Arsip | September, 2011

Sego Njamoer, Pertolongan Pertama pada Kelaparan.

25 Sep

Bagi pelajar, khususnya yang tinggal di luar kota untuk urusan studi, anggaran sehari-hari merupakan suatu hal yang krusial apabila ingin survive  dalam waktu yang cukup lama di perantauan (curhat…) Nah, beruntunglah bagi yang memilih Surabaya sebagai tempat untuk menuntut ilmu, karena di kota ini biaya hidup tergolong dalam kategori murah. Selain itu, ada sebuah solusi bagi yang ingin makan hemat tanpa harus merogoh kantong terlalu dalam.

Berawal dari even Program Kreativitas Mahasiswa, sekumpulan mahasiswa kreatif asal Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) akhirnya menciptakan sebuah inovasi dalam bidang pangan yang mereka namai Sego Njamoer (Nasi Berjamur). Seperti namanya, bahan baku makanan ini adalah nasi dan jamur tiram. Yang bikin unik, jamur tiram ini memliki cita rasa seperti daging yang enaknya epic, nasinya pun dibentuk seperti onigiri (makanan Jepang) sehingga niscaya akan membuat ngiler semua orang yang belum pernah mencobanya langsung. Secara fisik, bolehlah Sego Njamoer ini dikatakan setara dengan Sego Kucing di Jawa Tengah 😀

Mengangkat slogan “Lezat dan Nggak Bikin KanKer”, tim Sego Njamoer mengangkat dua makna: yakni mempublikasikan khasiat jamur tiram sebagai makanan yang mampu mencegah pembentukan tumor dan kanker, serta keistimewaan Sego Njamoer yang nikmat di lidah tapi aman di kantong. Benar saja, untuk sebungkus Sego Njamoer kita hanya perlu membayar ganti rugi sebesar Rp3.000,00. Tapi tentu saja sebungkus tidak cukup, kalau mau puas kita minimal harus makan dua bungkus (saat kalap, penulis pernah beli 6 bungkus untuk dimakan sendiri).

Ada dua varian Sego Njamoer, yaitu original dan pedas. Penulis lebih menyarankan untuk memesan yang original saja, karena selain lebih terasa jamurnya, yang varian pedas menurut penulis agak kurang ramah di tenggorokan.

Gerai Sego Njamoer telah tersebar di beberapa lokasi sebut saja di Kantin pusat ITS, FTI ITS, Ria Swalayan Keputih, kantin Fakultas Hukum Universitas Airlangga, serta Kampus A Universitas Airlangga.  Penulis lebih suka untuk membeli di Ria Swalayan Keputih (kira-kira 500 meter dari Universitas Hang Tuah) karena penulis agak sungkan kalau harus masuk kampus orang…hehehe…Saran penulis, datanglah setelah pukul 10.00 pagi, karena meskipun gerai sudah dibuka mulai pukul 09.30, biasanya si penjual masih sibuk dengan mengolah jamur dan menanti kiriman nasi.

Berikut adalah foto-fotonya, maaf kalau fotonya colongan semua, karena saat penulis ke TKP gerainya belum buka.

Penampakan Gerai Sego Njamoer (source: segonjamoer.com)

Bahan Baku The Epic Sego Njamoer (source: wikipedia.com)

Penampakan Sego Njamoer di Website Resminya (source: segonjamoer.com)

Selamat makan! Kalau beli cepet-cepet dimakan ya, biar nasinya nggak njamur beneran! 😀

Iklan

DagelanStory: Pintu Ajaib.

24 Sep

Suatu hari Wak Tam pergi bersama istri dan anaknya, mereka bertiga pergi ke Plasa Tunjungan untuk yang pertama kalinya. Maklumlah, orang desa, setiap kali mereka berjalan melewati tempat yang ada di sana mereka selalu berdecak kagum.

Setelah berjalan sekian lama, Wak Tam berhenti tepat di depan sebuah pintu besi berwarna keperakan. Yang membuatnya heran, pintu itu bisa membuka-tutup secara otomatis, dan pintu itu bisa mengeluarkan suara yang lembut…”TING!”

Pak, iku jenenge opo pak?” Tanya Eko, anaknya.

Wah, aku yo gak ngerti le…ket eruh iki aku ono lawang iso koyo ngono” Jawab Wak Tam sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Akhirnya, Wak Tam sekeluarga mengamati pintu itu tanpa henti sambil berjongkok di depannya.

“TING!” pintu itu terbuka, lalu seorang nenek-nenek masuk ke dalam pintu tersebut. Pintu itu tertutup lagi, tak lama muncullah angka-angka di atas pintu tersebut. Satu, dua, tiga, berhenti…kemudian tiga, dua, satu…”TING!” pintu itu kembali terbuka.

Wak Tam sangat terkejut melihat seorang siswi SMA yang sangat cantik keluar dari pintu tersebut.

Wak Tam antara kebingungan dan gembira, sembari pandangannya meleng ke arah gadis tersebut, dia menarik-narik tangan istrinya sambil berteriak, “Ko, Eko, ibukmu ndang lebokno kono Ko!!!”

 

Dari Penulis.

24 Sep

Assalamualaikum…

Sebelumnya, penulis berterima kasih kepada semua yang selama ini mengikuti update SurabayaStory, lebih-lebih yang merasa terhibur melalui info-info ringan seputar kota kita tercinta ini. Sebagai warga kota biasa, penulis hanya mencoba untuk berbagi hal yang menurut penulis juga akan menarik bagi orang lain, khususnya pendatang baru atau orang yang ingin mengenal Surabaya lebih dalam.

Namun berhubung penulis juga memiliki kewajiban meneruskan studi di luar kota, mulai saat ini update akan sedikit berkurang frekuensinya. Tapi penulis usahakan untuk menerbitkan tiga artikel sekaligus tiap update, baik itu dari BadhoganStory, DagelanStory, maupun LokasiStory. Bagi yang ingin merekomendasikan info untuk diterbitkan, penulis akan dengan senang hati menerima dan mempertimbangkan 😀

Kini, penulis mohon doanya untuk kelancaran studi penulis di kota Yogyakarta hingga usai, semoga penulis tetap bisa berkarya sebagai duta kecil-kecilan bagi Surabaya. Salam!

DagelanStory: Rebung.

3 Sep

Mr.Black, seorang bule asal Inggris, kemarin datang ke Surabaya untuk homestay di rumah Mas Joko di daerah Wonocolo. Suatu sore, istri Mas Joko, Mbak Supiyah, menyajikan sebuah masakan yang terlihat asing buat  Mr.Black.

“Wahh…ini apa namanya Mbak Supiyah?” kata Mr.Black dengan logat British yang medok saat melihat Mbak Supiyah menuangkan sesendok besar sayur ke mangkuknya.

“Itu namanya gulai mister, monggo coba deh!” Sahut Mas Joko sambil menikmati sepiring nasinya.

Mr.Black pun menyuap sesendok gulai tersebut, matanya terbelalak seakan belum pernah memakan makanan enak sebelumnya.

“Wuaaaahh, ini enak sekali! Apalagi yang ini, renyah banget!” kata Mr.Black sambil menunjuk sepotong benda asing di mangkuknya.

“Itu namanya rebung, mister Black! Itu dari tumbuhan bambu yang masih belum dewasa.” Mbak Supiyah menjelaskan kepada Mr.Black dengan bangga.

“Negara Indonesia hebat sekali! Bahkan tumbuhan yang masih mentah aja udah seenak ini, gimana yang udah matang ya?”