Kramat Gantung, Saksi Eksistensi Keraton di Surabaya

24 Jul

Coba tanyakan kepada warga Surabaya yang telah berdiam lama di kota ini: manakah pusat penjualan karpet, gabus, serta bahan pembuat sepatu? Sebagian besar pasti akan menjawab Jalan Kramat Gantung. Memang, sekilas nama ini akan mengingatkan kita kepada kawasan Kramat Gantung di Jakarta (yang merupakan daerah prostitusi) sebab jalan ini letaknya tidak berada di daerah yang banyak dijangkau orang seperti jalan Ahmad Yani ataupun jalan Pemuda.

Menurut pengamatan penulis, jalan Kramat Gantung adalah “penghubung” antara Surabaya Tua dan Surabaya Modern. Karena apabila kita bepergian dari arah jalan Pasar Besar (representasi Surabaya Tua) dan melewati jalan ini, kita akan keluar menuju  jalan Gemblongan yang sudah benar-benar beda suasananya.

Sebuah Gang di Kawasan Surabaya Tua

Jalan Gemblongan, di Sini Atmosfernya Sudah Berbeda.

Siapa tahu, di balik nama Kramat Gantung terselip sebuah sejarah yang menarik tentang Surabaya. Ternyata dahulu di kawasan inilah terkonsentrasi Kadipaten Surabaya, yang merupakan cabang dari Keraton Mataraman. Makanya, di sini banyak sekali gang bernama “Kraton” yang menghubungkan jalan Kramat Gantung dan Baliwerti. Dan apabila pembaca mau melihat-lihat, akan ada banyak gapura gang bercirikan tempo dulu nan eksotis.

Ada dua versi asal-usul nama Kramat Gantung yang saya dapatkan, yang pertama mengatakan bahwa nama ini berasal dari masa kolonial, yakni ketika tempat ini kerap menjadi lokasi penggantungan warga pribumi yang membangkang terhadap pemerintah Belanda; versi kedua menyatakan bahwa asal namanya adalah dari kisah seorang prajurit sakti dari daerah itu yang hanya bisa mati dengan cara dihukum gantung. Yang mana saja versi yang benar, keduanya menggambarkan bahwa sejarah yang cukup pilu turut pula mengiringi perkembangan jalan Kramat Gantung.

Morfologi jalan ini begitu khas menurut saya, cukup lebar dan penuh dengan pertokoan tua di sekitarnya, dipermanis dengan gang-gang kecil yang menambah nilai nostalgia ketika melintasi jalan ini. Hanya saja terkadang ramai oleh mobil angkutan yang membongkar muat bahan-bahan dagangan seperti plastik dan karpet. Namun tetap saja keramaian itu berbeda dengan yang saya rasakan di sudut-sudut kota Surabaya lainnya.

Seorang Pria Menikmati Koran Paginya di Pinggiran Jalan Kramat Gantung.

Siapa Sangka, Jalan yang Tenang Ini Pernah Jadi Saksi Bisu Digantungnya Arek-Arek Suroboyo pada masa penjajahan Belanda.

Meskipun keren, namun jalan Kramat Gantung ini seakan kurang populer sebagai spot pengambilan gambar bagi para fotografer. Bagi yang ingin berkunjung, sebaiknya datanglah sebelum pukul 08.00 WIB untuk mendapatkan spot yang sepi dan untuk mendapatkan gambar aktivitas pagi warganya. Jangan khawatir bagi yang belum sempat sarapan, jalan ini juga dekat dengan kawasan China Town (Jagalan dan sekitarnya) serta Kampung Arab yang terkenal sebagai gudangnya kudapan bernuansa impor.

2 Tanggapan to “Kramat Gantung, Saksi Eksistensi Keraton di Surabaya”

  1. jazijannati 25 Juli 2011 pada 6:38 am #

    eh bim aku sudah baca blogmu. Saran ya posting ttg tugu pahlawan sama museumnya gitu kan jg pusat cerita surabaya.

    • surabayastory 25 Juli 2011 pada 2:59 pm #

      tugu pahlawan? boleh, usulan ditampung ya sementara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: