Arsip | Agustus, 2011

Nasi Goreng Iblis Srikana.

21 Agu

Lidah orang Surabaya terkenal betah pedes, tidak bisa makan kalau tidak ada nuansa pedasnya, meskipun sekali kepedasan tapi kalau enak ya diteruskan saja atau dalam istilah lainnya kapok lombok. Dan nasi goreng adalah salah satu menu wajib yang harus ada dalam daftar badhogan sehari-hari orang Surabaya. Menu yang merupakan warisan kebudayaan Tiongkok ini telah diadaptasi dalam berbagai macam rasa hingga cocok dengan tipe lidah orang Indonesia.

Salah satunya adalah nasi goreng jawa, nasi goreng dengan ciri khas penggunaan telur rebus serta taburan tauge serta ayam ini memang sudah sangat terkenal sebagai penghangat di malam hari bagi warga Surabaya. Contohnya adalah Nasi Goreng Iblis yang berlokasi di jalan Srikana ini. Cukup mencolok untuk ditemukan, ada sebuah geber berwarna putih bertuliskan Nasi Goreng Jawa Papi Kancil yang memudahkan pembaca untuk mencarinya.

Yang menjadikan nasi goreng ini terkenal adalah cita rasa pedasnya yang ajegile, untuk yang tidak tahan pedas (termasuk penulis) mungkin bakalan berpikir dua kali untuk menambah suapan kedua. Sekilas mengingatkan pada nasi goreng jancuk milik Surabaya Plaza Hotel, tapi berhubung harga nasi goreng jancuk yang makin melambung, bolehlah pembaca menjadikan nasi goreng iblis sebagai bahan latihan sembari mengumpulkan uang. (lho??)

Hal lain yang membedakan dari nasi goreng jancuk adalah porsinya yang lebih masuk di akal. Pembaca tak perlu khawatir terkapar di tengah makan, lain halnya dengan nasi goreng jancuk yang porsinya bisa membuat kita harus menelepon hingga tiga orang bala bantuan ketika sudah tidak kuat menghabiskannya. Selain itu kita juga bisa memesan sesuai kadar kemampuan kita, karena tidak hanya menu “iblis” yang dijual tapi ada juga nasi goreng untuk lidah manusia normal seperti nasi goreng krengsengan dan nasi goreng sosis.

Satu porsi dibanderol Rp7.000, selain itu pembaca juga bisa memesan segelas es teh seharga Rp1.500 untuk membawa cahaya surga ke dalam mulut. Untuk penambah cita rasa, sepiring kerupuk juga sudah disediakan di samping seporsi nasi goreng.

Penulis sangat tidak menyarankan menu iblis ini untuk dijadikan menu buka bersama (yaiyalah!). Jadi, waktu yang paling tepat untuk menyantap nasi goreng iblis adalah malam setelah salat Tarawih, karena akan cocok untuk memanaskan kembali perut yang terkena hawa dingin malam. Dan bagi penderita maag, alangkah baiknya untuk membawa sestrip tablet obat maag untuk dikonsumsi setelah makan.

Selamat makan!

———————————————–

Geef Mij Maar Nasi Goreng – Wieteke van Dort

Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd  (Ketika kami pulang dari negeri khatulistiwa)

Dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht (Ternyata Belanda sangat dingin, kami tak mengiranya)
Maar et ergste was ‘t eten, nog erger dan op reis (Yang paling parah adalah makanannya, lebih buruk dari perjalanannya)
Aardapp’len, vlees en groenten en suiker op de rijst (kentang, daging, dan sayur, dan nasi dicampur gula)
Geef mij maar nasi goreng, met een gebakken ei (Berikan aku nasi goreng saja, dengan telur goreng)
Wat sambal en wat kroepoek, en een goed glas bier erbij (Dengan sambal dan krupuk dan segelas bir)
Geef mij maar nasi goreng, met een gebakken ei (Berikan aku nasi goreng saja)
Wat sambal en wat kroepoek, en een goed glas bier erbij (Dengan sambal dan krupuk dan segelas bir)

(source: kaskus.us)

 

Iklan

Menikmati Pagi di Taman Mundu.

20 Agu

Di bulan Ramadan, sebagian dari kita mungkin memutuskan untuk melanjutkan mimpi setelah melaksanakan ibadah sahur, demikian juga dengan penulis yang kebetulan sedang libur panjang. Tapi pagi ini penulis mencoba sesuatu yang beda dengan kembali berjalan-jalan mengitari Kota Pahlawan, kali ini jujukan penulis adalah Taman Mundu.

Bagi warga Surabaya, pastilah tidak asing dengan taman yang terletak tepat di depan Stadion Gelora 10 November ini. Sekitar lima tahun yang lalu, sebelum direnovasi menjadi sebuah taman, tempat ini adalah sebuah lapangan yang kerapkali dijadikan tempat untuk menggelar bazar atau sekedar dijadikan lokasi senam pagi. Kini, setelah revolusi Sparkling Surabaya yang diselenggarakan oleh pemerintah kota, Taman Mundu menjelma menjadi sebuah tempat yang elok di pusat kota Surabaya.

Fasilitas yang ditawarkan taman ini lumayan lengkap: mulai dari tempat bermain bagi anak-anak, trek berbatu untuk area berjalan kaki sambil menikmati pijatan refleksi, serta tempat duduk yang luas. Istimewanya lagi, Taman Mundu juga menjadi salah satu lokasi (selain Taman Bungkul) yang dipilih oleh PDAM Surabaya untuk menjadi spot keran air siap minum, jadi pengunjung yang kebetulan lewat bisa leluasa meminum air dari sana secara gratis.

Berbunga: Salah Satu Sudut di Taman Mundu.

Segar: Keran Air Siap Minum di Taman Mundu.

Taman yang diresmikan pada Juli 2010 oleh mantan wali kota Bambang D.H. ini juga dikenal memukau saat malam tiba, air mancur dan kilauan lampu dalam berbagai macam warna siap memanjakan mata siapa saja yang memandangnya. Sulit dipercaya bahwa di sana dulu pernah terdapat sebuah lapangan yang cenderung tidak terurus, bahkan dulu tidak ada yang terpikirkan untuk memalingkan wajah tiap kali melewatinya.

Taman Mundu adalah salah satu di antara belasan taman-taman kota yang ada di Surabaya, rencananya pemerintah kota masih akan menambah jumlah taman hingga melebihi target 30% Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk kategori kota. Kini Surabaya adalah kota dengan persentase RTH yang cukup tinggi dengan lebih dari 25% dibanding luas wilayah, jauh lebih tinggi dari Jakarta yang hanya memenuhi sekitar 5-6% dari total luas.

Semoga ke depannya Surabaya akan terus menambah jumlah taman kota, sehingga dapat menjadi contoh bagi kota-kota yang lain untuk go green serta menyediakan paru-paru kota yang otomatis bisa membuat warganya nyaman dan sehat dalam menjalani aktivitas.

(source: surabayapost.co.id)

DagelanStory: Vacuum Cleaner.

11 Agu

Mbah Kliwon punya rumah baru, sebagaimana layaknya warga baru di kampung, tetangganya pun banyak berdatangan untuk silaturahim, tak terkecuali sales barang-barang rumah tangga. Suatu pagi Mbah Kliwon dihampiri oleh seorang sales yang rupanya menawarkan sebuah vacuum cleaner.
“Assalamualaikum…sugeng enjing mbah, kula saking toko Sudi Mampir arep nawarke barang apik”

“Waalaikumsalam, hmmm…barang opo mas?” Jawab Mbah Kliwon sambil melinting rokok klobot kesayangannya.

“Niki mbah, sampeyan lak duwe omah anyar toh, lek sampeyan duwe barang iki dijamin ngresiki omah dadi enteng, barang iki jenenge vacuum cleaner mbah! Karo alat iki, mbah mboten usah soro-soro nyapu maneh!” Sang sales mengeluarkan jurus andalannya, sebuah vacuum cleaner pun dikeluarkan beserta sebendel buku katalog. Sepuluh menit pun berlalu seiring sang sales yang nggedhabrus ngalor-ngidul.

“Halah, gak percoyo aku, wis talah mas, mending yo nyapu omah dewe…” Mbah Kliwon makin asyik menyedot rokoknya.

Deloken yo mbah” Sang sales mengeluarkan sebungkus tas kresek dari kopernya. Inilah jurus pamungkas yang diajarkan oleh sang manajer untuk menghadapi konsumen ndableg.

“Kresek iki mbah, isine telek wedus, iki taksebar nang ubin e sampeyan, misale alatku iki mboten saget ngresiki, tak untale siji-siji!” Sang salesman merasa di atas angin, disebarnya kotoran kambing yang kecil-kecil nggilani itu di atas lantai teras Mbah Kliwon.
Dengan santai, Mbah Kliwon menjawab, “Mas, peno nguntale njaluk didulit saos opo kecap?”

“Lho, opo’o mbah?”
“Omahku lho gak ono listrike”

Menimba Wawasan di Perpustakaan C20.

10 Agu

Di bulan puasa, tak jarang orang-orang menemukan hobi baru untuk mengisi waktu luang mereka menjelang berbuka. Nah, bagi anda yang memiliki ketertarikan pada bidang yang berbau sastra ataupun hanya hobi membaca, tak ada salahnya untuk mampir ke perpustakaan yang terletak tak jauh dari kantor Kedutaan Amerika Serikat ini. Terletak di Jalan Dr.Cipto 20, perpustakaan milik pribadi ini dinamai sesuai lokasi berdirinya, yakni C20. Pengelola C20 menyebut perpustakaan ini sebagai ruang publik yang menyediakan berbagai referensi buku fiksi maupun nonfiksi serta audiovisual pilihan untuk disewa atau dibaca di tempat.

Penulis berkesempatan mewawancarai pemilik C20 yakni Ibu Yuli, beliau menyatakan bahwa sebagian besar koleksi yang terdapat di C20 adalah milik pribadi, sisanya adalah sumbangan dari rekan maupun titipan orang lain untuk disewakan. Kini C20 telah mengoleksi lebih dari 4.000 macam buku, baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Tema koleksi bukunya pun beragam, mulai dari sastra, sejarah, sosial budaya, hingga seni lengkap terdapat di sini. Awal mula berdirinya perpustakaan ini pun karena koleksinya yang sudah membeludak.

Tampilan Depan Perpustakaan C20

Bersahabat: Jauh dari Kesan "Angker" Perpustakaan Pada Umumnya.

“Selain itu kami juga mengadakan pemutaran film tiap akhir pekan mulai pukul 6 sore” Tambahnya. Tapi jangan harap menemukan film macam “Suster Keramas” atau “Hantu Jamu Gendong”, karena di sini film yang diputar pun berisi dan tidak sembarangan, umumnya yang diputar adalah film bergenre dokumenter maupun film Indonesia unggulan. Contohnya pada hari Minggu, 14 Agustus 2011, film dokumenter berjudul “Rumah Abu Han” akan ditayangkan di C20, film ini menceritakan  sebuah rumah kuno di Surabaya yang merupakan peninggalan suku Han pada zaman kolonial, beserta makna filosofis yang terkandung dalam arsitekturnya. Cukup layak ditonton sebagai penambah wawasan tentang sejarah kota Surabaya.

Selain itu, di bulan Ramadan ini C20 juga mengadakan agenda diskusi serta buka bersama, lumayan, kita bisa menggali pengetahuan lebih dalam sembari menanti azan magrib dikumandangkan. Salah satu tema diskusinya adalah “Mentawai Tattoo Revival: Tato dan Tradisi” yang diadakan pada Sabtu, 20 Agustus 2011.

Ibu Yuli menambahkan, di sini pengunjung bisa merasakan suasana seperti rumah sendiri, karena C20 didesain senyaman mungkin, lengkap dengan tempat duduk ala kafe di terasnya yang biasa digunakan pengunjung untuk cangkrukan. Memang, perpustakaan ini jauh dari kesan perpustakaan pada umumnya yang serba kaku dan tidak santai, bahkan cenderung colorful serta bersahabat.

Sangat mudah untuk menjadi member C20, untuk mendapatkan keanggotaan yang berlaku selama setahun, pengunjung cukup menunjukkan fotokopi kartu identitas, menyerahkan pasfoto, serta membayar biaya keanggotaan sebesar Rp50.000,00. Setelah itu, anda bebas memilih buku apa saja untuk disewa. (Penulis juga menyempatkan diri untuk mendaftar sebagai member, lalu menyewa sebuah buku sejarah sosial-budaya berjudul “Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe”)

Surga: Bagi Penggila Buku, Waktu Ngabuburit Jadi Tidak Terasa.

Ibu Yuli, Sang Pemilik C20.

Mengapa perpustakaan ini jarang diketahui masyarakat luas? Ibu Yuli punya jawabannya, yakni karena publikasi C20 kebanyakan adalah melalui lisan dan internet, untuk mengakses via internet, C20 menyediakan akun twitter, facebook, maupun website pribadinya. Beliau berharap bahwa dengan publikasi via dunia maya ini, C20 akan makin ramai dikunjungi.

Bagi yang memiliki buku bekas, majalah, maupun DVD yang masih layak guna, C20 juga menerima jasa penitipan jual, penulis juga sempat melihat ada kaus “Grammar Suro Boyo” juga dijual di sini. Bagi yang membutuhkan venue untuk acara khusus seperti pameran maupun sesi foto, C20 dapat pula menjadi pilihan yang tepat.

C20 siap menyambut pengunjung dengan tangan terbuka setiap Senin, Rabu, dan Jumat pukul 10.00 hingga pukul 19.00, serta mulai pukul 11.00 hingga 21.00 pada hari Sabtu dan Minggu.

Berburu Barang Antik di Jalan Bodri.

6 Agu

Anda penggemar barang antik? Atau hanya sekedar ingin cuci mata dengan pemandangan yang baru? Mungkin Pusat Barang Antik di Jalan Bodri bisa menjadi alternatifnya. Jalan yang teletak di belakang Gelora Pancasila ini memang sudah lama terkenal sebagai lokasi utama untuk berburu barang antik, bagi warga Surabaya bahkan dari luar kota sekalipun.

Sedatangnya anda di tempat ini, anda akan disapa oleh barang-barang kuno yang berjejer pada delapan kios yang berbeda. Barang dagangannya pun bervariasi, di sini, anda bisa menikmati berbagai macam koleksi benda antik seperti lampu kuno, terompet kuningan, setrika arang, bahkan gramafon antik yang tidak dapat sembarang ditemui di tempat lain. Dan hebatnya, kebanyakan masih dalam kondisi layak pakai.

Variatif: Kios barang antik yang nampak berjejer di jalan Bodri.

Mas Andi, salah satu pemilik kios mengatakan bahwa benda-benda antik ini umumnya didapat dari warga, khususnya yang tinggal di kawasan elit. Untuk menjual barang-barang antik itu juga tak sembarangan, sebagian bahkan harus dilengkapi surat-surat kepemilikan agar tidak terjadi kecolongan, mengingat barang-barang kuno itu memiliki nilai estetika yang tinggi. Tapi pernah juga ia menemui barang dalam kondisi yang kurang memuaskan, seperti retak di beberapa bagian hingga komponen yang tidak lengkap.

Seandainya saya bawa uang banyak...

Rata-rata kios barang antik di Jalan Bodri ini buka pukul 07.00 pagi hingga pukul 19.00 malam, sehingga memungkinkan pembaca untuk menikmati jalan-jalan pagi sembari melihat-lihat apa saja yang dijual di sana. Harga barangnya pun bervariasi, yang paling murah bisa mencapai Rp30.000,00 hingga yang termahal mencapai puluhan juta rupiah. Salah satu koleksi yang termahal adalah sebuah lampu kuno pemberian seorang warga Darmo Indah, lampu ini berharga Rp20.000.000,00.

Lampu ini harganya 20 juta rupiah, tertarik?

Kalau yang ini rata-rata 30 ribu rupiah, cukup murah untuk ukuran barang antik.

Cukup mudah untuk mengakses kawasan ini, anda bisa mengaksesnya melalui jalan Padmosusastro apabila datang dari arah Mayjend Sungkono, atau bisa juga melalui jalan Dr.Soetomo apabila anda datang dari arah Darmo. Asal tahu Gelora Pancasila, penulis jamin pembaca tidak akan tersesat.

Bagaimana? Apakah anda mulai terpikir untuk untuk memulai hobi baru mengumpulkan benda antik? Pastikan Kawasan Wisata Barang Antik di Jalan Bodri menjadi pilihan utama anda!

 

DagelanStory: Mimpi

5 Agu

Cak Wakiran punya anak bernama Karmin, suatu hari sang anak bermimpi buruk dan menceritakannya pada Cak Wakiran.

Paaaakkk, aku mimpi mbah kakung sedo…” Kata Karmin sesenggukan

Wis talah nak, iki mung mek mimpi, gak mesti kedaden tenanan!” Cak Wakiran berusaha menenangkan anaknya.

Besoknya, ada telepon dari Tulungagung, menyebutkan bahwa ayah Cak Wakiran wafat karena serangan jantung mendadak. Namun belum kering air mata Cak Wakiran, tiba-tiba Karmin berlari ke luar rumah sambil kembali menangis.

“Paaaaak, saiki aku mimpi mbah putri sedo paaaaakkk….hiks hiks”

Wis ta nak ojo mimpi sing aneh-aneh! Durung karuan temenan iku, wis saiki turuo maneh, gak opo-opo gak!” Kata Cak Wakiran setengah marah.

Besoknya, kembali ada telepon dari kerabatnya yang menyebutkan bahwa ibu Cak Wakiran meninggal karena gegar otak setelah terpeleset di kamar mandi.

Pada saat peringatan tujuh hari kematian orang tua Cak Wakiran, Karmin kembali bermimpi buruk, kali ini tangisnya makin keras. Ia pun keluar sambil memeluk Cak Wakiran.

Lho le, opoo kok awakmu nangis maneh? Mimpi opo maneh awakmu?”

“Aku mimpi bapak sing sedo saiki!”

“Halah gak usah percoyo mimpi ta lah nak! Sesuk bapak gakpopo gak!” Ujar Cak Wakiran menenangkan anaknya.

Meski begitu, malamnya Cak Wakiran tidak bisa tidur. Ia takut kalau mimpi anaknya menjadi kenyataan.  Namun ia berusaha untuk pasrah dan memberanikan dirinya untuk tidur…

Esoknya, Cak Wakiran bangun dalam keadaan sehat walafiat.

“Alhamdulillah ya Allah! Awakku isih urip!” Kata Cak Wakiran sambil meraba-raba mukanya sendiri, meyakinkan diri kalau dia masih hidup.

Tapi dari luar terdengar giliran istri Cak Wakiran yang menangis sesenggukan, perlahan Cak Wakiran melangkah ke luar untuk menanyai istrinya.

“Lho buk, ono opo kok sampeyan nangis gero-gero ngene?”

Huaaaa…bakul bakwan langgananku matek pak eeeee…..huaaaaa”

DagelanStory: Memancing

3 Agu

Cak Paidi punya kebiasaan baru, sore hari setelah hujan deras, ia mengambil alat pancing lalu pergi memancing di got depan rumahnya. Sambil berjongkok dan mengisap rokok kretek kesayangannya, orang-orang yang lewat pastilah akan melihatnya.

Ada yang kasihan, ada yang tertawa, tak jarang pula ada yang takut karena mengira Cak Paidi orang gila.

Tak lama seorang kawan bernama Cak Kliwon lewat. Dia tidak tega melihat temannya sendiri menderita sampai-sampai harus memancing di got depan rumahnya.

“Cak Paidi, kesini! ayo taktraktir mangan sego sambel nang warung Mbok Ponirah!”

Awalnya Cak Paidi malu-malu, namun karena desakan dari Cak Kliwon akhirnya hatinya luluh juga. Kemudian, mereka berdua pun duduk di sebuah warung.

Sampeyan ambil lauk apa aja deh, jangan sungkan-sungkan!” Kata Cak Kliwon.

Cak Kliwon makan dengan lahapnya, total tiga piring nasi dihabiskannya. Setelah membayar semuanya, Cak Kliwon mengajaknya ngobrol.

“Di, sampeyan itu selama ini mancing di got kecil depan rumah itu apa pernah dapet ikan?”

“Ya dapat lah! Lek gak entuk lapo takbelan-belani ndodhok sarungan berjam-jam.” Jawab Cak Paidi sambil mengisap rokok.

Mosok seh? Wis oleh iwak piro sampe saiki?”

Awakmu sing kelimo…”

 

DagelanStory: Minimarket

3 Agu

Pakde Paijo pergi ke minimarket baru di dekat rumahnya, suatu malam ia berkunjung untuk membeli makanan kucing.

“Mas, tuku iki yo” Pakde Paijo menyodorkan sekaleng makanan kucing kepada kasir.

“Mbah, sampeyan lek arepe tuku pakan kucing iki, sampeyan kudu mbuktekno lek duwe kucing. Wedine lek adakno sampeyan gak duwe terus ndilalah dipangan dewe panganane.” Jawab kasir sekenanya.

Pakde Paijo tidak kebanyakan protes, pulanglah ia ke rumah dan lalu kembali sambil menggendong seekor kucing.

Nyoh, ini lho mas kucing saya” Diletakkannya kucing itu di meja kasir. Dibayarlah sekaleng makanan kucing tersebut.

Besoknya, Pakde Paijo kembali ke minimarket untuk membeli biskuit tulang buat anjingnya. Tepat saat akan membayar, si kasir kembali menanyakan hal yang sama.

“Mbah, sampeyan nduwe asu mboten? Aku kuatire lek biskuit balung iki sampeyan pangan dewe” kata si kasir.

Pakde Paijo pulang lagi tanpa banyak bicara, ia kembali ke minimarket sambil menuntun seekor anjing herder.

“Ini lho mas anjing saya” Kata Pakde Paijo sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan.

Besoknya lagi, Pakde Paijo kembali ke minimarket sambil menenteng sebuah kardus bekas Indomie yang diberi lubang kecil di bagian sampingnya.

“Mbah, sampeyan arep tuku panganan gawe ulo ta?” Kata si kasir setengah heran.

“Ini isinya bukan ular mas, sampeyan jajal lebokno drijine sampeyan dewe ta lak gak nyokot.” Jawab Pakde Paijo dengan tenang.

Awalnya petugas kasir itu agak takut memasukkan jarinya, namun setelah dibujuk, ia memberanikan diri memasukkan jarinya ke lubang itu.

Ternyata kotak itu berisi sesuatu yang lunak, ketika si kasir mencabut jarinya ia mencium bau yang sangat tidak enak. Kasir tersebut misuh-misuh tidak karuan.

“Kurang ajar! Semprul! Sampeyan ngelebokno opo iku nang kotak Indomine sampeyan lha kok drijiku ambune gak wenak ngene??”

Yaopo mas, saiki aku wis oleh durung tuku tissue WC?”