Kenjeran, Menggali Kembali Mutiara yang Terpendam.

27 Jul

Setelah pembangunan jembatan Suramadu rampung, kawasan pesisir adalah sektor yang saat ini paling disorot perkembangannya. Diantaranya tersebut sebuah nama yakni tempat wisata Pantai Kenjeran. Nama yang satu ini memang rajin nampang bahkan di brosur-brosur pariwisata Surabaya sebagai tempat wisata unggulan.

Sebersit pikiran selalu terlintas di benak tiap kali melihat nama Kenjeran dipromosikan sebagai tempat wisata andalan kota Surabaya, apakah kawasan ini sudah siap bersaing dengan tempat wisata bahari lainnya? Mengingat dari segi pengelolaan, keindahan, maupun kebersihan Kenjeran masih kalah jauh dengan Losari di Makassar, Ancol di Jakarta, apalagi Kuta di Bali yang sudah mendunia. Masih malu rasanya untuk memamerkan Kenjeran milik kota ini yang masih belum siap.

Pernahkah pembaca mendengar ungkapan: “No surfing at Kenjeran Beach! Bukannya apa, selain nggak ada ombak airnya keruh dan kotor!” yang dipopulerkan oleh Cakcuk, sebuah distro lokal Surabaya? Mungkin itu sudah cukup bisa menggambarkan pandangan warga Surabaya mengenai pantai kebanggaannya ini. Pantai yang lokasinya tak jauh dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) ini saat ini memang dikenal sebagai tempat wisata yang kurang memiliki nilai plus. Bahkan sebagian orang Surabaya pun memiliki ungkapan “Malam mingguan di Kenjeran” sebagai olok-olok karena Kenjeran belakangan ditengarai sebagai lokasi favorit pasangan mesum.

Sekitar 15-20 tahun yang lalu, (katanya) pamor Kenjeran sebagai tempat wisata sempat jauh lebih ciamik dari saat ini. Masuk akal juga, karena bangunan-bangunan yang ada di kompleks wisata Kenjeran sejatinya terlihat megah, hanya saja tidak terawat, menyiratkan kesan angker dan pengap.

Salah satu dari bangunan yang tidak terawat itu adalah bekas kolam pancing yang terletak kira-kira 500 meter dari akses utama menuju Kenpark. Tempat ini menurut penulis lebih layak dijadikan arena uji nyali ketimbang kolam pancing. Besi tua bertebaran di sekitar gerbangnya, belum lagi tumbuhan liar yang merajalela di sana-sini. Sejauh yang penulis tahu, kini bekas kolam pancing ini digunakan bermain bola tiap sore oleh anak-anak penduduk sekitar.

Kolam Pancing Pantai Ria: Untung Belum Didatangi Kru Dunia Lain.

Selain di Kebun Binatang Surabaya dan di Monkasel, Ada yang Pernah Lihat Patung Suro-Boyo di Sini?

Namun saat ini Kenjeran tidak sepenuhnya mati suri, sebagaimana kawasan utara Surabaya lainnya mulai berbenah diri. Saat penulis berkunjung kembali, terlihat akses menuju Kenjeran Park (Kenpark) sedang mengalami perbaikan. Tempat wisata yang berisikan arena balap kuda, pusat kebugaran jasmani, maupun kolam renang ini sepertinya sedang menyadari potensinya untuk menjadi tempat wisata yang benar-benar dapat dibanggakan oleh masyarakat Surabaya lebih-lebih Jawa Timur.

Gerbang masuk yang dahulu terkesan garing dan jadul kini dipercantik dengan warna jambon ngejreng yang dijamin bakalan menarik tiap mata yang melintasinya. Melihatnya, otak penulis membayangkan bahwa tempat ini nantinya akan se-ngetop Taman Impian Jaya Ancol (bermimpi itu gratis!)

Lebih Mengundang: Gerbang Kenpark yang Baru.

Semoga Suatu Hari Kenjeran Bisa Seramai Ini. (source: wartakotalive.com)

Semangat Pak: Pekerja Sedang Membenahi Akses Menuju Kenpark.

Lain Kenpark, lain pula Pantai Kenjeran Baru. Tempat wisata yang terletak di Jalan Sukolilo 100 ini lebih menonjolkan kapasitasnya sebagai wahana wisata budaya, tempat ini dikenal sangat kental dengan nuansa Tiongkok. Karena di sini memang banyak sekali bangunan berarsitektur Tionghoa, mulai dari patung Dewi Kwan Im yang telah mencetak rekor MURI hingga Pagoda Tian Ti yang berdiri kokoh hingga terlihat dari jembatan Suramadu. Sebuah seaside restaurant yang penuh lampion juga dapat ditemui di sini, seakan menggantikan posisi Kya-Kya Kembang Jepun yang belakangan sudah ditutup dan menyisakan gerbangnya saja.

Kenjeran Baru juga terkenal sebagai surga foto bagi para pemburu gambar baik pemula maupun profesional. Tak perlu mencari spot ke luar negeri untuk mendapatkan gambar nan eksotis khas negeri Asia Timur, cukup datang ke Kenjeran dan akan sulit bagi orang awam untuk membedakan mana negeri Tirai Bambu yang asli dan mana yang KW Super. Sangat dianjurkan bagi calon pengantin baru maupun bagi siswa-siswi SMA yang mencari lokasi foto keren.

Pagoda Tian Ti (source: Surabayapost.co.id)

Satu lagi yang tak dapat dipisahkan dari Kenjeran adalah potensi hasil lautnya. Ketika penulis datang ke Kenjeran, semerbak aroma yang unforgettable pun datang menyapa, wangi hasil laut Indonesia yang begitu kaya, dengan semerbak yang masih terkenang saat mengunjungi Kenjeran untuk kali pertama. Di sekitar kawasan pantai Kenjeran, banyak sekali pedagang hasil laut yang tergabung dalam suatu sentra perdagangan. Namun lokasi ini seakan tak terjamah oleh masyarakat Surabaya, letaknya terselubung di antara pemukiman warga yang kumuh dan terasa asing bahkan bagi penulis yang merupakan warga Surabaya.

Sebenarnya, tempat wisata Pantai Kenjeran Baru dan Lama, Kenpark, serta Sentra Perdagangan Hasil Laut di kawasan Sukolilo ini merupakan sebuah kombinasi yang dahsyat sebagai suatu wahana wisata bahari apabila diintegrasikan dengan sempurna oleh pihak pengelola. Menurut penulis, hal pertama yang harus dibenahi adalah kebersihan serta keindahannya. Karena bagaimana juga, kesan pertama yang menjanjikan adalah syarat mutlak bagi suatu tempat wisata untuk bangkit dan mampu bersaing. Apabila syarat yang satu itu terpenuhi, maka akan mudah untuk ke depannya memajukan Kenjeran serta memakmurkan warganya. Jangan lupa bahwa sektor bahari merupakan salah satu sendi utama bangsa ini.

Penulis memutuskan berhenti sejenak di sebuah kios yang menjual berbagai macam keripik hasil laut. Seorang pemiliknya yang bernama Mas Ayi mengatakan bahwa usaha penjualan hasil laut ini sebenarnya cukup ramai, apalagi menjelang bulan Ramadan serta Idul Fitri.

Penulis memilih untuk membeli satu ons keripik terung untuk dibawa pulang. Harganya cukup terjangkau, yakni cukup 15 ribu dibandingkan harga pasaran yang berkisar hingga 18 ribu untuk berat yang sama. Tentu saja ini karena minus biaya distribusi, jadi dijamin produk yang dijual fresh from the oven ocean.

Menggiurkan: Hasil Laut Berupa Keripik yang Siap Dijual.

Murah: Langsung Dipanen dari Nelayan.

Tak jauh dari kios, bibir pantai sudah terlihat. Sembari membayangkan nikmatnya makan kekayaan hasil laut negeri sendiri, penulis sempat merenung akan masa depan pantai ini sambil melempar pandangan jauh ke tengah laut. Masyarakatnya yang pantang menyerah serta murah senyum, potensi wisatanya yang luar biasa, serta kekayaan alamnya yang hebat, sekali lagi meyakinkan penulis bahwa tidak ada alasan untuk tidak mencintai kota ini. Dan penulis yakin, suatu saat Kenjeran akan kembali menemui masa keemasannya yang jauh lebih indah.

2 Tanggapan to “Kenjeran, Menggali Kembali Mutiara yang Terpendam.”

  1. MENONE 27 Juli 2011 pada 8:19 pm #

    semoga makin ramai n menjadi tujuan wisata warga kayak dl lagi ya sob……

    Salam persahabatan selalu dr MENONE

    • surabayastory 27 Juli 2011 pada 8:45 pm #

      amiinn…makasih komennya, sama bantu promosi ya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: