Arsip | LokasiStory RSS feed for this section

House of Sampoerna: Tempat Wisata yang Sempurna.

29 Nov

Baiklah, seharusnya tulisan ini sudah dipost sejak penulis belum pergi ke luar Surabaya untuk urusan studi. Namun tidak ada kata terlambat bagi penulis untuk selalu mengabarkan tempat-tempat menarik di Kota Pahlawan.  Nah, kali ini yang penulis angkat adalah sebuah tempat wisata yang menjadi favorit penulis, yakni House of Sampoerna.

Mungkin namanya masih kalah tenar bila dibandingkan dengan Monumen Kapal Selam ataupun Tugu Pahlawan, secara lokasi pun ia kalah strategis dari Kebun Binatang Surabaya, namun penulis berani menjamin bahwa tempat wisata yang satu ini tidak akan mengecewakan pembaca sekalian.

Megah: Penampakan House of Sampoerna (source: ceritamu.com)

Terletak di kawasan “Surabaya Tua”, kurang lebih 500 meter dari ex-Penjara Kalisosok, keberadaan House of Sampoerna bisa dikatakan bagai berlian di tumpukan kain, mengingat lokasinya yang terselubung di tengah perkampungan warga.

Berdiri kokoh dengan gaya arsitektur kolonial Eropa, House of Sampoerna sejatinya dahulu merupakan sebuah panti asuhan milik Belanda yang akhirnya dibeli oleh keluarga Liem Seng Tee pada 1932 sebagai tempat usaha perdagangan rokoknya. Bangunan House of Sampoerna terdiri dari tiga bagian, yakni museum, kafe dan galeri seni, serta sebuah rumah pribadi milik Putera Sampoerna.

Aura berbeda segera terasa begitu menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tempat ini. Aroma tembakau yang wangi serta semilir angin dari pendingin ruangan segera menyapa, mengajak kita untuk berlama-lama singgah di tempat ini. Untuk beberapa saat ke depan kita akan lupa bahwa kita sedang berada di kawasan utara Surabaya yang panas dan berdebu.

Begitu memasuki area museum, kita akan disambut dengan berbagai macam benda menarik. Contohnya adalah replika warung keluarga Liem Seng Tee, sepeda Liem Seng Tee, serta tungku pemroses tembakau. Semakin ke dalam, kita dapat melihat replika seragam marching band Sampoerna Group dan berbagai macam sampel bungkus rokok dari berbagai belahan dunia.

Yang lebih asyik, di lantai dua kita dapat menyaksikan secara langsung proses pelintingan rokok dalam kecepatan tinggi yang dilakukan sekitar tiga ribu wanita pekerja. Sekedar informasi, dahulunya lokasi pelintingan ini adalah sebuah auditorium teater di mana Charlie Chaplin pernah mampir ke sana dalam rangka kunjungannya ke Surabaya.

Selain museum, House of Sampoerna menawarkan fitur menarik lainnya seperti kafe di mana kita bisa membeli oleh-oleh khas Sampoerna Group bagi keluarga di rumah. Kemudian ada juga galeri seni yang rutin menyelenggarakan pameran, mulai dari pameran tekstil, fotografi, hingga lukisan.

Interior: Inilah isi dari museum House of Sampoerna (source: houseofsampoerna.museum)

Like a boss: Penulis di dalam House of Sampoerna.

House of Sampoerna dapat dibilang merupakan tempat wisata yang sempurna, selain menakjubkan juga ramah di kantong karena kita tidak dipungut sepeserpun untuk menikmati segala fasilitas yang ada. House of Sampoerna juga dikenal sebagai surga bagi fotografer yang ingin mencari nuansa elegan bagi karyanya, bahkan kamar mandinya yang super nyaman pun dapat digunakan bila mau.

Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya telah menggandeng House of Sampoerna dalam proyek Surabaya Heritage Track  yang memungkinkan wisatawan mengelilingi tempat-tempat historis di Surabaya, lagi-lagi secara gratis!

Kerjasama: Bus Surabaya Heritage Track yang siap membawa kita berkeliling Surabaya. (source: houseofsampoerna.museum)

House of Sampoerna siap menyambut pengunjungnya dengan tangan terbuka setiap hari pukul 09.00 pagi hingga 22.00 malam. Saran pembaca, selalu membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) bagi yang ingin mengajak pengunjung berusia di bawah 17 tahun mengingat museum ini adalah museum rokok.

Bagaimana pembaca? siapkah kalian menjalani wisata budaya yang mengesankan di House of Sampoerna? 😀

Menikmati Pagi di Taman Mundu.

20 Agu

Di bulan Ramadan, sebagian dari kita mungkin memutuskan untuk melanjutkan mimpi setelah melaksanakan ibadah sahur, demikian juga dengan penulis yang kebetulan sedang libur panjang. Tapi pagi ini penulis mencoba sesuatu yang beda dengan kembali berjalan-jalan mengitari Kota Pahlawan, kali ini jujukan penulis adalah Taman Mundu.

Bagi warga Surabaya, pastilah tidak asing dengan taman yang terletak tepat di depan Stadion Gelora 10 November ini. Sekitar lima tahun yang lalu, sebelum direnovasi menjadi sebuah taman, tempat ini adalah sebuah lapangan yang kerapkali dijadikan tempat untuk menggelar bazar atau sekedar dijadikan lokasi senam pagi. Kini, setelah revolusi Sparkling Surabaya yang diselenggarakan oleh pemerintah kota, Taman Mundu menjelma menjadi sebuah tempat yang elok di pusat kota Surabaya.

Fasilitas yang ditawarkan taman ini lumayan lengkap: mulai dari tempat bermain bagi anak-anak, trek berbatu untuk area berjalan kaki sambil menikmati pijatan refleksi, serta tempat duduk yang luas. Istimewanya lagi, Taman Mundu juga menjadi salah satu lokasi (selain Taman Bungkul) yang dipilih oleh PDAM Surabaya untuk menjadi spot keran air siap minum, jadi pengunjung yang kebetulan lewat bisa leluasa meminum air dari sana secara gratis.

Berbunga: Salah Satu Sudut di Taman Mundu.

Segar: Keran Air Siap Minum di Taman Mundu.

Taman yang diresmikan pada Juli 2010 oleh mantan wali kota Bambang D.H. ini juga dikenal memukau saat malam tiba, air mancur dan kilauan lampu dalam berbagai macam warna siap memanjakan mata siapa saja yang memandangnya. Sulit dipercaya bahwa di sana dulu pernah terdapat sebuah lapangan yang cenderung tidak terurus, bahkan dulu tidak ada yang terpikirkan untuk memalingkan wajah tiap kali melewatinya.

Taman Mundu adalah salah satu di antara belasan taman-taman kota yang ada di Surabaya, rencananya pemerintah kota masih akan menambah jumlah taman hingga melebihi target 30% Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk kategori kota. Kini Surabaya adalah kota dengan persentase RTH yang cukup tinggi dengan lebih dari 25% dibanding luas wilayah, jauh lebih tinggi dari Jakarta yang hanya memenuhi sekitar 5-6% dari total luas.

Semoga ke depannya Surabaya akan terus menambah jumlah taman kota, sehingga dapat menjadi contoh bagi kota-kota yang lain untuk go green serta menyediakan paru-paru kota yang otomatis bisa membuat warganya nyaman dan sehat dalam menjalani aktivitas.

(source: surabayapost.co.id)

Menimba Wawasan di Perpustakaan C20.

10 Agu

Di bulan puasa, tak jarang orang-orang menemukan hobi baru untuk mengisi waktu luang mereka menjelang berbuka. Nah, bagi anda yang memiliki ketertarikan pada bidang yang berbau sastra ataupun hanya hobi membaca, tak ada salahnya untuk mampir ke perpustakaan yang terletak tak jauh dari kantor Kedutaan Amerika Serikat ini. Terletak di Jalan Dr.Cipto 20, perpustakaan milik pribadi ini dinamai sesuai lokasi berdirinya, yakni C20. Pengelola C20 menyebut perpustakaan ini sebagai ruang publik yang menyediakan berbagai referensi buku fiksi maupun nonfiksi serta audiovisual pilihan untuk disewa atau dibaca di tempat.

Penulis berkesempatan mewawancarai pemilik C20 yakni Ibu Yuli, beliau menyatakan bahwa sebagian besar koleksi yang terdapat di C20 adalah milik pribadi, sisanya adalah sumbangan dari rekan maupun titipan orang lain untuk disewakan. Kini C20 telah mengoleksi lebih dari 4.000 macam buku, baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Tema koleksi bukunya pun beragam, mulai dari sastra, sejarah, sosial budaya, hingga seni lengkap terdapat di sini. Awal mula berdirinya perpustakaan ini pun karena koleksinya yang sudah membeludak.

Tampilan Depan Perpustakaan C20

Bersahabat: Jauh dari Kesan "Angker" Perpustakaan Pada Umumnya.

“Selain itu kami juga mengadakan pemutaran film tiap akhir pekan mulai pukul 6 sore” Tambahnya. Tapi jangan harap menemukan film macam “Suster Keramas” atau “Hantu Jamu Gendong”, karena di sini film yang diputar pun berisi dan tidak sembarangan, umumnya yang diputar adalah film bergenre dokumenter maupun film Indonesia unggulan. Contohnya pada hari Minggu, 14 Agustus 2011, film dokumenter berjudul “Rumah Abu Han” akan ditayangkan di C20, film ini menceritakan  sebuah rumah kuno di Surabaya yang merupakan peninggalan suku Han pada zaman kolonial, beserta makna filosofis yang terkandung dalam arsitekturnya. Cukup layak ditonton sebagai penambah wawasan tentang sejarah kota Surabaya.

Selain itu, di bulan Ramadan ini C20 juga mengadakan agenda diskusi serta buka bersama, lumayan, kita bisa menggali pengetahuan lebih dalam sembari menanti azan magrib dikumandangkan. Salah satu tema diskusinya adalah “Mentawai Tattoo Revival: Tato dan Tradisi” yang diadakan pada Sabtu, 20 Agustus 2011.

Ibu Yuli menambahkan, di sini pengunjung bisa merasakan suasana seperti rumah sendiri, karena C20 didesain senyaman mungkin, lengkap dengan tempat duduk ala kafe di terasnya yang biasa digunakan pengunjung untuk cangkrukan. Memang, perpustakaan ini jauh dari kesan perpustakaan pada umumnya yang serba kaku dan tidak santai, bahkan cenderung colorful serta bersahabat.

Sangat mudah untuk menjadi member C20, untuk mendapatkan keanggotaan yang berlaku selama setahun, pengunjung cukup menunjukkan fotokopi kartu identitas, menyerahkan pasfoto, serta membayar biaya keanggotaan sebesar Rp50.000,00. Setelah itu, anda bebas memilih buku apa saja untuk disewa. (Penulis juga menyempatkan diri untuk mendaftar sebagai member, lalu menyewa sebuah buku sejarah sosial-budaya berjudul “Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe”)

Surga: Bagi Penggila Buku, Waktu Ngabuburit Jadi Tidak Terasa.

Ibu Yuli, Sang Pemilik C20.

Mengapa perpustakaan ini jarang diketahui masyarakat luas? Ibu Yuli punya jawabannya, yakni karena publikasi C20 kebanyakan adalah melalui lisan dan internet, untuk mengakses via internet, C20 menyediakan akun twitter, facebook, maupun website pribadinya. Beliau berharap bahwa dengan publikasi via dunia maya ini, C20 akan makin ramai dikunjungi.

Bagi yang memiliki buku bekas, majalah, maupun DVD yang masih layak guna, C20 juga menerima jasa penitipan jual, penulis juga sempat melihat ada kaus “Grammar Suro Boyo” juga dijual di sini. Bagi yang membutuhkan venue untuk acara khusus seperti pameran maupun sesi foto, C20 dapat pula menjadi pilihan yang tepat.

C20 siap menyambut pengunjung dengan tangan terbuka setiap Senin, Rabu, dan Jumat pukul 10.00 hingga pukul 19.00, serta mulai pukul 11.00 hingga 21.00 pada hari Sabtu dan Minggu.

Berburu Barang Antik di Jalan Bodri.

6 Agu

Anda penggemar barang antik? Atau hanya sekedar ingin cuci mata dengan pemandangan yang baru? Mungkin Pusat Barang Antik di Jalan Bodri bisa menjadi alternatifnya. Jalan yang teletak di belakang Gelora Pancasila ini memang sudah lama terkenal sebagai lokasi utama untuk berburu barang antik, bagi warga Surabaya bahkan dari luar kota sekalipun.

Sedatangnya anda di tempat ini, anda akan disapa oleh barang-barang kuno yang berjejer pada delapan kios yang berbeda. Barang dagangannya pun bervariasi, di sini, anda bisa menikmati berbagai macam koleksi benda antik seperti lampu kuno, terompet kuningan, setrika arang, bahkan gramafon antik yang tidak dapat sembarang ditemui di tempat lain. Dan hebatnya, kebanyakan masih dalam kondisi layak pakai.

Variatif: Kios barang antik yang nampak berjejer di jalan Bodri.

Mas Andi, salah satu pemilik kios mengatakan bahwa benda-benda antik ini umumnya didapat dari warga, khususnya yang tinggal di kawasan elit. Untuk menjual barang-barang antik itu juga tak sembarangan, sebagian bahkan harus dilengkapi surat-surat kepemilikan agar tidak terjadi kecolongan, mengingat barang-barang kuno itu memiliki nilai estetika yang tinggi. Tapi pernah juga ia menemui barang dalam kondisi yang kurang memuaskan, seperti retak di beberapa bagian hingga komponen yang tidak lengkap.

Seandainya saya bawa uang banyak...

Rata-rata kios barang antik di Jalan Bodri ini buka pukul 07.00 pagi hingga pukul 19.00 malam, sehingga memungkinkan pembaca untuk menikmati jalan-jalan pagi sembari melihat-lihat apa saja yang dijual di sana. Harga barangnya pun bervariasi, yang paling murah bisa mencapai Rp30.000,00 hingga yang termahal mencapai puluhan juta rupiah. Salah satu koleksi yang termahal adalah sebuah lampu kuno pemberian seorang warga Darmo Indah, lampu ini berharga Rp20.000.000,00.

Lampu ini harganya 20 juta rupiah, tertarik?

Kalau yang ini rata-rata 30 ribu rupiah, cukup murah untuk ukuran barang antik.

Cukup mudah untuk mengakses kawasan ini, anda bisa mengaksesnya melalui jalan Padmosusastro apabila datang dari arah Mayjend Sungkono, atau bisa juga melalui jalan Dr.Soetomo apabila anda datang dari arah Darmo. Asal tahu Gelora Pancasila, penulis jamin pembaca tidak akan tersesat.

Bagaimana? Apakah anda mulai terpikir untuk untuk memulai hobi baru mengumpulkan benda antik? Pastikan Kawasan Wisata Barang Antik di Jalan Bodri menjadi pilihan utama anda!

 

Toko Lawang Agung, Pusat Kurma Terlengkap di Indonesia.

31 Jul

Bulan suci Ramadan telah menanti di depan mata, sudah menjadi pemandangan umum apabila kaum muslim Indonesia—khususnya di kota tercinta ini—ramai-ramai berburu sesuatu untuk dijadikan kudapan spesial, baik untuk berbuka maupun sahur. Di antara makanan tersebut, kurma adalah salah satu yang lazim ditemui. Buah yang tumbuh di kawasan gurun ini memang identik dengan bulan Ramadan karena memang konsumsi buah satu ini lumayan dianjurkan oleh agama. Selain itu, kurma juga terbukti secara klinis ideal sebagai asupan energi saat menjalani puasa.

Di antara toko maupun supermarket yang menjual kurma, ada sebuah pusat penjualan kurma di Surabaya yang mengklaim diri sebagai yang terlengkap di Indonesia, yaitu toko Lawang Agung. Terletak di daerah kampung Arab Ampel, tepatnya di Jalan Nyamplungan 75 Surabaya, toko ini bagaikan surga bagi mereka yang ingin berburu kurma untuk takjil maupun hanya ingin sekedar menjelajahi variasi buah asal jazirah Arab ini.

Di toko yang telah berdiri sejak tahun 1950-an ini, pembaca bisa menemui berbagai macam jenis kurma, bahkan ada lebih dari dua puluh jenis apabila stok sedang penuh. Mulai dari kurma asal Mesir yang ekonomis, kurma Tunisia yang legit dengan aftertaste  yang khas, hingga kurma Ajwa yang hitam manis dan konon bibitnya ditanam langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

Harganya pun bervariasi, berkisar sekitar 15 ribu rupiah perkilo hingga ratusan ribu rupiah untuk yang paling mahal. Yang paling mahal biasanya berjenis ruthab atau setengah matang karena lebih lezat dan empuk. Penulis lalu membeli sekilo kurma Mesir seharga 20 ribu rupiah. Tapi harga ini juga bervariasi, tergantung dari tingginya permintaan pula, umumnya harga kurma melonjak menjelang hingga pertengahan Ramadan karena saat itulah kurma paling banyak dicari.

Selain menjual buah kurma, Toko Lawang Agung juga menjual berbagai macam produk berbau Arab lainnya seperti air zam-zam, madu yaman, hingga makanan khas Arab yang sudah dibekukan macam kebab atau sambosa. Hiasan bernuansa khas juga dapat ditemukan di sini, seperti teko dan gelas untuk menyajikan air zam-zam.

Tampilan Depan Toko Lawang Agung (source: tokolawangagung.blogspot.com)

Bagi yang ingin memelihara kesehatan, Toko Lawang Agung juga dikenal memiliki koleksi obat herbal alamiah yang diramu berdasarkan cara islami semacam kapsul habbatussauda (jintan hitam) yang berkhasiat mengobati berbagai macam penyakit seperti hipertensi, gangguan ginjal, hingga mencagah timbulnya kanker.

“Sesungguhnya di dalam Habbatussauda terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit, kecuali kematian” {Shohih HR Bukhori, no. 5688; Fathul Baari, X/143; dan Muslim, no. 2215, source: nurusy-syifa.com}

Akhirnya penulis juga membeli sekotak kebab beku, total ganti rugi yang harus dibayar adalah Rp35.000 untuk sekotak berisi sepuluh kebab, cukup hemat dibandingkan membeli per satuan yang bisa jadi  mahal.

Air Zam-Zam, Teko, Serta Gelas Minumnya. Semua Ada di Lawang Agung.

Kurma Mesir yang Penulis Beli dari Toko Lawang Agung. Siap Tempur!

Tentu saja Lawang Agung bisa menjadi solusi bagi pembaca yang selama ini mencari pusat penjualan kurma yang lengkap dan dapat dipercaya. Sembari kita menambah wawasan dengan berziarah ke situs religi Ampel, apa salahnya kita mencoba toko yang satu ini. Tunggu apa lagi, selamat berburu kurma di Toko Lawang Agung!

Kenjeran, Menggali Kembali Mutiara yang Terpendam.

27 Jul

Setelah pembangunan jembatan Suramadu rampung, kawasan pesisir adalah sektor yang saat ini paling disorot perkembangannya. Diantaranya tersebut sebuah nama yakni tempat wisata Pantai Kenjeran. Nama yang satu ini memang rajin nampang bahkan di brosur-brosur pariwisata Surabaya sebagai tempat wisata unggulan.

Sebersit pikiran selalu terlintas di benak tiap kali melihat nama Kenjeran dipromosikan sebagai tempat wisata andalan kota Surabaya, apakah kawasan ini sudah siap bersaing dengan tempat wisata bahari lainnya? Mengingat dari segi pengelolaan, keindahan, maupun kebersihan Kenjeran masih kalah jauh dengan Losari di Makassar, Ancol di Jakarta, apalagi Kuta di Bali yang sudah mendunia. Masih malu rasanya untuk memamerkan Kenjeran milik kota ini yang masih belum siap.

Pernahkah pembaca mendengar ungkapan: “No surfing at Kenjeran Beach! Bukannya apa, selain nggak ada ombak airnya keruh dan kotor!” yang dipopulerkan oleh Cakcuk, sebuah distro lokal Surabaya? Mungkin itu sudah cukup bisa menggambarkan pandangan warga Surabaya mengenai pantai kebanggaannya ini. Pantai yang lokasinya tak jauh dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) ini saat ini memang dikenal sebagai tempat wisata yang kurang memiliki nilai plus. Bahkan sebagian orang Surabaya pun memiliki ungkapan “Malam mingguan di Kenjeran” sebagai olok-olok karena Kenjeran belakangan ditengarai sebagai lokasi favorit pasangan mesum.

Sekitar 15-20 tahun yang lalu, (katanya) pamor Kenjeran sebagai tempat wisata sempat jauh lebih ciamik dari saat ini. Masuk akal juga, karena bangunan-bangunan yang ada di kompleks wisata Kenjeran sejatinya terlihat megah, hanya saja tidak terawat, menyiratkan kesan angker dan pengap.

Salah satu dari bangunan yang tidak terawat itu adalah bekas kolam pancing yang terletak kira-kira 500 meter dari akses utama menuju Kenpark. Tempat ini menurut penulis lebih layak dijadikan arena uji nyali ketimbang kolam pancing. Besi tua bertebaran di sekitar gerbangnya, belum lagi tumbuhan liar yang merajalela di sana-sini. Sejauh yang penulis tahu, kini bekas kolam pancing ini digunakan bermain bola tiap sore oleh anak-anak penduduk sekitar.

Kolam Pancing Pantai Ria: Untung Belum Didatangi Kru Dunia Lain.

Selain di Kebun Binatang Surabaya dan di Monkasel, Ada yang Pernah Lihat Patung Suro-Boyo di Sini?

Namun saat ini Kenjeran tidak sepenuhnya mati suri, sebagaimana kawasan utara Surabaya lainnya mulai berbenah diri. Saat penulis berkunjung kembali, terlihat akses menuju Kenjeran Park (Kenpark) sedang mengalami perbaikan. Tempat wisata yang berisikan arena balap kuda, pusat kebugaran jasmani, maupun kolam renang ini sepertinya sedang menyadari potensinya untuk menjadi tempat wisata yang benar-benar dapat dibanggakan oleh masyarakat Surabaya lebih-lebih Jawa Timur.

Gerbang masuk yang dahulu terkesan garing dan jadul kini dipercantik dengan warna jambon ngejreng yang dijamin bakalan menarik tiap mata yang melintasinya. Melihatnya, otak penulis membayangkan bahwa tempat ini nantinya akan se-ngetop Taman Impian Jaya Ancol (bermimpi itu gratis!)

Lebih Mengundang: Gerbang Kenpark yang Baru.

Semoga Suatu Hari Kenjeran Bisa Seramai Ini. (source: wartakotalive.com)

Semangat Pak: Pekerja Sedang Membenahi Akses Menuju Kenpark.

Lain Kenpark, lain pula Pantai Kenjeran Baru. Tempat wisata yang terletak di Jalan Sukolilo 100 ini lebih menonjolkan kapasitasnya sebagai wahana wisata budaya, tempat ini dikenal sangat kental dengan nuansa Tiongkok. Karena di sini memang banyak sekali bangunan berarsitektur Tionghoa, mulai dari patung Dewi Kwan Im yang telah mencetak rekor MURI hingga Pagoda Tian Ti yang berdiri kokoh hingga terlihat dari jembatan Suramadu. Sebuah seaside restaurant yang penuh lampion juga dapat ditemui di sini, seakan menggantikan posisi Kya-Kya Kembang Jepun yang belakangan sudah ditutup dan menyisakan gerbangnya saja.

Kenjeran Baru juga terkenal sebagai surga foto bagi para pemburu gambar baik pemula maupun profesional. Tak perlu mencari spot ke luar negeri untuk mendapatkan gambar nan eksotis khas negeri Asia Timur, cukup datang ke Kenjeran dan akan sulit bagi orang awam untuk membedakan mana negeri Tirai Bambu yang asli dan mana yang KW Super. Sangat dianjurkan bagi calon pengantin baru maupun bagi siswa-siswi SMA yang mencari lokasi foto keren.

Pagoda Tian Ti (source: Surabayapost.co.id)

Satu lagi yang tak dapat dipisahkan dari Kenjeran adalah potensi hasil lautnya. Ketika penulis datang ke Kenjeran, semerbak aroma yang unforgettable pun datang menyapa, wangi hasil laut Indonesia yang begitu kaya, dengan semerbak yang masih terkenang saat mengunjungi Kenjeran untuk kali pertama. Di sekitar kawasan pantai Kenjeran, banyak sekali pedagang hasil laut yang tergabung dalam suatu sentra perdagangan. Namun lokasi ini seakan tak terjamah oleh masyarakat Surabaya, letaknya terselubung di antara pemukiman warga yang kumuh dan terasa asing bahkan bagi penulis yang merupakan warga Surabaya.

Sebenarnya, tempat wisata Pantai Kenjeran Baru dan Lama, Kenpark, serta Sentra Perdagangan Hasil Laut di kawasan Sukolilo ini merupakan sebuah kombinasi yang dahsyat sebagai suatu wahana wisata bahari apabila diintegrasikan dengan sempurna oleh pihak pengelola. Menurut penulis, hal pertama yang harus dibenahi adalah kebersihan serta keindahannya. Karena bagaimana juga, kesan pertama yang menjanjikan adalah syarat mutlak bagi suatu tempat wisata untuk bangkit dan mampu bersaing. Apabila syarat yang satu itu terpenuhi, maka akan mudah untuk ke depannya memajukan Kenjeran serta memakmurkan warganya. Jangan lupa bahwa sektor bahari merupakan salah satu sendi utama bangsa ini.

Penulis memutuskan berhenti sejenak di sebuah kios yang menjual berbagai macam keripik hasil laut. Seorang pemiliknya yang bernama Mas Ayi mengatakan bahwa usaha penjualan hasil laut ini sebenarnya cukup ramai, apalagi menjelang bulan Ramadan serta Idul Fitri.

Penulis memilih untuk membeli satu ons keripik terung untuk dibawa pulang. Harganya cukup terjangkau, yakni cukup 15 ribu dibandingkan harga pasaran yang berkisar hingga 18 ribu untuk berat yang sama. Tentu saja ini karena minus biaya distribusi, jadi dijamin produk yang dijual fresh from the oven ocean.

Menggiurkan: Hasil Laut Berupa Keripik yang Siap Dijual.

Murah: Langsung Dipanen dari Nelayan.

Tak jauh dari kios, bibir pantai sudah terlihat. Sembari membayangkan nikmatnya makan kekayaan hasil laut negeri sendiri, penulis sempat merenung akan masa depan pantai ini sambil melempar pandangan jauh ke tengah laut. Masyarakatnya yang pantang menyerah serta murah senyum, potensi wisatanya yang luar biasa, serta kekayaan alamnya yang hebat, sekali lagi meyakinkan penulis bahwa tidak ada alasan untuk tidak mencintai kota ini. Dan penulis yakin, suatu saat Kenjeran akan kembali menemui masa keemasannya yang jauh lebih indah.

Kramat Gantung, Saksi Eksistensi Keraton di Surabaya

24 Jul

Coba tanyakan kepada warga Surabaya yang telah berdiam lama di kota ini: manakah pusat penjualan karpet, gabus, serta bahan pembuat sepatu? Sebagian besar pasti akan menjawab Jalan Kramat Gantung. Memang, sekilas nama ini akan mengingatkan kita kepada kawasan Kramat Gantung di Jakarta (yang merupakan daerah prostitusi) sebab jalan ini letaknya tidak berada di daerah yang banyak dijangkau orang seperti jalan Ahmad Yani ataupun jalan Pemuda.

Menurut pengamatan penulis, jalan Kramat Gantung adalah “penghubung” antara Surabaya Tua dan Surabaya Modern. Karena apabila kita bepergian dari arah jalan Pasar Besar (representasi Surabaya Tua) dan melewati jalan ini, kita akan keluar menuju  jalan Gemblongan yang sudah benar-benar beda suasananya.

Sebuah Gang di Kawasan Surabaya Tua

Jalan Gemblongan, di Sini Atmosfernya Sudah Berbeda.

Siapa tahu, di balik nama Kramat Gantung terselip sebuah sejarah yang menarik tentang Surabaya. Ternyata dahulu di kawasan inilah terkonsentrasi Kadipaten Surabaya, yang merupakan cabang dari Keraton Mataraman. Makanya, di sini banyak sekali gang bernama “Kraton” yang menghubungkan jalan Kramat Gantung dan Baliwerti. Dan apabila pembaca mau melihat-lihat, akan ada banyak gapura gang bercirikan tempo dulu nan eksotis.

Ada dua versi asal-usul nama Kramat Gantung yang saya dapatkan, yang pertama mengatakan bahwa nama ini berasal dari masa kolonial, yakni ketika tempat ini kerap menjadi lokasi penggantungan warga pribumi yang membangkang terhadap pemerintah Belanda; versi kedua menyatakan bahwa asal namanya adalah dari kisah seorang prajurit sakti dari daerah itu yang hanya bisa mati dengan cara dihukum gantung. Yang mana saja versi yang benar, keduanya menggambarkan bahwa sejarah yang cukup pilu turut pula mengiringi perkembangan jalan Kramat Gantung.

Morfologi jalan ini begitu khas menurut saya, cukup lebar dan penuh dengan pertokoan tua di sekitarnya, dipermanis dengan gang-gang kecil yang menambah nilai nostalgia ketika melintasi jalan ini. Hanya saja terkadang ramai oleh mobil angkutan yang membongkar muat bahan-bahan dagangan seperti plastik dan karpet. Namun tetap saja keramaian itu berbeda dengan yang saya rasakan di sudut-sudut kota Surabaya lainnya.

Seorang Pria Menikmati Koran Paginya di Pinggiran Jalan Kramat Gantung.

Siapa Sangka, Jalan yang Tenang Ini Pernah Jadi Saksi Bisu Digantungnya Arek-Arek Suroboyo pada masa penjajahan Belanda.

Meskipun keren, namun jalan Kramat Gantung ini seakan kurang populer sebagai spot pengambilan gambar bagi para fotografer. Bagi yang ingin berkunjung, sebaiknya datanglah sebelum pukul 08.00 WIB untuk mendapatkan spot yang sepi dan untuk mendapatkan gambar aktivitas pagi warganya. Jangan khawatir bagi yang belum sempat sarapan, jalan ini juga dekat dengan kawasan China Town (Jagalan dan sekitarnya) serta Kampung Arab yang terkenal sebagai gudangnya kudapan bernuansa impor.

Tambak Bayan, Kampung Tua di Tengah Sengketa.

23 Jul

Pagi itu sejatinya penulis ingin meliput tentang House of Sampoerna, namun ketika melewati sebuah kampung, penulis terhenyak dengan adanya sebuah spanduk bernada menyentil.

Protes: Memasang Spanduk Sebagai Ungkapan Kekesalan Warga

Ya, spanduk itu rupanya terletak tak jauh dari akses keluar sebuah hotel berbintang yang ada di kawasan tersebut. Penasaran apa gerangan maksud dari spanduk tersebut, penulis mendatangi warga setempat dan bertanya.

Seorang pengayuh becak setempat bernama Pak Alex mengungkapkan, spanduk itu adalah ungkapan kekesalan warga terhadap satu pihak pengusaha yang lima tahun lalu mengakuisisi lahan hunian mereka untuk dijadikan sebuah hotel. Pihak pengusaha telah mengklaim memberikan uang ganti rugi atas penggusuran tanah rumah warga setempat, namun warga mengatakan bahwa itu hanyalah bohong semata.

“Spanduk itu ya gara-gara warga sini jengkel mas” Tutur Pak Alex dengan raut muka jengkel, tukang becak yang telah 25 tahun mengabdi di kampung ini pun menambahkan, bahwa hingga saat ini proses ganti rugi belum beres sama sekali.

Lalu, apa hubungannya dengan hotel mesum? Usut punya usut, sang pengusaha ini rupanya terkenal memiliki reputasi sebagai pemilik hotel yang dianggap bermasalah. Diperkuat lagi dengan fakta bahwa hotel yang dibangunnya kali ini berada di kawasan yang cenderung sulit diakses oleh orang awam.

Kemelut menarik itu membuat penulis menginjakkan kaki lebih lama di kampung yang adem ayem ini. Ya, kampung ini bernama Tambak Bayan, sebuah kawasan perkampungan kecil yang terletak di daerah China Town ini memang sudah legendaris. Warga setempat mengatakan bahwa warga asli Tambak Bayan adalah generasi ketiga dari imigran Tiongkok asal daerah Guangdong (Canton). Dulu di kampung ini pernah berdiri sebuah kampus universitas swasta yakni UPN Veteran, namun kini bangunan tersebut sudah diganti dengan hotel yang penulis maksud di atas.

Saat ini, warga Tambak Bayan sedang bergelut dengan arus modernisasi yang mereka sebut sebagai “Tsunami” yang mereka nilai mampu menghilangkan kultur asli warga Tambak Bayan. Sengketa yang terjadi inilah yang menjadi faktor utama bagi mereka, warga sangat takut akan kehilangan lahan tinggal yang nantinya otomatis akan berdampak langsung pada kehangatan komunikasi mereka: kehangatan autentik khas perkampungan Surabaya. Betapa tidak, dari kasus sengketa tanah dengan pihak hotel ini, kurang lebih 10 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.

Untunglah warga Tambak Bayan juga merupakan sekumpulan orang-orang kreatif, komunitas seniman yang mereka namakan “Refugees of Future City” ini mengangkat protes atas pengambilan lahan ini dengan jalan membuat mural pada dinding-dinding tempat tinggal yang tersisa, kebanyakan berciri Tiongkok, khas warga asli kampung Tambak Bayan. Selain itu mural dengan tema-tema sosial juga mereka goreskan sebagai cermin dari aspirasi mereka, mereka berharap bahwa mural-mural itu mampu menjembatani keinginan mereka dalam menjalani hidup yang tentram sebagai satu kampung di masa depan. “Tanah mungkin dimiliki developer, tapi tembok itu akan digunakan untuk kehidupan sehari-hari penduduknya” tulis mereka pada sebuah spanduk oranye.

Warga VS Developer: Pemukiman Warga dengan Hotel di Belakangnya.

"Kami Tentram di Sini!": Mural Sebagai Penyambung Lidah.

Sebagian warga rupanya agak canggung dengan kehadiran penulis, sehingga penulis tidak sempat mengambil terlalu banyak gambar. Namun wawancara singkat dengan Pak Alex benar-benar membuka pikiran, betapa ada selembar sisi lain yang patut dikuak dari sebuah kota Metropolitan. Tanpa menghiraukan aspirasi serta ketentraman warga kecil seperti mereka, modernisasi selamanya hanya akan dianggap sebagai tsunami. Masih banyak saudara di sekitar kita yang rupanya membutuhkan perhatian dari petinggi-petinggi rakyat, karena bagaimana juga, mereka dan kampung tua ini adalah saksi sejarah dari bangkitnya Surabaya yang kita tinggali saat ini.

Tunjungan Siap Bangkit Kembali?

22 Jul

“Rek ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan…”

Sepotong lirik lagu karangan Cak Mus Mulyadi itu seakan sudah jadi lagu wajib bagi orang Surabaya, bahkan telah menjadi ikon identitas kota Surabaya itu sendiri. Tiap ada liputan berita mengenai Surabaya di televisi mana saja, kemungkinan besar lagu inilah yang akan diputar sebagai backsound.

Kawasan Tunjungan merupakan spot penting apabila kita mau menyebut tentang kota Surabaya, bahkan Hotel Majapahit yang tersohor itu pun terletak di kawasan ini.

Namun belakangan kawasan ini sedikit merana, bangunan-bangunan dibiarkan mangkrak tak berpenghuni, toko-toko legendaris yang dulu mewarnai hari para warganya pun sebagian gulung tikar. Penulis masih ingat waktu dulu diajak berbelanja di toko Sari Agung (sebelah TEC) sekitar akhir periode 90an bersama keluarga, namun kini yang tersisa hanyalah sebuah blok yang tertutup pintu besi, dan sebuah tulisan petunjuk parkir pada pilar di depannya, yang menunjukkan bahwa dulu pernah ada sebuah toko yang bernama Sari Agung. Patut disayangkan, apalagi setelah mendengar cerita orang tua bahwa toko itu dahulu merupakan jujukan utama pelajar Surabaya ketika ingin membeli perlengkapan sekolah.

Spot Mangkrak di Tunjungan: Harusnya Bisa Lebih Baik Lagi

Belum lagi kawasan Jalan Tanjung Anom (dekat SMPN 4 Surabaya) yang tak terawat, tempat ini bahkan terlihat tak ramah bagi pengunjung karena suasananya yang sepi dan gelap bahkan pada siang hari pun. Penulis masih ingat bahwa di sana dulu merupakan gudangnya alat-alat elektronik macam radio maupun televisi. Sayang kini tidak mencerminkan hal yang demikian karena kondisinya becek, lebih mirip pasar. Sehingga kini orang-orang hanya akan terlintas Tunjungan Plaza di benak mereka apabila disodori nama “Tunjungan” ketimbang tempat-tempat macam Siola atau Toko Nam.

Padahal apabila diberi perhatian khusus, Tunjungan mampu bangkit lagi menjadi kompleks perdagangan yang berkualitas di Indonesia. Berbagai macam barang dagangan mulai dari modern hingga asli Indonesia tersaji lengkap, membentang sepanjang jalan yang menghubungkan Jalan Embong Malang serta Jalan Gemblongan ini.
Upaya revitalisasi kawasan ini pun timbul kembali, Tunjungan City, itulah proyek visioner yang dicanangkan Pemkot Surabaya dalam rangka membangkitkan kembali Tunjungan sebagai Central Business District (CBD) Surabaya yang dahulu sempat menikmati masa keemasannya pada periode 80an. Proyek yang dikabarkan menghabiskan dana 20 miliar rupiah inilah yang diharapkan mampu mengembalikan animo masyarakat dalam berkunjung ke Tunjungan, serta sebagai sarana promosi bagi Surabaya sendiri.

Sejenak patut kita menengok ke proyek renovasi bangunan Siola. Gedung yang dahulunya bernama White Laidlaw ini kini sedang ada dalam tahap penyelesaian akhir. Cat berwarna krem nan anggun kini membalut tampilan luar gedung yang pernah dijadikan pusat perbelanjaan oleh Ramayana Group ini. Sedangkan interiornya kini dalam tahap penyelesaian akhir, nuansa putih yang indah serta pengaktifan kembali eskalator gedungnya dapat kita lihat dari luar gedung sembari menikmati suasana di jalan Tunjungan. Rencananya, gedung ini akan diisi dengan berbagai macam pusat perbelanjaan seperti department store ataupun pusat hiburan keluarga. Bahkan akan ada wacana untuk mengintegrasikan bangunan cagar budaya ini dengan hotel berbintang.

Tampak Depan Proyek Gedung Tunjungan City dari Jalan Praban.

Potensial: Keramaian Saat Masa Jayanya Sempat Mengingatkan Pada Kawasan Perbelanjaan di Hongkong

Penulis berharap semoga proyek ini dapat berjalan tepat sasaran serta didukung oleh berbagai pihak termasuk warga kota Surabaya. Penulis juga memimpikan suatu hari nanti, wisatawan asing akan menjadikan Tunjungan sebagai shopping centre yang mendunia.

Teruslah berbenah, Tunjungan, kami tak sabar menantikanmu bangkit lagi sebagai ikon pariwisata Surabaya!