#SaveKBS

17 Mar

“Kliwon, satu-satunya jerapah koleksi Kebun Binatang Surabaya, ditemukan mati; di dalam perutnya ditemukan sampah-sampah plastik.”

Yogyakarta – Pagi itu, saya terbangun oleh suara pembaca berita dari sebuah televisi swasta. Berada ratusan kilometer dari rumah membuat telinga saya lebih sensitif apabila ada nama Surabaya disebut-sebut di kabar nasional. Rupanya telinga saya tidak salah, lagi-lagi saya mendengar kabar kematian satwa koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS), kali ini adalah seekor Jerapah yang merupakan satu-satunya koleksi kebun binatang populer ini.

Sedikit tertegun, saya mengambil sebuah album keluarga berisi koleksi foto liburan saya di KBS pada tahun 1995. Pada suatu halaman, saya menemukan selembar foto di mana saya digendong oleh ibu saya, dengan latar belakang seekor jerapah yang sedang berdiri dengan gagahnya, seakan turut tersenyum ke arah kamera.

Ya, saya menyadari bahwa itu pastilah si Kliwon, yang saat itu saya saksikan di TV sedang diseret menuju liang lahat oleh para petugas KBS.

Tinggal Kenangan: Foto ini diambil pada 1995.

Ada sebuah rasa kehilangan yang hinggap, meskipun pada kenyataannya foto itu sudah diambil sekitar 17 tahun yang lalu, dan bahkan Kliwon sama sekali bukan bagian keluarga saya. Namun, keberadaannya dalam foto keluarga tersebut telah menunjukkan, bahwa KBS telah ada dalam hati setiap warga Surabaya. Saya pun berani bertaruh: dari setiap foto keluarga di Surabaya, paling tidak pasti ada sebuah album yang berisi foto-foto kunjungan ke KBS.

Sebagaimana arek Suroboyo lainnya, KBS memiliki kesan mendalam bagi saya. Tempat ini merupakan spot wisata Surabaya yang pertama saya kunjungi seumur hidup, di sini pulalah saya menjalani karyawisata pertama saya sebagai siswa SD, dan di tempat ini pula saya melakukan penelitian dalam rangka Student Day SMA sebelum akhirnya saya harus meninggalkan Surabaya. Di luar itu, tak terhitung sudah berapa kali saya mengunjungi tempat wisata ini.

Kebun Binatang Surabaya, siapa yang tak mengenal nama satu ini. Sedari duduk di bangku SD, saya terbiasa mendengar cerita guru tentang kehebatannya sebagai kebun binatang terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara. Sekitar 4000 satwa dari berbagai macam spesies terdapat di sana. Sebagai seorang anak kecil, siapa yang tak bangga tempat wisata favoritnya dielu-elukan sedemikian rupa.

Namun, kebanggaan tinggallah masa lalu. Kini, KBS dihadapkan pada sebuah permasalahan yang pelik. Kematian satwa yang beruntun, konflik internal pegawai KBS, carut marut antara pengurus lama dan baru, serta sengketa kepemilikan pun makin memperkeruh suasana. Bahkan, sempat terdengar kabar bahwa akan ada investor yang ingin mengambil alih KBS untuk dijadikan pusat perbelanjaan.

Yang paling menyedihkan,  sebuah sumber berita mengatakan bahwa KBS akan ditutup pada tahun ini. Dalam sumber tersebut tertulis bahwa KBS tidak lagi masuk dalam SK baru Pemerintah Kota Surabaya. Sedangkan masalah pengelolaan hewan akan diserahkan kepada lembaga konservasi.

Gajah dan gajah saling bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah. Pepatah ini tepat menggambarkan KBS saat ini, pengelola dan pengelola saling tidak mau mengalah, satwalah yang menjadi korban. Sekali lagi, keegoisan manusia menjadi bukti penyebab rusaknya lingkungan.

 

Dapatkah anda membayangkan Surabaya tanpa KBS?

 

Well, saya juga tidak mampu.

 

 

 

Karena, bagi warga Surabaya, KBS lebih dari sekedar tempat wisata, ia adalah sebuah tempat yang telah banyak merekam senyuman, tawa, tangisan, rengekan, pelukan, dan candaan dari orang yang mereka cintai menjadi satu. Semua dalam wujud yang spesial di hati mereka.

 

Mungkin ini hanyalah satu dari sekian banyak doa.

 

Namun, saya masih berharap bahwa di masa depan nanti, akan ada suatu hari di mana saya dapat mengantarkan keluarga saya pergi ke KBS dan berkata: “Tempat yang indah kan? Dahulu, kakek-nenekmu suka mengajak ayah ke sini.”

Saya masih bermimpi bahwa akan ada masa di mana saya mampu mendengar cerita anak-anak saya tentang karyawisata mereka di KBS, dan saya pun dapat dengan bahagia menceritakan kembali pengalaman karyawisata saya puluhan tahun yang lalu di tempat yang sama.

Saya masih membayangkan, bahwa akan ada waktu di masa tua saya ketika saya duduk bersantai sambil memandangi foto-foto kiriman anak cucu saya yang tengah berlibur di KBS, sembari berbisik mantap dalam hati: “KBS  masih ada…”

Saya masih berangan, semoga pihak yang kini sedang berseteru, akan berdamai demi KBS, demi para satwa di sana, dan demi memori-memori masa lalu dari pengunjungnya yang berserakan di tiap inci sudutnya.

…Dan akhirnya Kliwon, beserta satwa-satwa yang telah pergi lainnya, pun dapat tersenyum dengan tenang di alam sana.

 

“KBS iso ae ditutup, diancurno….Tapi gak kiro iso nutup karo ngancurno kenangan pas cilikanku nang kono”

– @aslisuroboyo

#SaveKBS

Oleh:

Ario Bimo Utomo, satu dari sedemikian ribu arek Suroboyo yang kenangan masa kecilnya banyak tertinggal di KBS, dan berharap KBS akan selalu ada bagi tiap hati yang merindukannya.

3 Tanggapan to “#SaveKBS”

  1. afina 7 April 2012 pada 1:03 am #

    Sedih banget baca ini. Aku nggak pernah lihat TV, nggak tau perkembangan dan asal mula masalahnya KBS ini gimana. Tau-tau udah banyak satwa yang mati.😦 Sebagai arek Sidoarjo mepet Suroboyo KBS juga mewarnai masa kecilku. Pertama kali lihat gajah ya di sana. Pertama kali naik kuda ya di sana. Keinget juga, dulu biasanya nyebut KBS itu “Bonbin”, kependekan dari Kebon Binatang.

    Bener-bener nggak bisa mbayangno Surabaya tanpa KBS.

    Ikut berdoa deh untuk semuanya. Selain itu, nggak ada cara lain untuk membantu ya?

    • surabayastory 12 April 2012 pada 7:37 pm #

      Doa memang upaya terbaik yang bisa dilakukan sementara, pun menyuarakan #SaveKBS juga bukti nyata bahwa kita turut dalam upaya perlindungan tempat wisata ini🙂

      Semoga KBS diberikan masa depan yang terbaik, amin.

  2. Arvia Diva 20 Januari 2014 pada 7:50 pm #

    Nyedihno mas😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: