Arsip | Uncategorized RSS feed for this section

Surabaya Akan Segera Punya Trem dan Monorel

13 Agu

Pemkot Surabaya sudah sejak lama ingin mengurai kemacetan yang terjadi di Basuki Rachmat dan Urip Sumohardjo dengan membangun underpass Pandegiling. Namun niatan itu terkendala dengan adanya bangun cagar budaya di Urip Sumohardjo sehingga underpass yang butuh lahan luas, tidak bisa diwujudkan.

Karena itu untuk menggantikannya, pemkot tetap akan membangun monorel di kawasan itu. Nantinya, monorel itu yang menjadi penghubung transportasi massal dari koridor Timur ke Barat. Bahkan lelang detail engineering design (DED) untuk proyek monorel sudah dijalankan.

Hal itu diakui Kepala Bappeko Surabaya Hendro Gunawan. Menurut dia, masalah transportasi alternatif di Surabaya ini sudah dibicarakan dengan para ahli atau pakar transportasi kota. Hendro menyatakan, dalam minggu ini lelang DED proyek yang bakal menginvestasikan triliunan rupiah, akan dilakukan.

Proyek itu nantinya akan dibangun investor, sehingga pemkot akan akan mengeluarkan anggaran sedikit pun. Pemkot hanya kebagian menyediakan kendaraan penghubung serta pembuatan lokasi parkir khusus pemberhentian monorel dan trem.

Pemkot berkeinginan menyediakan monorel untuk menghubungkan transportasi dari Timur ke Barat dan trem untuk koridor Utara-Selatan. Koridor Timur-Barat yang dihubungkan dari ITS-Kertajaya-Jl dr Seotomo-Mayjen Sungkono-Pakuwon Trade Centre. Sedangkan untuk trem menghubungkan Wonokromo-Jl Raya Darmo-Urip Soemohajo-Jl Basuki Rachmad-Jl Embong Malang-Jl Blauran-Jl Bubutan dan Tugu Pahlawan.

Peta Rencana Jalur Trem dan Monorel (source: skyscrapercity.com)

 

Monorel dan trem ini juga sebagai alternatif setelah penolakan pemkot atas tol tengah kota. Transportasi itu dianggap sebagai solusi terbaik untuk transportasi di Surabaya.

source: http://www.centroone.com/news/2012/1y/monorel-surabaya-segera-terwujud/

 

Gambar

5983813151_423e4a1c6c

13 Agu

5983813151_423e4a1c6c

Peta Rencana Trem-Monorel Surabaya

#SaveKBS

17 Mar

“Kliwon, satu-satunya jerapah koleksi Kebun Binatang Surabaya, ditemukan mati; di dalam perutnya ditemukan sampah-sampah plastik.”

Yogyakarta – Pagi itu, saya terbangun oleh suara pembaca berita dari sebuah televisi swasta. Berada ratusan kilometer dari rumah membuat telinga saya lebih sensitif apabila ada nama Surabaya disebut-sebut di kabar nasional. Rupanya telinga saya tidak salah, lagi-lagi saya mendengar kabar kematian satwa koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS), kali ini adalah seekor Jerapah yang merupakan satu-satunya koleksi kebun binatang populer ini.

Sedikit tertegun, saya mengambil sebuah album keluarga berisi koleksi foto liburan saya di KBS pada tahun 1995. Pada suatu halaman, saya menemukan selembar foto di mana saya digendong oleh ibu saya, dengan latar belakang seekor jerapah yang sedang berdiri dengan gagahnya, seakan turut tersenyum ke arah kamera.

Ya, saya menyadari bahwa itu pastilah si Kliwon, yang saat itu saya saksikan di TV sedang diseret menuju liang lahat oleh para petugas KBS.

Tinggal Kenangan: Foto ini diambil pada 1995.

Ada sebuah rasa kehilangan yang hinggap, meskipun pada kenyataannya foto itu sudah diambil sekitar 17 tahun yang lalu, dan bahkan Kliwon sama sekali bukan bagian keluarga saya. Namun, keberadaannya dalam foto keluarga tersebut telah menunjukkan, bahwa KBS telah ada dalam hati setiap warga Surabaya. Saya pun berani bertaruh: dari setiap foto keluarga di Surabaya, paling tidak pasti ada sebuah album yang berisi foto-foto kunjungan ke KBS.

Sebagaimana arek Suroboyo lainnya, KBS memiliki kesan mendalam bagi saya. Tempat ini merupakan spot wisata Surabaya yang pertama saya kunjungi seumur hidup, di sini pulalah saya menjalani karyawisata pertama saya sebagai siswa SD, dan di tempat ini pula saya melakukan penelitian dalam rangka Student Day SMA sebelum akhirnya saya harus meninggalkan Surabaya. Di luar itu, tak terhitung sudah berapa kali saya mengunjungi tempat wisata ini.

Kebun Binatang Surabaya, siapa yang tak mengenal nama satu ini. Sedari duduk di bangku SD, saya terbiasa mendengar cerita guru tentang kehebatannya sebagai kebun binatang terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara. Sekitar 4000 satwa dari berbagai macam spesies terdapat di sana. Sebagai seorang anak kecil, siapa yang tak bangga tempat wisata favoritnya dielu-elukan sedemikian rupa.

Namun, kebanggaan tinggallah masa lalu. Kini, KBS dihadapkan pada sebuah permasalahan yang pelik. Kematian satwa yang beruntun, konflik internal pegawai KBS, carut marut antara pengurus lama dan baru, serta sengketa kepemilikan pun makin memperkeruh suasana. Bahkan, sempat terdengar kabar bahwa akan ada investor yang ingin mengambil alih KBS untuk dijadikan pusat perbelanjaan.

Yang paling menyedihkan,  sebuah sumber berita mengatakan bahwa KBS akan ditutup pada tahun ini. Dalam sumber tersebut tertulis bahwa KBS tidak lagi masuk dalam SK baru Pemerintah Kota Surabaya. Sedangkan masalah pengelolaan hewan akan diserahkan kepada lembaga konservasi.

Gajah dan gajah saling bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah. Pepatah ini tepat menggambarkan KBS saat ini, pengelola dan pengelola saling tidak mau mengalah, satwalah yang menjadi korban. Sekali lagi, keegoisan manusia menjadi bukti penyebab rusaknya lingkungan.

 

Dapatkah anda membayangkan Surabaya tanpa KBS?

 

Well, saya juga tidak mampu.

 

 

 

Karena, bagi warga Surabaya, KBS lebih dari sekedar tempat wisata, ia adalah sebuah tempat yang telah banyak merekam senyuman, tawa, tangisan, rengekan, pelukan, dan candaan dari orang yang mereka cintai menjadi satu. Semua dalam wujud yang spesial di hati mereka.

 

Mungkin ini hanyalah satu dari sekian banyak doa.

 

Namun, saya masih berharap bahwa di masa depan nanti, akan ada suatu hari di mana saya dapat mengantarkan keluarga saya pergi ke KBS dan berkata: “Tempat yang indah kan? Dahulu, kakek-nenekmu suka mengajak ayah ke sini.”

Saya masih bermimpi bahwa akan ada masa di mana saya mampu mendengar cerita anak-anak saya tentang karyawisata mereka di KBS, dan saya pun dapat dengan bahagia menceritakan kembali pengalaman karyawisata saya puluhan tahun yang lalu di tempat yang sama.

Saya masih membayangkan, bahwa akan ada waktu di masa tua saya ketika saya duduk bersantai sambil memandangi foto-foto kiriman anak cucu saya yang tengah berlibur di KBS, sembari berbisik mantap dalam hati: “KBS  masih ada…”

Saya masih berangan, semoga pihak yang kini sedang berseteru, akan berdamai demi KBS, demi para satwa di sana, dan demi memori-memori masa lalu dari pengunjungnya yang berserakan di tiap inci sudutnya.

…Dan akhirnya Kliwon, beserta satwa-satwa yang telah pergi lainnya, pun dapat tersenyum dengan tenang di alam sana.

 

“KBS iso ae ditutup, diancurno….Tapi gak kiro iso nutup karo ngancurno kenangan pas cilikanku nang kono”

– @aslisuroboyo

#SaveKBS

Oleh:

Ario Bimo Utomo, satu dari sedemikian ribu arek Suroboyo yang kenangan masa kecilnya banyak tertinggal di KBS, dan berharap KBS akan selalu ada bagi tiap hati yang merindukannya.

DagelanStory: Pintu Ajaib.

24 Sep

Suatu hari Wak Tam pergi bersama istri dan anaknya, mereka bertiga pergi ke Plasa Tunjungan untuk yang pertama kalinya. Maklumlah, orang desa, setiap kali mereka berjalan melewati tempat yang ada di sana mereka selalu berdecak kagum.

Setelah berjalan sekian lama, Wak Tam berhenti tepat di depan sebuah pintu besi berwarna keperakan. Yang membuatnya heran, pintu itu bisa membuka-tutup secara otomatis, dan pintu itu bisa mengeluarkan suara yang lembut…”TING!”

Pak, iku jenenge opo pak?” Tanya Eko, anaknya.

Wah, aku yo gak ngerti le…ket eruh iki aku ono lawang iso koyo ngono” Jawab Wak Tam sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Akhirnya, Wak Tam sekeluarga mengamati pintu itu tanpa henti sambil berjongkok di depannya.

“TING!” pintu itu terbuka, lalu seorang nenek-nenek masuk ke dalam pintu tersebut. Pintu itu tertutup lagi, tak lama muncullah angka-angka di atas pintu tersebut. Satu, dua, tiga, berhenti…kemudian tiga, dua, satu…”TING!” pintu itu kembali terbuka.

Wak Tam sangat terkejut melihat seorang siswi SMA yang sangat cantik keluar dari pintu tersebut.

Wak Tam antara kebingungan dan gembira, sembari pandangannya meleng ke arah gadis tersebut, dia menarik-narik tangan istrinya sambil berteriak, “Ko, Eko, ibukmu ndang lebokno kono Ko!!!”

 

Dari Penulis.

24 Sep

Assalamualaikum…

Sebelumnya, penulis berterima kasih kepada semua yang selama ini mengikuti update SurabayaStory, lebih-lebih yang merasa terhibur melalui info-info ringan seputar kota kita tercinta ini. Sebagai warga kota biasa, penulis hanya mencoba untuk berbagi hal yang menurut penulis juga akan menarik bagi orang lain, khususnya pendatang baru atau orang yang ingin mengenal Surabaya lebih dalam.

Namun berhubung penulis juga memiliki kewajiban meneruskan studi di luar kota, mulai saat ini update akan sedikit berkurang frekuensinya. Tapi penulis usahakan untuk menerbitkan tiga artikel sekaligus tiap update, baik itu dari BadhoganStory, DagelanStory, maupun LokasiStory. Bagi yang ingin merekomendasikan info untuk diterbitkan, penulis akan dengan senang hati menerima dan mempertimbangkan 😀

Kini, penulis mohon doanya untuk kelancaran studi penulis di kota Yogyakarta hingga usai, semoga penulis tetap bisa berkarya sebagai duta kecil-kecilan bagi Surabaya. Salam!

DagelanStory: Vacuum Cleaner.

11 Agu

Mbah Kliwon punya rumah baru, sebagaimana layaknya warga baru di kampung, tetangganya pun banyak berdatangan untuk silaturahim, tak terkecuali sales barang-barang rumah tangga. Suatu pagi Mbah Kliwon dihampiri oleh seorang sales yang rupanya menawarkan sebuah vacuum cleaner.
“Assalamualaikum…sugeng enjing mbah, kula saking toko Sudi Mampir arep nawarke barang apik”

“Waalaikumsalam, hmmm…barang opo mas?” Jawab Mbah Kliwon sambil melinting rokok klobot kesayangannya.

“Niki mbah, sampeyan lak duwe omah anyar toh, lek sampeyan duwe barang iki dijamin ngresiki omah dadi enteng, barang iki jenenge vacuum cleaner mbah! Karo alat iki, mbah mboten usah soro-soro nyapu maneh!” Sang sales mengeluarkan jurus andalannya, sebuah vacuum cleaner pun dikeluarkan beserta sebendel buku katalog. Sepuluh menit pun berlalu seiring sang sales yang nggedhabrus ngalor-ngidul.

“Halah, gak percoyo aku, wis talah mas, mending yo nyapu omah dewe…” Mbah Kliwon makin asyik menyedot rokoknya.

Deloken yo mbah” Sang sales mengeluarkan sebungkus tas kresek dari kopernya. Inilah jurus pamungkas yang diajarkan oleh sang manajer untuk menghadapi konsumen ndableg.

“Kresek iki mbah, isine telek wedus, iki taksebar nang ubin e sampeyan, misale alatku iki mboten saget ngresiki, tak untale siji-siji!” Sang salesman merasa di atas angin, disebarnya kotoran kambing yang kecil-kecil nggilani itu di atas lantai teras Mbah Kliwon.
Dengan santai, Mbah Kliwon menjawab, “Mas, peno nguntale njaluk didulit saos opo kecap?”

“Lho, opo’o mbah?”
“Omahku lho gak ono listrike”

Surabaya

22 Jul

Kota kedua terbesar di Indonesia ini memiliki tempat khusus di hati penulis, bukan hanya karena di tempat ini penulis dilahirkan, namun karena adanya sebuah potensi luar biasa yang dimiliki oleh kota ini dalam menjadi sebuah metropolitan yang hebat. Seperti raksasa yang sedang dalam masa pertumbuhan, kalau boleh dianalogikan, terus bergerak dinamis menuju arus modernisasi.

Satu hal yang penulis cintai pula adalah betapa kota ini tetap memegang ciri khasnya, sebagaimana kota besar lain di Asia, Surabaya dalam pandangan penulis merupakan paduan yang indah antara modern dan tradisional, dan itu makin dipercantik dengan cultural diversity  yang tinggi dari penduduknya.

Banyak yang memprediksi bahwa di masa depan, Surabaya akan sejajar dengan kota penting dunia lainnya seperti Busan maupun Seattle.

Surabaya: Raksasa yang Sedang Tumbuh

Saat ini, Surabaya telah mempersiapkan citranya dalam menjadi kota penting di Asia Tenggara dengan jalan mempercantik penampilannya. Berbagai macam usaha sinergi rakyat dan pemerintah seperti “Surabaya Green and Clean” maupun “Sparkling Surabaya” menjadi salah satu faktor keberhasilan Surabaya dalam memperbaiki citranya. Karakter orang Surabaya yang bonek, termasuk rela melakukan usaha demi kemajuan kotanya, juga turut mengangkat nama Surabaya sehingga mampu go-nasional sebagai “The New Green City”.

Tak sia-sia, tahun ini total Surabaya berhasil memenangi lima penghargaan dalam kompetisi Adipura. Surabaya, yang sepuluh tahun lalu hanyalah dikenal sebagai kota besar yang gersang dan panas, kini dikenal sebagai salah satu kota terindah di Indonesia.

Bahkan mulai tahun lalu, program “Surabaya Berbunga” juga sudah mulai dijalankan. Apabila sinergi ini berlangsung konsisten, jangan heran jika lima tahun lagi predikat Kota Kembang akan hijrah ke Surabaya.

Taman Pelangi, Jalan Ahmad Yani.

Dalam bidang pariwisata, penulis selalu yakin bahwa Surabaya tak kalah dengan Yogyakarta atau bahkan Singapura sekalipun, kita bahkan memiliki potensi yang apabila digali tak kalah besar dibanding kota-kota tersebut. Yang kita butuhkan hanyalah adanya promosi gencar serta kebanggaan dari seluruh elemen masyarakat untuk memelihara keunikan kota ini, karena rasa bangga itulah yang selalu ada di balik kemajuan tiap kota lainnya.

Karena kita adalah duta bagi rumah kita sendiri. Dan kita akan berbangga apabila apabila suatu hari nanti kita melihat Surabaya sebagai ikon kemajuan bangsa ini pula.

Siapa tahu juga suatu hari nanti di Singapura akan ada kawasan hunian prestisius berjuluk “Suroboyone Singapura” yang terinspirasi dari keunikan Surabaya seperti “The Singapore of Surabaya” milik Ciputra Group? 😉

That’s it, Surabaya adalah milik saya, anda, dan kita semua.

Tentang SurabayaStory

22 Jul

Assalamualaikum rek!

Selamat datang di SurabayaStory, sebuah blog dari dan untuk Surabaya. Berawal dari hobi jalan-jalan keliling Surabaya, penulis berusaha untuk membagi catatan kecil tentang hal-hal menarik dari kota pahlawan ini. Penulis berharap blog ini mampu menjadi referensi bagi pembaca yang ingin mengenal hal lain dari kota Surabaya, khususnya dari luar Surabaya.

Selamat membaca, semoga bermanfaat 😀

Penulis