Arsip | DagelanStory RSS feed for this section

DagelanStory: Rebung.

3 Sep

Mr.Black, seorang bule asal Inggris, kemarin datang ke Surabaya untuk homestay di rumah Mas Joko di daerah Wonocolo. Suatu sore, istri Mas Joko, Mbak Supiyah, menyajikan sebuah masakan yang terlihat asing buat  Mr.Black.

“Wahh…ini apa namanya Mbak Supiyah?” kata Mr.Black dengan logat British yang medok saat melihat Mbak Supiyah menuangkan sesendok besar sayur ke mangkuknya.

“Itu namanya gulai mister, monggo coba deh!” Sahut Mas Joko sambil menikmati sepiring nasinya.

Mr.Black pun menyuap sesendok gulai tersebut, matanya terbelalak seakan belum pernah memakan makanan enak sebelumnya.

“Wuaaaahh, ini enak sekali! Apalagi yang ini, renyah banget!” kata Mr.Black sambil menunjuk sepotong benda asing di mangkuknya.

“Itu namanya rebung, mister Black! Itu dari tumbuhan bambu yang masih belum dewasa.” Mbak Supiyah menjelaskan kepada Mr.Black dengan bangga.

“Negara Indonesia hebat sekali! Bahkan tumbuhan yang masih mentah aja udah seenak ini, gimana yang udah matang ya?”

DagelanStory: Mimpi

5 Agu

Cak Wakiran punya anak bernama Karmin, suatu hari sang anak bermimpi buruk dan menceritakannya pada Cak Wakiran.

Paaaakkk, aku mimpi mbah kakung sedo…” Kata Karmin sesenggukan

Wis talah nak, iki mung mek mimpi, gak mesti kedaden tenanan!” Cak Wakiran berusaha menenangkan anaknya.

Besoknya, ada telepon dari Tulungagung, menyebutkan bahwa ayah Cak Wakiran wafat karena serangan jantung mendadak. Namun belum kering air mata Cak Wakiran, tiba-tiba Karmin berlari ke luar rumah sambil kembali menangis.

“Paaaaak, saiki aku mimpi mbah putri sedo paaaaakkk….hiks hiks”

Wis ta nak ojo mimpi sing aneh-aneh! Durung karuan temenan iku, wis saiki turuo maneh, gak opo-opo gak!” Kata Cak Wakiran setengah marah.

Besoknya, kembali ada telepon dari kerabatnya yang menyebutkan bahwa ibu Cak Wakiran meninggal karena gegar otak setelah terpeleset di kamar mandi.

Pada saat peringatan tujuh hari kematian orang tua Cak Wakiran, Karmin kembali bermimpi buruk, kali ini tangisnya makin keras. Ia pun keluar sambil memeluk Cak Wakiran.

Lho le, opoo kok awakmu nangis maneh? Mimpi opo maneh awakmu?”

“Aku mimpi bapak sing sedo saiki!”

“Halah gak usah percoyo mimpi ta lah nak! Sesuk bapak gakpopo gak!” Ujar Cak Wakiran menenangkan anaknya.

Meski begitu, malamnya Cak Wakiran tidak bisa tidur. Ia takut kalau mimpi anaknya menjadi kenyataan.  Namun ia berusaha untuk pasrah dan memberanikan dirinya untuk tidur…

Esoknya, Cak Wakiran bangun dalam keadaan sehat walafiat.

“Alhamdulillah ya Allah! Awakku isih urip!” Kata Cak Wakiran sambil meraba-raba mukanya sendiri, meyakinkan diri kalau dia masih hidup.

Tapi dari luar terdengar giliran istri Cak Wakiran yang menangis sesenggukan, perlahan Cak Wakiran melangkah ke luar untuk menanyai istrinya.

“Lho buk, ono opo kok sampeyan nangis gero-gero ngene?”

Huaaaa…bakul bakwan langgananku matek pak eeeee…..huaaaaa”

DagelanStory: Memancing

3 Agu

Cak Paidi punya kebiasaan baru, sore hari setelah hujan deras, ia mengambil alat pancing lalu pergi memancing di got depan rumahnya. Sambil berjongkok dan mengisap rokok kretek kesayangannya, orang-orang yang lewat pastilah akan melihatnya.

Ada yang kasihan, ada yang tertawa, tak jarang pula ada yang takut karena mengira Cak Paidi orang gila.

Tak lama seorang kawan bernama Cak Kliwon lewat. Dia tidak tega melihat temannya sendiri menderita sampai-sampai harus memancing di got depan rumahnya.

“Cak Paidi, kesini! ayo taktraktir mangan sego sambel nang warung Mbok Ponirah!”

Awalnya Cak Paidi malu-malu, namun karena desakan dari Cak Kliwon akhirnya hatinya luluh juga. Kemudian, mereka berdua pun duduk di sebuah warung.

Sampeyan ambil lauk apa aja deh, jangan sungkan-sungkan!” Kata Cak Kliwon.

Cak Kliwon makan dengan lahapnya, total tiga piring nasi dihabiskannya. Setelah membayar semuanya, Cak Kliwon mengajaknya ngobrol.

“Di, sampeyan itu selama ini mancing di got kecil depan rumah itu apa pernah dapet ikan?”

“Ya dapat lah! Lek gak entuk lapo takbelan-belani ndodhok sarungan berjam-jam.” Jawab Cak Paidi sambil mengisap rokok.

Mosok seh? Wis oleh iwak piro sampe saiki?”

Awakmu sing kelimo…”

 

DagelanStory: Minimarket

3 Agu

Pakde Paijo pergi ke minimarket baru di dekat rumahnya, suatu malam ia berkunjung untuk membeli makanan kucing.

“Mas, tuku iki yo” Pakde Paijo menyodorkan sekaleng makanan kucing kepada kasir.

“Mbah, sampeyan lek arepe tuku pakan kucing iki, sampeyan kudu mbuktekno lek duwe kucing. Wedine lek adakno sampeyan gak duwe terus ndilalah dipangan dewe panganane.” Jawab kasir sekenanya.

Pakde Paijo tidak kebanyakan protes, pulanglah ia ke rumah dan lalu kembali sambil menggendong seekor kucing.

Nyoh, ini lho mas kucing saya” Diletakkannya kucing itu di meja kasir. Dibayarlah sekaleng makanan kucing tersebut.

Besoknya, Pakde Paijo kembali ke minimarket untuk membeli biskuit tulang buat anjingnya. Tepat saat akan membayar, si kasir kembali menanyakan hal yang sama.

“Mbah, sampeyan nduwe asu mboten? Aku kuatire lek biskuit balung iki sampeyan pangan dewe” kata si kasir.

Pakde Paijo pulang lagi tanpa banyak bicara, ia kembali ke minimarket sambil menuntun seekor anjing herder.

“Ini lho mas anjing saya” Kata Pakde Paijo sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan.

Besoknya lagi, Pakde Paijo kembali ke minimarket sambil menenteng sebuah kardus bekas Indomie yang diberi lubang kecil di bagian sampingnya.

“Mbah, sampeyan arep tuku panganan gawe ulo ta?” Kata si kasir setengah heran.

“Ini isinya bukan ular mas, sampeyan jajal lebokno drijine sampeyan dewe ta lak gak nyokot.” Jawab Pakde Paijo dengan tenang.

Awalnya petugas kasir itu agak takut memasukkan jarinya, namun setelah dibujuk, ia memberanikan diri memasukkan jarinya ke lubang itu.

Ternyata kotak itu berisi sesuatu yang lunak, ketika si kasir mencabut jarinya ia mencium bau yang sangat tidak enak. Kasir tersebut misuh-misuh tidak karuan.

“Kurang ajar! Semprul! Sampeyan ngelebokno opo iku nang kotak Indomine sampeyan lha kok drijiku ambune gak wenak ngene??”

Yaopo mas, saiki aku wis oleh durung tuku tissue WC?”

DagelanStory: Kentut

25 Jul

Ada seorang wanita bernama Tumini yang mengeluh punya masalah dengan kentutnya yang tidak terkontrol, ia pun pergi ke puskesmas untuk menemui seorang dokter.

Tumini: “Nuwun sewu pak dokter…”

Dokter: “Ya?”

Tumini: “Ini lho pak, saya udah seminggu ini bermasalah sama kentut saya…masak tiap semenit itu saya bisa kentut lebih dari lima kali.”

Dokter: (menghela nafas) “Hmmm…ya…ya…ya…”

Tumini: “Tapi yang aneh itu dok, tiap saya kentut itu gak pernah kedengeran bunyinya sama gak ada baunya blas. Kalau boleh blak-blakan ya pak dokter, saya ini sebenarnya sudah kentut sepuluh kali sejak masuk ke ruangan ini.”

Dokter: “Hmmm….”

Tumini: “Sebenarnya saya ini kenapa sih dok?”

Pak dokter tidak menjawab sepatah kata pun dan langsung menulis resep.

Dokter: “Bu, ini resepnya, lusa ke sini lagi ya.”

Tumini: “Makasih ya pak dokter.”

Tumini langsung saja pergi ke apotek dan menukarkan resep dengan obat yang dimaksud. Sesuai perintah dokter, lusanya Tumini kembali ke puskesmas.

Dokter: “Gimana bu, sudah diminum obatnya?”

Tumini: “Sudah dok, tapi anehnya habis minum obatnya pak dokter kok tiba-tiba kentut saya ambune buadheg tenan kaya tembelek gajah, saya sendiri aja hampir pingsan lho dok pas nyiumnya.”

Dokter: (menghela nafas) “Oh, berarti hidung sampeyan  normal sekarang. Ini juga saya mau pingsan bu.”

Tumini: “Tapi kok tetep nggak ada suaranya ya dok? Padahal saya itu kalo kentut kok rasanya udah ngeluarin tenaga maksimal, rasanya kaya celana mau sobek gara-gara kentut saya”

Dokter: “Gini ya bu, ibu sebenarnya cuma masuk angin, tapi kalo sampeyan masih punya keluhan yang sama…obatnya ada satu.”

Tumini: “Apaan dok?’

Dokter: “Rajin-rajin bersihin kuping.”

Dagelan Surabaya: Surat Wasiat

24 Jul

Suatu hari ada seorang bapak pengusaha kaya bernama Paijo yang sakit keras, dia sudah lama dirawat di RS Darmo. Karena kata sang dokter kondisinya memburuk dan divonis umurnya tak panjang lagi, seorang dari anaknya pun berinisiatif memanggil seorang modin (juru doa) untuk memudahkan ayahnya menjalani sakaratul maut.

Tak lama kemudian datanglah seorang modin bersama dengan anak tersebut, rupanya di sana sudah banyak pengunjung yang berkumpul mengitari sang bapak yang terbaring lemah. Segera saja modin mengambil tempat duduk tepat di samping Paijo dan memimpin doa dengan diikuti para pengunjung yang lainnya.

Lalu, terlihat respon dari Paijo,  ia membelalakkan mata dan tangannya bergerak-gerak, terlihat seperti gerakan menulis sesuatu.

Mas, tolong pak’e dike’i potlot karo kertas, sawangane arep nulis surat wasiat!” Seru pak modin kepada si anak pengusaha tadi. Buru-buru ia mengambil selembar kertas kecil dan pulpen dari sakunya lalu disodorkan ke tangan ayahnya, dengan tangan yang bergemetar kencang bapak tadi menuliskan sesuatu. Sementara itu, modin memeruskan bacaan doanya sembari diikuti oleh para penjenguk.

Setelah menuliskan surat tersebut, wafatlah  Pak Paijo.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, ini surat wasiatnya saya bawa dulu ya, tidak etis kalau kita buka di sini. Nanti kita cari tahu isinya pada saat pemakaman”

Sorenya, diadakanlah upacara pemakaman Paijo yang dihadiri banyak koleganya dari kalangan pengusaha. Pak modin seperti biasa, bertugas membaca doa di samping makam Paijo. Setelah semuanya beres, modin itu berdiri di antara sekumpulan peziarah sambil mengangkat tinggi-tinggi surat terakhir dari Pak Paijo.

“Para ziarah, ini wasiatnya Pak Paijo, saya mohon para hadirin diam karena pasti beliau meninggalkan suatu perkara yang sangat penting bagi kita semua”

Sekejap hadirin langsung diam dan mengalihkan perhatian pada pak modin yang berdiri sendiri di samping makam Paijo.

Pak modin mengambil sikap seperti akan membaca puisi, menarik suara sejenak, dan tiba-tiba nafasnya tercekat, alangkah terkejutnya ia setelah membaca isi yang tertulis dalam kertas kecil itu:

“MODIN GOBLOG, SELANG OKSIGENKU OJOK MBOKLUNGGUHI, NGALEH!”