Arsip | 8:37 pm

Kramat Gantung, Saksi Eksistensi Keraton di Surabaya

24 Jul

Coba tanyakan kepada warga Surabaya yang telah berdiam lama di kota ini: manakah pusat penjualan karpet, gabus, serta bahan pembuat sepatu? Sebagian besar pasti akan menjawab Jalan Kramat Gantung. Memang, sekilas nama ini akan mengingatkan kita kepada kawasan Kramat Gantung di Jakarta (yang merupakan daerah prostitusi) sebab jalan ini letaknya tidak berada di daerah yang banyak dijangkau orang seperti jalan Ahmad Yani ataupun jalan Pemuda.

Menurut pengamatan penulis, jalan Kramat Gantung adalah “penghubung” antara Surabaya Tua dan Surabaya Modern. Karena apabila kita bepergian dari arah jalan Pasar Besar (representasi Surabaya Tua) dan melewati jalan ini, kita akan keluar menuju  jalan Gemblongan yang sudah benar-benar beda suasananya.

Sebuah Gang di Kawasan Surabaya Tua

Jalan Gemblongan, di Sini Atmosfernya Sudah Berbeda.

Siapa tahu, di balik nama Kramat Gantung terselip sebuah sejarah yang menarik tentang Surabaya. Ternyata dahulu di kawasan inilah terkonsentrasi Kadipaten Surabaya, yang merupakan cabang dari Keraton Mataraman. Makanya, di sini banyak sekali gang bernama “Kraton” yang menghubungkan jalan Kramat Gantung dan Baliwerti. Dan apabila pembaca mau melihat-lihat, akan ada banyak gapura gang bercirikan tempo dulu nan eksotis.

Ada dua versi asal-usul nama Kramat Gantung yang saya dapatkan, yang pertama mengatakan bahwa nama ini berasal dari masa kolonial, yakni ketika tempat ini kerap menjadi lokasi penggantungan warga pribumi yang membangkang terhadap pemerintah Belanda; versi kedua menyatakan bahwa asal namanya adalah dari kisah seorang prajurit sakti dari daerah itu yang hanya bisa mati dengan cara dihukum gantung. Yang mana saja versi yang benar, keduanya menggambarkan bahwa sejarah yang cukup pilu turut pula mengiringi perkembangan jalan Kramat Gantung.

Morfologi jalan ini begitu khas menurut saya, cukup lebar dan penuh dengan pertokoan tua di sekitarnya, dipermanis dengan gang-gang kecil yang menambah nilai nostalgia ketika melintasi jalan ini. Hanya saja terkadang ramai oleh mobil angkutan yang membongkar muat bahan-bahan dagangan seperti plastik dan karpet. Namun tetap saja keramaian itu berbeda dengan yang saya rasakan di sudut-sudut kota Surabaya lainnya.

Seorang Pria Menikmati Koran Paginya di Pinggiran Jalan Kramat Gantung.

Siapa Sangka, Jalan yang Tenang Ini Pernah Jadi Saksi Bisu Digantungnya Arek-Arek Suroboyo pada masa penjajahan Belanda.

Meskipun keren, namun jalan Kramat Gantung ini seakan kurang populer sebagai spot pengambilan gambar bagi para fotografer. Bagi yang ingin berkunjung, sebaiknya datanglah sebelum pukul 08.00 WIB untuk mendapatkan spot yang sepi dan untuk mendapatkan gambar aktivitas pagi warganya. Jangan khawatir bagi yang belum sempat sarapan, jalan ini juga dekat dengan kawasan China Town (Jagalan dan sekitarnya) serta Kampung Arab yang terkenal sebagai gudangnya kudapan bernuansa impor.

Iklan

Dagelan Surabaya: Surat Wasiat

24 Jul

Suatu hari ada seorang bapak pengusaha kaya bernama Paijo yang sakit keras, dia sudah lama dirawat di RS Darmo. Karena kata sang dokter kondisinya memburuk dan divonis umurnya tak panjang lagi, seorang dari anaknya pun berinisiatif memanggil seorang modin (juru doa) untuk memudahkan ayahnya menjalani sakaratul maut.

Tak lama kemudian datanglah seorang modin bersama dengan anak tersebut, rupanya di sana sudah banyak pengunjung yang berkumpul mengitari sang bapak yang terbaring lemah. Segera saja modin mengambil tempat duduk tepat di samping Paijo dan memimpin doa dengan diikuti para pengunjung yang lainnya.

Lalu, terlihat respon dari Paijo,  ia membelalakkan mata dan tangannya bergerak-gerak, terlihat seperti gerakan menulis sesuatu.

Mas, tolong pak’e dike’i potlot karo kertas, sawangane arep nulis surat wasiat!” Seru pak modin kepada si anak pengusaha tadi. Buru-buru ia mengambil selembar kertas kecil dan pulpen dari sakunya lalu disodorkan ke tangan ayahnya, dengan tangan yang bergemetar kencang bapak tadi menuliskan sesuatu. Sementara itu, modin memeruskan bacaan doanya sembari diikuti oleh para penjenguk.

Setelah menuliskan surat tersebut, wafatlah  Pak Paijo.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, ini surat wasiatnya saya bawa dulu ya, tidak etis kalau kita buka di sini. Nanti kita cari tahu isinya pada saat pemakaman”

Sorenya, diadakanlah upacara pemakaman Paijo yang dihadiri banyak koleganya dari kalangan pengusaha. Pak modin seperti biasa, bertugas membaca doa di samping makam Paijo. Setelah semuanya beres, modin itu berdiri di antara sekumpulan peziarah sambil mengangkat tinggi-tinggi surat terakhir dari Pak Paijo.

“Para ziarah, ini wasiatnya Pak Paijo, saya mohon para hadirin diam karena pasti beliau meninggalkan suatu perkara yang sangat penting bagi kita semua”

Sekejap hadirin langsung diam dan mengalihkan perhatian pada pak modin yang berdiri sendiri di samping makam Paijo.

Pak modin mengambil sikap seperti akan membaca puisi, menarik suara sejenak, dan tiba-tiba nafasnya tercekat, alangkah terkejutnya ia setelah membaca isi yang tertulis dalam kertas kecil itu:

“MODIN GOBLOG, SELANG OKSIGENKU OJOK MBOKLUNGGUHI, NGALEH!”