Arsip | 2:37 pm

Bubur Ayam Jalan Jawa

22 Jul

Bagi warga Surabaya, pasti tidak asing lagi dengan kuliner yang satu ini, ya, bubur ayam Jakarta yang biasanya setia menanti pelanggan di Jalan Jawa (dekat Kelt dan SMPN 6 Surabaya) ini memang sudah terkenal sebagai spot sarapan favorit bagi sebagian warga kota pahlawan, khususnya kalangan penggila sepeda pancal yang umumnya menjadi pelanggan tetap di sini.

Penulis beruntung dapat menjadi pelanggan pertama ketika ingin mencoba bubur yang satu ini, maklum, menu yang satu ini dikenal cepat sekali ludes. Bahkan pada akhir pekan biasanya sudah bubaran sebelum jam sembilan pagi. Penulis berangkat dari rumah dengan menggunakan sepeda pada pukul 05.30, sehingga pas dengan datangnya gerobak bubur ayam yang bersiap untuk standby kira-kira pukul 05.45.

PERTAMAX GAN!!! YEEEAHHHH

Semangkuk bubur ayam dibanderol seharga Rp7.000 rupiah, tambah Rp3.000 rupiah untuk topping jeroan (ati, ampela, atau salah satunya saja). Untuk minumannya, si penjual bersimbiosis mutualisme dengan pemilik warung di belakang gerobaknya (tidak terlihat di foto, belum buka) untuk menyediakan teh manis hangat sekaligus tempat duduk buat pengunjung.

Penulis akhirnya memesan semangkuk bubur ayam dengan topping ampela, porsinya memang standar menu sarapan, namun rasanya setimpal dengan harga yang ditawarkan. Yang penulis suka adalah rasanya yang mild, tidak terlalu dominan rempah-rempah untuk ukuran bubur ayam, karena biasanya ada yang rasa jahenya terlalu kuat. Selain itu rasa krupuknya yang menyatu serta topping jeroannya yang gurih juga menjadi nilai plus buat bubur ayam yang satu ini.

Paaak, minta paaaak (source: kaskus.us)

Pengemasan untuk pesanan take away juga patut diacungi jempol, dilakukan dengan cukup telaten dan bersih sehingga memudahkan konsumen untuk menikmatinya di rumah sebagai oleh-oleh buat keluarga tercinta.

Saran penulis, usahakan datang pagi-pagi terutama pada hari Sabtu atau Minggu kalau tidak ingin kehabisan, terutama bagi yang ingin merasakan nikmatnya topping jeroan ala Bubur Ayam Jalan Jawa.

Selamat berwisata kuliner, salam kemalan badhogan!

Iklan

Tunjungan Siap Bangkit Kembali?

22 Jul

“Rek ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan…”

Sepotong lirik lagu karangan Cak Mus Mulyadi itu seakan sudah jadi lagu wajib bagi orang Surabaya, bahkan telah menjadi ikon identitas kota Surabaya itu sendiri. Tiap ada liputan berita mengenai Surabaya di televisi mana saja, kemungkinan besar lagu inilah yang akan diputar sebagai backsound.

Kawasan Tunjungan merupakan spot penting apabila kita mau menyebut tentang kota Surabaya, bahkan Hotel Majapahit yang tersohor itu pun terletak di kawasan ini.

Namun belakangan kawasan ini sedikit merana, bangunan-bangunan dibiarkan mangkrak tak berpenghuni, toko-toko legendaris yang dulu mewarnai hari para warganya pun sebagian gulung tikar. Penulis masih ingat waktu dulu diajak berbelanja di toko Sari Agung (sebelah TEC) sekitar akhir periode 90an bersama keluarga, namun kini yang tersisa hanyalah sebuah blok yang tertutup pintu besi, dan sebuah tulisan petunjuk parkir pada pilar di depannya, yang menunjukkan bahwa dulu pernah ada sebuah toko yang bernama Sari Agung. Patut disayangkan, apalagi setelah mendengar cerita orang tua bahwa toko itu dahulu merupakan jujukan utama pelajar Surabaya ketika ingin membeli perlengkapan sekolah.

Spot Mangkrak di Tunjungan: Harusnya Bisa Lebih Baik Lagi

Belum lagi kawasan Jalan Tanjung Anom (dekat SMPN 4 Surabaya) yang tak terawat, tempat ini bahkan terlihat tak ramah bagi pengunjung karena suasananya yang sepi dan gelap bahkan pada siang hari pun. Penulis masih ingat bahwa di sana dulu merupakan gudangnya alat-alat elektronik macam radio maupun televisi. Sayang kini tidak mencerminkan hal yang demikian karena kondisinya becek, lebih mirip pasar. Sehingga kini orang-orang hanya akan terlintas Tunjungan Plaza di benak mereka apabila disodori nama “Tunjungan” ketimbang tempat-tempat macam Siola atau Toko Nam.

Padahal apabila diberi perhatian khusus, Tunjungan mampu bangkit lagi menjadi kompleks perdagangan yang berkualitas di Indonesia. Berbagai macam barang dagangan mulai dari modern hingga asli Indonesia tersaji lengkap, membentang sepanjang jalan yang menghubungkan Jalan Embong Malang serta Jalan Gemblongan ini.
Upaya revitalisasi kawasan ini pun timbul kembali, Tunjungan City, itulah proyek visioner yang dicanangkan Pemkot Surabaya dalam rangka membangkitkan kembali Tunjungan sebagai Central Business District (CBD) Surabaya yang dahulu sempat menikmati masa keemasannya pada periode 80an. Proyek yang dikabarkan menghabiskan dana 20 miliar rupiah inilah yang diharapkan mampu mengembalikan animo masyarakat dalam berkunjung ke Tunjungan, serta sebagai sarana promosi bagi Surabaya sendiri.

Sejenak patut kita menengok ke proyek renovasi bangunan Siola. Gedung yang dahulunya bernama White Laidlaw ini kini sedang ada dalam tahap penyelesaian akhir. Cat berwarna krem nan anggun kini membalut tampilan luar gedung yang pernah dijadikan pusat perbelanjaan oleh Ramayana Group ini. Sedangkan interiornya kini dalam tahap penyelesaian akhir, nuansa putih yang indah serta pengaktifan kembali eskalator gedungnya dapat kita lihat dari luar gedung sembari menikmati suasana di jalan Tunjungan. Rencananya, gedung ini akan diisi dengan berbagai macam pusat perbelanjaan seperti department store ataupun pusat hiburan keluarga. Bahkan akan ada wacana untuk mengintegrasikan bangunan cagar budaya ini dengan hotel berbintang.

Tampak Depan Proyek Gedung Tunjungan City dari Jalan Praban.

Potensial: Keramaian Saat Masa Jayanya Sempat Mengingatkan Pada Kawasan Perbelanjaan di Hongkong

Penulis berharap semoga proyek ini dapat berjalan tepat sasaran serta didukung oleh berbagai pihak termasuk warga kota Surabaya. Penulis juga memimpikan suatu hari nanti, wisatawan asing akan menjadikan Tunjungan sebagai shopping centre yang mendunia.

Teruslah berbenah, Tunjungan, kami tak sabar menantikanmu bangkit lagi sebagai ikon pariwisata Surabaya!

Surabaya

22 Jul

Kota kedua terbesar di Indonesia ini memiliki tempat khusus di hati penulis, bukan hanya karena di tempat ini penulis dilahirkan, namun karena adanya sebuah potensi luar biasa yang dimiliki oleh kota ini dalam menjadi sebuah metropolitan yang hebat. Seperti raksasa yang sedang dalam masa pertumbuhan, kalau boleh dianalogikan, terus bergerak dinamis menuju arus modernisasi.

Satu hal yang penulis cintai pula adalah betapa kota ini tetap memegang ciri khasnya, sebagaimana kota besar lain di Asia, Surabaya dalam pandangan penulis merupakan paduan yang indah antara modern dan tradisional, dan itu makin dipercantik dengan cultural diversity  yang tinggi dari penduduknya.

Banyak yang memprediksi bahwa di masa depan, Surabaya akan sejajar dengan kota penting dunia lainnya seperti Busan maupun Seattle.

Surabaya: Raksasa yang Sedang Tumbuh

Saat ini, Surabaya telah mempersiapkan citranya dalam menjadi kota penting di Asia Tenggara dengan jalan mempercantik penampilannya. Berbagai macam usaha sinergi rakyat dan pemerintah seperti “Surabaya Green and Clean” maupun “Sparkling Surabaya” menjadi salah satu faktor keberhasilan Surabaya dalam memperbaiki citranya. Karakter orang Surabaya yang bonek, termasuk rela melakukan usaha demi kemajuan kotanya, juga turut mengangkat nama Surabaya sehingga mampu go-nasional sebagai “The New Green City”.

Tak sia-sia, tahun ini total Surabaya berhasil memenangi lima penghargaan dalam kompetisi Adipura. Surabaya, yang sepuluh tahun lalu hanyalah dikenal sebagai kota besar yang gersang dan panas, kini dikenal sebagai salah satu kota terindah di Indonesia.

Bahkan mulai tahun lalu, program “Surabaya Berbunga” juga sudah mulai dijalankan. Apabila sinergi ini berlangsung konsisten, jangan heran jika lima tahun lagi predikat Kota Kembang akan hijrah ke Surabaya.

Taman Pelangi, Jalan Ahmad Yani.

Dalam bidang pariwisata, penulis selalu yakin bahwa Surabaya tak kalah dengan Yogyakarta atau bahkan Singapura sekalipun, kita bahkan memiliki potensi yang apabila digali tak kalah besar dibanding kota-kota tersebut. Yang kita butuhkan hanyalah adanya promosi gencar serta kebanggaan dari seluruh elemen masyarakat untuk memelihara keunikan kota ini, karena rasa bangga itulah yang selalu ada di balik kemajuan tiap kota lainnya.

Karena kita adalah duta bagi rumah kita sendiri. Dan kita akan berbangga apabila apabila suatu hari nanti kita melihat Surabaya sebagai ikon kemajuan bangsa ini pula.

Siapa tahu juga suatu hari nanti di Singapura akan ada kawasan hunian prestisius berjuluk “Suroboyone Singapura” yang terinspirasi dari keunikan Surabaya seperti “The Singapore of Surabaya” milik Ciputra Group? 😉

That’s it, Surabaya adalah milik saya, anda, dan kita semua.

Tentang SurabayaStory

22 Jul

Assalamualaikum rek!

Selamat datang di SurabayaStory, sebuah blog dari dan untuk Surabaya. Berawal dari hobi jalan-jalan keliling Surabaya, penulis berusaha untuk membagi catatan kecil tentang hal-hal menarik dari kota pahlawan ini. Penulis berharap blog ini mampu menjadi referensi bagi pembaca yang ingin mengenal hal lain dari kota Surabaya, khususnya dari luar Surabaya.

Selamat membaca, semoga bermanfaat 😀

Penulis