburu gambar baik pemula maupun profesional. Tak perlu mencari spot ke luar negeri untuk mendapatkan gambar nan eksotis khas negeri Asia Timur, cukup datang ke Kenjeran dan akan sulit bagi orang awam untuk membedakan mana negeri Tirai Bambu yang asli dan mana yang KW Super. Sangat dianjurkan bagi calon pengantin baru maupun bagi siswa-siswi SMA yang mencari lokasi foto keren.

Pagoda Tian Ti (source: Surabayapost.co.id)

Satu lagi yang tak dapat dipisahkan dari Kenjeran adalah potensi hasil lautnya. Ketika penulis datang ke Kenjeran, semerbak aroma yang unforgettable pun datang menyapa, wangi hasil laut Indonesia yang begitu kaya, dengan semerbak yang masih terkenang saat mengunjungi Kenjeran untuk kali pertama. Di sekitar kawasan pantai Kenjeran, banyak sekali pedagang hasil laut yang tergabung dalam suatu sentra perdagangan. Namun lokasi ini seakan tak terjamah oleh masyarakat Surabaya, letaknya terselubung di antara pemukiman warga yang kumuh dan terasa asing bahkan bagi penulis yang merupakan warga Surabaya.

Sebenarnya, tempat wisata Pantai Kenjeran Baru dan Lama, Kenpark, serta Sentra Perdagangan Hasil Laut di kawasan Sukolilo ini merupakan sebuah kombinasi yang dahsyat sebagai suatu wahana wisata bahari apabila diintegrasikan dengan sempurna oleh pihak pengelola. Menurut penulis, hal pertama yang harus dibenahi adalah kebersihan serta keindahannya. Karena bagaimana juga, kesan pertama yang menjanjikan adalah syarat mutlak bagi suatu tempat wisata untuk bangkit dan mampu bersaing. Apabila syarat yang satu itu terpenuhi, maka akan mudah untuk ke depannya memajukan Kenjeran serta memakmurkan warganya. Jangan lupa bahwa sektor bahari merupakan salah satu sendi utama bangsa ini.

Penulis memutuskan berhenti sejenak di sebuah kios yang menjual berbagai macam keripik hasil laut. Seorang pemiliknya yang bernama Mas Ayi mengatakan bahwa usaha penjualan hasil laut ini sebenarnya cukup ramai, apalagi menjelang bulan Ramadan serta Idul Fitri.

Penulis memilih untuk membeli satu ons keripik terung untuk dibawa pulang. Harganya cukup terjangkau, yakni cukup 15 ribu dibandingkan harga pasaran yang berkisar hingga 18 ribu untuk berat yang sama. Tentu saja ini karena minus biaya distribusi, jadi dijamin produk yang dijual fresh from the oven ocean.

Menggiurkan: Hasil Laut Berupa Keripik yang Siap Dijual.

Murah: Langsung Dipanen dari Nelayan.

Tak jauh dari kios, bibir pantai sudah terlihat. Sembari membayangkan nikmatnya makan kekayaan hasil laut negeri sendiri, penulis sempat merenung akan masa depan pantai ini sambil melempar pandangan jauh ke tengah laut. Masyarakatnya yang pantang menyerah serta murah senyum, potensi wisatanya yang luar biasa, serta kekayaan alamnya yang hebat, sekali lagi meyakinkan penulis bahwa tidak ada alasan untuk tidak mencintai kota ini. Dan penulis yakin, suatu saat Kenjeran akan kembali menemui masa keemasannya yang jauh lebih indah.

DagelanStory: Kentut

25 Jul

Ada seorang wanita bernama Tumini yang mengeluh punya masalah dengan kentutnya yang tidak terkontrol, ia pun pergi ke puskesmas untuk menemui seorang dokter.

Tumini: “Nuwun sewu pak dokter…”

Dokter: “Ya?”

Tumini: “Ini lho pak, saya udah seminggu ini bermasalah sama kentut saya…masak tiap semenit itu saya bisa kentut lebih dari lima kali.”

Dokter: (menghela nafas) “Hmmm…ya…ya…ya…”

Tumini: “Tapi yang aneh itu dok, tiap saya kentut itu gak pernah kedengeran bunyinya sama gak ada baunya blas. Kalau boleh blak-blakan ya pak dokter, saya ini sebenarnya sudah kentut sepuluh kali sejak masuk ke ruangan ini.”

Dokter: “Hmmm….”

Tumini: “Sebenarnya saya ini kenapa sih dok?”

Pak dokter tidak menjawab sepatah kata pun dan langsung menulis resep.

Dokter: “Bu, ini resepnya, lusa ke sini lagi ya.”

Tumini: “Makasih ya pak dokter.”

Tumini langsung saja pergi ke apotek dan menukarkan resep dengan obat yang dimaksud. Sesuai perintah dokter, lusanya Tumini kembali ke puskesmas.

Dokter: “Gimana bu, sudah diminum obatnya?”

Tumini: “Sudah dok, tapi anehnya habis minum obatnya pak dokter kok tiba-tiba kentut saya ambune buadheg tenan kaya tembelek gajah, saya sendiri aja hampir pingsan lho dok pas nyiumnya.”

Dokter: (menghela nafas) “Oh, berarti hidung sampeyan  normal sekarang. Ini juga saya mau pingsan bu.”

Tumini: “Tapi kok tetep nggak ada suaranya ya dok? Padahal saya itu kalo kentut kok rasanya udah ngeluarin tenaga maksimal, rasanya kaya celana mau sobek gara-gara kentut saya”

Dokter: “Gini ya bu, ibu sebenarnya cuma masuk angin, tapi kalo sampeyan masih punya keluhan yang sama…obatnya ada satu.”

Tumini: “Apaan dok?’

Dokter: “Rajin-rajin bersihin kuping.”

Kramat Gantung, Saksi Eksistensi Keraton di Surabaya

24 Jul

Coba tanyakan kepada warga Surabaya yang telah berdiam lama di kota ini: manakah pusat penjualan karpet, gabus, serta bahan pembuat sepatu? Sebagian besar pasti akan menjawab Jalan Kramat Gantung. Memang, sekilas nama ini akan mengingatkan kita kepada kawasan Kramat Gantung di Jakarta (yang merupakan daerah prostitusi) sebab jalan ini letaknya tidak berada di daerah yang banyak dijangkau orang seperti jalan Ahmad Yani ataupun jalan Pemuda.

Menurut pengamatan penulis, jalan Kramat Gantung adalah “penghubung” antara Surabaya Tua dan Surabaya Modern. Karena apabila kita bepergian dari arah jalan Pasar Besar (representasi Surabaya Tua) dan melewati jalan ini, kita akan keluar menuju  jalan Gemblongan yang sudah benar-benar beda suasananya.

Sebuah Gang di Kawasan Surabaya Tua

Jalan Gemblongan, di Sini Atmosfernya Sudah Berbeda.

Siapa tahu, di balik nama Kramat Gantung terselip sebuah sejarah yang menarik tentang Surabaya. Ternyata dahulu di kawasan inilah terkonsentrasi Kadipaten Surabaya, yang merupakan cabang dari Keraton Mataraman. Makanya, di sini banyak sekali gang bernama “Kraton” yang menghubungkan jalan Kramat Gantung dan Baliwerti. Dan apabila pembaca mau melihat-lihat, akan ada banyak gapura gang bercirikan tempo dulu nan eksotis.

Ada dua versi asal-usul nama Kramat Gantung yang saya dapatkan, yang pertama mengatakan bahwa nama ini berasal dari masa kolonial, yakni ketika tempat ini kerap menjadi lokasi penggantungan warga pribumi yang membangkang terhadap pemerintah Belanda; versi kedua menyatakan bahwa asal namanya adalah dari kisah seorang prajurit sakti dari daerah itu yang hanya bisa mati dengan cara dihukum gantung. Yang mana saja versi yang benar, keduanya menggambarkan bahwa sejarah yang cukup pilu turut pula mengiringi perkembangan jalan Kramat Gantung.

Morfologi jalan ini begitu khas menurut saya, cukup lebar dan penuh dengan pertokoan tua di sekitarnya, dipermanis dengan gang-gang kecil yang menambah nilai nostalgia ketika melintasi jalan ini. Hanya saja terkadang ramai oleh mobil angkutan yang membongkar muat bahan-bahan dagangan seperti plastik dan karpet. Namun tetap saja keramaian itu berbeda dengan yang saya rasakan di sudut-sudut kota Surabaya lainnya.

Seorang Pria Menikmati Koran Paginya di Pinggiran Jalan Kramat Gantung.

Siapa Sangka, Jalan yang Tenang Ini Pernah Jadi Saksi Bisu Digantungnya Arek-Arek Suroboyo pada masa penjajahan Belanda.

Meskipun keren, namun jalan Kramat Gantung ini seakan kurang populer sebagai spot pengambilan gambar bagi para fotografer. Bagi yang ingin berkunjung, sebaiknya datanglah sebelum pukul 08.00 WIB untuk mendapatkan spot yang sepi dan untuk mendapatkan gambar aktivitas pagi warganya. Jangan khawatir bagi yang belum sempat sarapan, jalan ini juga dekat dengan kawasan China Town (Jagalan dan sekitarnya) serta Kampung Arab yang terkenal sebagai gudangnya kudapan bernuansa impor.