Tambak Bayan, Kampung Tua di Tengah Sengketa.

23 Jul

Pagi itu sejatinya penulis ingin meliput tentang House of Sampoerna, namun ketika melewati sebuah kampung, penulis terhenyak dengan adanya sebuah spanduk bernada menyentil.

Protes: Memasang Spanduk Sebagai Ungkapan Kekesalan Warga

Ya, spanduk itu rupanya terletak tak jauh dari akses keluar sebuah hotel berbintang yang ada di kawasan tersebut. Penasaran apa gerangan maksud dari spanduk tersebut, penulis mendatangi warga setempat dan bertanya.

Seorang pengayuh becak setempat bernama Pak Alex mengungkapkan, spanduk itu adalah ungkapan kekesalan warga terhadap satu pihak pengusaha yang lima tahun lalu mengakuisisi lahan hunian mereka untuk dijadikan sebuah hotel. Pihak pengusaha telah mengklaim memberikan uang ganti rugi atas penggusuran tanah rumah warga setempat, namun warga mengatakan bahwa itu hanyalah bohong semata.

“Spanduk itu ya gara-gara warga sini jengkel mas” Tutur Pak Alex dengan raut muka jengkel, tukang becak yang telah 25 tahun mengabdi di kampung ini pun menambahkan, bahwa hingga saat ini proses ganti rugi belum beres sama sekali.

Lalu, apa hubungannya dengan hotel mesum? Usut punya usut, sang pengusaha ini rupanya terkenal memiliki reputasi sebagai pemilik hotel yang dianggap bermasalah. Diperkuat lagi dengan fakta bahwa hotel yang dibangunnya kali ini berada di kawasan yang cenderung sulit diakses oleh orang awam.

Kemelut menarik itu membuat penulis menginjakkan kaki lebih lama di kampung yang adem ayem ini. Ya, kampung ini bernama Tambak Bayan, sebuah kawasan perkampungan kecil yang terletak di daerah China Town ini memang sudah legendaris. Warga setempat mengatakan bahwa warga asli Tambak Bayan adalah generasi ketiga dari imigran Tiongkok asal daerah Guangdong (Canton). Dulu di kampung ini pernah berdiri sebuah kampus universitas swasta yakni UPN Veteran, namun kini bangunan tersebut sudah diganti dengan hotel yang penulis maksud di atas.

Saat ini, warga Tambak Bayan sedang bergelut dengan arus modernisasi yang mereka sebut sebagai “Tsunami” yang mereka nilai mampu menghilangkan kultur asli warga Tambak Bayan. Sengketa yang terjadi inilah yang menjadi faktor utama bagi mereka, warga sangat takut akan kehilangan lahan tinggal yang nantinya otomatis akan berdampak langsung pada kehangatan komunikasi mereka: kehangatan autentik khas perkampungan Surabaya. Betapa tidak, dari kasus sengketa tanah dengan pihak hotel ini, kurang lebih 10 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.

Untunglah warga Tambak Bayan juga merupakan sekumpulan orang-orang kreatif, komunitas seniman yang mereka namakan “Refugees of Future City” ini mengangkat protes atas pengambilan lahan ini dengan jalan membuat mural pada dinding-dinding tempat tinggal yang tersisa, kebanyakan berciri Tiongkok, khas warga asli kampung Tambak Bayan. Selain itu mural dengan tema-tema sosial juga mereka goreskan sebagai cermin dari aspirasi mereka, mereka berharap bahwa mural-mural itu mampu menjembatani keinginan mereka dalam menjalani hidup yang tentram sebagai satu kampung di masa depan. “Tanah mungkin dimiliki developer, tapi tembok itu akan digunakan untuk kehidupan sehari-hari penduduknya” tulis mereka pada sebuah spanduk oranye.

Warga VS Developer: Pemukiman Warga dengan Hotel di Belakangnya.

"Kami Tentram di Sini!": Mural Sebagai Penyambung Lidah.

Sebagian warga rupanya agak canggung dengan kehadiran penulis, sehingga penulis tidak sempat mengambil terlalu banyak gambar. Namun wawancara singkat dengan Pak Alex benar-benar membuka pikiran, betapa ada selembar sisi lain yang patut dikuak dari sebuah kota Metropolitan. Tanpa menghiraukan aspirasi serta ketentraman warga kecil seperti mereka, modernisasi selamanya hanya akan dianggap sebagai tsunami. Masih banyak saudara di sekitar kita yang rupanya membutuhkan perhatian dari petinggi-petinggi rakyat, karena bagaimana juga, mereka dan kampung tua ini adalah saksi sejarah dari bangkitnya Surabaya yang kita tinggali saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: