Nasi Goreng Iblis Srikana.

21 Agu

Lidah orang Surabaya terkenal betah pedes, tidak bisa makan kalau tidak ada nuansa pedasnya, meskipun sekali kepedasan tapi kalau enak ya diteruskan saja atau dalam istilah lainnya kapok lombok. Dan nasi goreng adalah salah satu menu wajib yang harus ada dalam daftar badhogan sehari-hari orang Surabaya. Menu yang merupakan warisan kebudayaan Tiongkok ini telah diadaptasi dalam berbagai macam rasa hingga cocok dengan tipe lidah orang Indonesia.

Salah satunya adalah nasi goreng jawa, nasi goreng dengan ciri khas penggunaan telur rebus serta taburan tauge serta ayam ini memang sudah sangat terkenal sebagai penghangat di malam hari bagi warga Surabaya. Contohnya adalah Nasi Goreng Iblis yang berlokasi di jalan Srikana ini. Cukup mencolok untuk ditemukan, ada sebuah geber berwarna putih bertuliskan Nasi Goreng Jawa Papi Kancil yang memudahkan pembaca untuk mencarinya.

Yang menjadikan nasi goreng ini terkenal adalah cita rasa pedasnya yang ajegile, untuk yang tidak tahan pedas (termasuk penulis) mungkin bakalan berpikir dua kali untuk menambah suapan kedua. Sekilas mengingatkan pada nasi goreng jancuk milik Surabaya Plaza Hotel, tapi berhubung harga nasi goreng jancuk yang makin melambung, bolehlah pembaca menjadikan nasi goreng iblis sebagai bahan latihan sembari mengumpulkan uang. (lho??)

Hal lain yang membedakan dari nasi goreng jancuk adalah porsinya yang lebih masuk di akal. Pembaca tak perlu khawatir terkapar di tengah makan, lain halnya dengan nasi goreng jancuk yang porsinya bisa membuat kita harus menelepon hingga tiga orang bala bantuan ketika sudah tidak kuat menghabiskannya. Selain itu kita juga bisa memesan sesuai kadar kemampuan kita, karena tidak hanya menu “iblis” yang dijual tapi ada juga nasi goreng untuk lidah manusia normal seperti nasi goreng krengsengan dan nasi goreng sosis.

Satu porsi dibanderol Rp7.000, selain itu pembaca juga bisa memesan segelas es teh seharga Rp1.500 untuk membawa cahaya surga ke dalam mulut. Untuk penambah cita rasa, sepiring kerupuk juga sudah disediakan di samping seporsi nasi goreng.

Penulis sangat tidak menyarankan menu iblis ini untuk dijadikan menu buka bersama (yaiyalah!). Jadi, waktu yang paling tepat untuk menyantap nasi goreng iblis adalah malam setelah salat Tarawih, karena akan cocok untuk memanaskan kembali perut yang terkena hawa dingin malam. Dan bagi penderita maag, alangkah baiknya untuk membawa sestrip tablet obat maag untuk dikonsumsi setelah makan.

Selamat makan!

———————————————–

Geef Mij Maar Nasi Goreng – Wieteke van Dort

Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd  (Ketika kami pulang dari negeri khatulistiwa)

Dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht (Ternyata Belanda sangat dingin, kami tak mengiranya)
Maar et ergste was ‘t eten, nog erger dan op reis (Yang paling parah adalah makanannya, lebih buruk dari perjalanannya)
Aardapp’len, vlees en groenten en suiker op de rijst (kentang, daging, dan sayur, dan nasi dicampur gula)
Geef mij maar nasi goreng, met een gebakken ei (Berikan aku nasi goreng saja, dengan telur goreng)
Wat sambal en wat kroepoek, en een goed glas bier erbij (Dengan sambal dan krupuk dan segelas bir)
Geef mij maar nasi goreng, met een gebakken ei (Berikan aku nasi goreng saja)
Wat sambal en wat kroepoek, en een goed glas bier erbij (Dengan sambal dan krupuk dan segelas bir)

(source: kaskus.us)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: