Arsip | Juli, 2011

Toko Lawang Agung, Pusat Kurma Terlengkap di Indonesia.

31 Jul

Bulan suci Ramadan telah menanti di depan mata, sudah menjadi pemandangan umum apabila kaum muslim Indonesia—khususnya di kota tercinta ini—ramai-ramai berburu sesuatu untuk dijadikan kudapan spesial, baik untuk berbuka maupun sahur. Di antara makanan tersebut, kurma adalah salah satu yang lazim ditemui. Buah yang tumbuh di kawasan gurun ini memang identik dengan bulan Ramadan karena memang konsumsi buah satu ini lumayan dianjurkan oleh agama. Selain itu, kurma juga terbukti secara klinis ideal sebagai asupan energi saat menjalani puasa.

Di antara toko maupun supermarket yang menjual kurma, ada sebuah pusat penjualan kurma di Surabaya yang mengklaim diri sebagai yang terlengkap di Indonesia, yaitu toko Lawang Agung. Terletak di daerah kampung Arab Ampel, tepatnya di Jalan Nyamplungan 75 Surabaya, toko ini bagaikan surga bagi mereka yang ingin berburu kurma untuk takjil maupun hanya ingin sekedar menjelajahi variasi buah asal jazirah Arab ini.

Di toko yang telah berdiri sejak tahun 1950-an ini, pembaca bisa menemui berbagai macam jenis kurma, bahkan ada lebih dari dua puluh jenis apabila stok sedang penuh. Mulai dari kurma asal Mesir yang ekonomis, kurma Tunisia yang legit dengan aftertaste  yang khas, hingga kurma Ajwa yang hitam manis dan konon bibitnya ditanam langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

Harganya pun bervariasi, berkisar sekitar 15 ribu rupiah perkilo hingga ratusan ribu rupiah untuk yang paling mahal. Yang paling mahal biasanya berjenis ruthab atau setengah matang karena lebih lezat dan empuk. Penulis lalu membeli sekilo kurma Mesir seharga 20 ribu rupiah. Tapi harga ini juga bervariasi, tergantung dari tingginya permintaan pula, umumnya harga kurma melonjak menjelang hingga pertengahan Ramadan karena saat itulah kurma paling banyak dicari.

Selain menjual buah kurma, Toko Lawang Agung juga menjual berbagai macam produk berbau Arab lainnya seperti air zam-zam, madu yaman, hingga makanan khas Arab yang sudah dibekukan macam kebab atau sambosa. Hiasan bernuansa khas juga dapat ditemukan di sini, seperti teko dan gelas untuk menyajikan air zam-zam.

Tampilan Depan Toko Lawang Agung (source: tokolawangagung.blogspot.com)

Bagi yang ingin memelihara kesehatan, Toko Lawang Agung juga dikenal memiliki koleksi obat herbal alamiah yang diramu berdasarkan cara islami semacam kapsul habbatussauda (jintan hitam) yang berkhasiat mengobati berbagai macam penyakit seperti hipertensi, gangguan ginjal, hingga mencagah timbulnya kanker.

“Sesungguhnya di dalam Habbatussauda terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit, kecuali kematian” {Shohih HR Bukhori, no. 5688; Fathul Baari, X/143; dan Muslim, no. 2215, source: nurusy-syifa.com}

Akhirnya penulis juga membeli sekotak kebab beku, total ganti rugi yang harus dibayar adalah Rp35.000 untuk sekotak berisi sepuluh kebab, cukup hemat dibandingkan membeli per satuan yang bisa jadi  mahal.

Air Zam-Zam, Teko, Serta Gelas Minumnya. Semua Ada di Lawang Agung.

Kurma Mesir yang Penulis Beli dari Toko Lawang Agung. Siap Tempur!

Tentu saja Lawang Agung bisa menjadi solusi bagi pembaca yang selama ini mencari pusat penjualan kurma yang lengkap dan dapat dipercaya. Sembari kita menambah wawasan dengan berziarah ke situs religi Ampel, apa salahnya kita mencoba toko yang satu ini. Tunggu apa lagi, selamat berburu kurma di Toko Lawang Agung!

Iklan

Kenjeran, Menggali Kembali Mutiara yang Terpendam.

27 Jul

Setelah pembangunan jembatan Suramadu rampung, kawasan pesisir adalah sektor yang saat ini paling disorot perkembangannya. Diantaranya tersebut sebuah nama yakni tempat wisata Pantai Kenjeran. Nama yang satu ini memang rajin nampang bahkan di brosur-brosur pariwisata Surabaya sebagai tempat wisata unggulan.

Sebersit pikiran selalu terlintas di benak tiap kali melihat nama Kenjeran dipromosikan sebagai tempat wisata andalan kota Surabaya, apakah kawasan ini sudah siap bersaing dengan tempat wisata bahari lainnya? Mengingat dari segi pengelolaan, keindahan, maupun kebersihan Kenjeran masih kalah jauh dengan Losari di Makassar, Ancol di Jakarta, apalagi Kuta di Bali yang sudah mendunia. Masih malu rasanya untuk memamerkan Kenjeran milik kota ini yang masih belum siap.

Pernahkah pembaca mendengar ungkapan: “No surfing at Kenjeran Beach! Bukannya apa, selain nggak ada ombak airnya keruh dan kotor!” yang dipopulerkan oleh Cakcuk, sebuah distro lokal Surabaya? Mungkin itu sudah cukup bisa menggambarkan pandangan warga Surabaya mengenai pantai kebanggaannya ini. Pantai yang lokasinya tak jauh dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) ini saat ini memang dikenal sebagai tempat wisata yang kurang memiliki nilai plus. Bahkan sebagian orang Surabaya pun memiliki ungkapan “Malam mingguan di Kenjeran” sebagai olok-olok karena Kenjeran belakangan ditengarai sebagai lokasi favorit pasangan mesum.

Sekitar 15-20 tahun yang lalu, (katanya) pamor Kenjeran sebagai tempat wisata sempat jauh lebih ciamik dari saat ini. Masuk akal juga, karena bangunan-bangunan yang ada di kompleks wisata Kenjeran sejatinya terlihat megah, hanya saja tidak terawat, menyiratkan kesan angker dan pengap.

Salah satu dari bangunan yang tidak terawat itu adalah bekas kolam pancing yang terletak kira-kira 500 meter dari akses utama menuju Kenpark. Tempat ini menurut penulis lebih layak dijadikan arena uji nyali ketimbang kolam pancing. Besi tua bertebaran di sekitar gerbangnya, belum lagi tumbuhan liar yang merajalela di sana-sini. Sejauh yang penulis tahu, kini bekas kolam pancing ini digunakan bermain bola tiap sore oleh anak-anak penduduk sekitar.

Kolam Pancing Pantai Ria: Untung Belum Didatangi Kru Dunia Lain.

Selain di Kebun Binatang Surabaya dan di Monkasel, Ada yang Pernah Lihat Patung Suro-Boyo di Sini?

Namun saat ini Kenjeran tidak sepenuhnya mati suri, sebagaimana kawasan utara Surabaya lainnya mulai berbenah diri. Saat penulis berkunjung kembali, terlihat akses menuju Kenjeran Park (Kenpark) sedang mengalami perbaikan. Tempat wisata yang berisikan arena balap kuda, pusat kebugaran jasmani, maupun kolam renang ini sepertinya sedang menyadari potensinya untuk menjadi tempat wisata yang benar-benar dapat dibanggakan oleh masyarakat Surabaya lebih-lebih Jawa Timur.

Gerbang masuk yang dahulu terkesan garing dan jadul kini dipercantik dengan warna jambon ngejreng yang dijamin bakalan menarik tiap mata yang melintasinya. Melihatnya, otak penulis membayangkan bahwa tempat ini nantinya akan se-ngetop Taman Impian Jaya Ancol (bermimpi itu gratis!)

Lebih Mengundang: Gerbang Kenpark yang Baru.

Semoga Suatu Hari Kenjeran Bisa Seramai Ini. (source: wartakotalive.com)

Semangat Pak: Pekerja Sedang Membenahi Akses Menuju Kenpark.

Lain Kenpark, lain pula Pantai Kenjeran Baru. Tempat wisata yang terletak di Jalan Sukolilo 100 ini lebih menonjolkan kapasitasnya sebagai wahana wisata budaya, tempat ini dikenal sangat kental dengan nuansa Tiongkok. Karena di sini memang banyak sekali bangunan berarsitektur Tionghoa, mulai dari patung Dewi Kwan Im yang telah mencetak rekor MURI hingga Pagoda Tian Ti yang berdiri kokoh hingga terlihat dari jembatan Suramadu. Sebuah seaside restaurant yang penuh lampion juga dapat ditemui di sini, seakan menggantikan posisi Kya-Kya Kembang Jepun yang belakangan sudah ditutup dan menyisakan gerbangnya saja.

Kenjeran Baru juga terkenal sebagai surga foto bagi para pemburu gambar baik pemula maupun profesional. Tak perlu mencari spot ke luar negeri untuk mendapatkan gambar nan eksotis khas negeri Asia Timur, cukup datang ke Kenjeran dan akan sulit bagi orang awam untuk membedakan mana negeri Tirai Bambu yang asli dan mana yang KW Super. Sangat dianjurkan bagi calon pengantin baru maupun bagi siswa-siswi SMA yang mencari lokasi foto keren.

Pagoda Tian Ti (source: Surabayapost.co.id)

Satu lagi yang tak dapat dipisahkan dari Kenjeran adalah potensi hasil lautnya. Ketika penulis datang ke Kenjeran, semerbak aroma yang unforgettable pun datang menyapa, wangi hasil laut Indonesia yang begitu kaya, dengan semerbak yang masih terkenang saat mengunjungi Kenjeran untuk kali pertama. Di sekitar kawasan pantai Kenjeran, banyak sekali pedagang hasil laut yang tergabung dalam suatu sentra perdagangan. Namun lokasi ini seakan tak terjamah oleh masyarakat Surabaya, letaknya terselubung di antara pemukiman warga yang kumuh dan terasa asing bahkan bagi penulis yang merupakan warga Surabaya.

Sebenarnya, tempat wisata Pantai Kenjeran Baru dan Lama, Kenpark, serta Sentra Perdagangan Hasil Laut di kawasan Sukolilo ini merupakan sebuah kombinasi yang dahsyat sebagai suatu wahana wisata bahari apabila diintegrasikan dengan sempurna oleh pihak pengelola. Menurut penulis, hal pertama yang harus dibenahi adalah kebersihan serta keindahannya. Karena bagaimana juga, kesan pertama yang menjanjikan adalah syarat mutlak bagi suatu tempat wisata untuk bangkit dan mampu bersaing. Apabila syarat yang satu itu terpenuhi, maka akan mudah untuk ke depannya memajukan Kenjeran serta memakmurkan warganya. Jangan lupa bahwa sektor bahari merupakan salah satu sendi utama bangsa ini.

Penulis memutuskan berhenti sejenak di sebuah kios yang menjual berbagai macam keripik hasil laut. Seorang pemiliknya yang bernama Mas Ayi mengatakan bahwa usaha penjualan hasil laut ini sebenarnya cukup ramai, apalagi menjelang bulan Ramadan serta Idul Fitri.

Penulis memilih untuk membeli satu ons keripik terung untuk dibawa pulang. Harganya cukup terjangkau, yakni cukup 15 ribu dibandingkan harga pasaran yang berkisar hingga 18 ribu untuk berat yang sama. Tentu saja ini karena minus biaya distribusi, jadi dijamin produk yang dijual fresh from the oven ocean.

Menggiurkan: Hasil Laut Berupa Keripik yang Siap Dijual.

Murah: Langsung Dipanen dari Nelayan.

Tak jauh dari kios, bibir pantai sudah terlihat. Sembari membayangkan nikmatnya makan kekayaan hasil laut negeri sendiri, penulis sempat merenung akan masa depan pantai ini sambil melempar pandangan jauh ke tengah laut. Masyarakatnya yang pantang menyerah serta murah senyum, potensi wisatanya yang luar biasa, serta kekayaan alamnya yang hebat, sekali lagi meyakinkan penulis bahwa tidak ada alasan untuk tidak mencintai kota ini. Dan penulis yakin, suatu saat Kenjeran akan kembali menemui masa keemasannya yang jauh lebih indah.

DagelanStory: Kentut

25 Jul

Ada seorang wanita bernama Tumini yang mengeluh punya masalah dengan kentutnya yang tidak terkontrol, ia pun pergi ke puskesmas untuk menemui seorang dokter.

Tumini: “Nuwun sewu pak dokter…”

Dokter: “Ya?”

Tumini: “Ini lho pak, saya udah seminggu ini bermasalah sama kentut saya…masak tiap semenit itu saya bisa kentut lebih dari lima kali.”

Dokter: (menghela nafas) “Hmmm…ya…ya…ya…”

Tumini: “Tapi yang aneh itu dok, tiap saya kentut itu gak pernah kedengeran bunyinya sama gak ada baunya blas. Kalau boleh blak-blakan ya pak dokter, saya ini sebenarnya sudah kentut sepuluh kali sejak masuk ke ruangan ini.”

Dokter: “Hmmm….”

Tumini: “Sebenarnya saya ini kenapa sih dok?”

Pak dokter tidak menjawab sepatah kata pun dan langsung menulis resep.

Dokter: “Bu, ini resepnya, lusa ke sini lagi ya.”

Tumini: “Makasih ya pak dokter.”

Tumini langsung saja pergi ke apotek dan menukarkan resep dengan obat yang dimaksud. Sesuai perintah dokter, lusanya Tumini kembali ke puskesmas.

Dokter: “Gimana bu, sudah diminum obatnya?”

Tumini: “Sudah dok, tapi anehnya habis minum obatnya pak dokter kok tiba-tiba kentut saya ambune buadheg tenan kaya tembelek gajah, saya sendiri aja hampir pingsan lho dok pas nyiumnya.”

Dokter: (menghela nafas) “Oh, berarti hidung sampeyan  normal sekarang. Ini juga saya mau pingsan bu.”

Tumini: “Tapi kok tetep nggak ada suaranya ya dok? Padahal saya itu kalo kentut kok rasanya udah ngeluarin tenaga maksimal, rasanya kaya celana mau sobek gara-gara kentut saya”

Dokter: “Gini ya bu, ibu sebenarnya cuma masuk angin, tapi kalo sampeyan masih punya keluhan yang sama…obatnya ada satu.”

Tumini: “Apaan dok?’

Dokter: “Rajin-rajin bersihin kuping.”

Kramat Gantung, Saksi Eksistensi Keraton di Surabaya

24 Jul

Coba tanyakan kepada warga Surabaya yang telah berdiam lama di kota ini: manakah pusat penjualan karpet, gabus, serta bahan pembuat sepatu? Sebagian besar pasti akan menjawab Jalan Kramat Gantung. Memang, sekilas nama ini akan mengingatkan kita kepada kawasan Kramat Gantung di Jakarta (yang merupakan daerah prostitusi) sebab jalan ini letaknya tidak berada di daerah yang banyak dijangkau orang seperti jalan Ahmad Yani ataupun jalan Pemuda.

Menurut pengamatan penulis, jalan Kramat Gantung adalah “penghubung” antara Surabaya Tua dan Surabaya Modern. Karena apabila kita bepergian dari arah jalan Pasar Besar (representasi Surabaya Tua) dan melewati jalan ini, kita akan keluar menuju  jalan Gemblongan yang sudah benar-benar beda suasananya.

Sebuah Gang di Kawasan Surabaya Tua

Jalan Gemblongan, di Sini Atmosfernya Sudah Berbeda.

Siapa tahu, di balik nama Kramat Gantung terselip sebuah sejarah yang menarik tentang Surabaya. Ternyata dahulu di kawasan inilah terkonsentrasi Kadipaten Surabaya, yang merupakan cabang dari Keraton Mataraman. Makanya, di sini banyak sekali gang bernama “Kraton” yang menghubungkan jalan Kramat Gantung dan Baliwerti. Dan apabila pembaca mau melihat-lihat, akan ada banyak gapura gang bercirikan tempo dulu nan eksotis.

Ada dua versi asal-usul nama Kramat Gantung yang saya dapatkan, yang pertama mengatakan bahwa nama ini berasal dari masa kolonial, yakni ketika tempat ini kerap menjadi lokasi penggantungan warga pribumi yang membangkang terhadap pemerintah Belanda; versi kedua menyatakan bahwa asal namanya adalah dari kisah seorang prajurit sakti dari daerah itu yang hanya bisa mati dengan cara dihukum gantung. Yang mana saja versi yang benar, keduanya menggambarkan bahwa sejarah yang cukup pilu turut pula mengiringi perkembangan jalan Kramat Gantung.

Morfologi jalan ini begitu khas menurut saya, cukup lebar dan penuh dengan pertokoan tua di sekitarnya, dipermanis dengan gang-gang kecil yang menambah nilai nostalgia ketika melintasi jalan ini. Hanya saja terkadang ramai oleh mobil angkutan yang membongkar muat bahan-bahan dagangan seperti plastik dan karpet. Namun tetap saja keramaian itu berbeda dengan yang saya rasakan di sudut-sudut kota Surabaya lainnya.

Seorang Pria Menikmati Koran Paginya di Pinggiran Jalan Kramat Gantung.

Siapa Sangka, Jalan yang Tenang Ini Pernah Jadi Saksi Bisu Digantungnya Arek-Arek Suroboyo pada masa penjajahan Belanda.

Meskipun keren, namun jalan Kramat Gantung ini seakan kurang populer sebagai spot pengambilan gambar bagi para fotografer. Bagi yang ingin berkunjung, sebaiknya datanglah sebelum pukul 08.00 WIB untuk mendapatkan spot yang sepi dan untuk mendapatkan gambar aktivitas pagi warganya. Jangan khawatir bagi yang belum sempat sarapan, jalan ini juga dekat dengan kawasan China Town (Jagalan dan sekitarnya) serta Kampung Arab yang terkenal sebagai gudangnya kudapan bernuansa impor.

Dagelan Surabaya: Surat Wasiat

24 Jul

Suatu hari ada seorang bapak pengusaha kaya bernama Paijo yang sakit keras, dia sudah lama dirawat di RS Darmo. Karena kata sang dokter kondisinya memburuk dan divonis umurnya tak panjang lagi, seorang dari anaknya pun berinisiatif memanggil seorang modin (juru doa) untuk memudahkan ayahnya menjalani sakaratul maut.

Tak lama kemudian datanglah seorang modin bersama dengan anak tersebut, rupanya di sana sudah banyak pengunjung yang berkumpul mengitari sang bapak yang terbaring lemah. Segera saja modin mengambil tempat duduk tepat di samping Paijo dan memimpin doa dengan diikuti para pengunjung yang lainnya.

Lalu, terlihat respon dari Paijo,  ia membelalakkan mata dan tangannya bergerak-gerak, terlihat seperti gerakan menulis sesuatu.

Mas, tolong pak’e dike’i potlot karo kertas, sawangane arep nulis surat wasiat!” Seru pak modin kepada si anak pengusaha tadi. Buru-buru ia mengambil selembar kertas kecil dan pulpen dari sakunya lalu disodorkan ke tangan ayahnya, dengan tangan yang bergemetar kencang bapak tadi menuliskan sesuatu. Sementara itu, modin memeruskan bacaan doanya sembari diikuti oleh para penjenguk.

Setelah menuliskan surat tersebut, wafatlah  Pak Paijo.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, ini surat wasiatnya saya bawa dulu ya, tidak etis kalau kita buka di sini. Nanti kita cari tahu isinya pada saat pemakaman”

Sorenya, diadakanlah upacara pemakaman Paijo yang dihadiri banyak koleganya dari kalangan pengusaha. Pak modin seperti biasa, bertugas membaca doa di samping makam Paijo. Setelah semuanya beres, modin itu berdiri di antara sekumpulan peziarah sambil mengangkat tinggi-tinggi surat terakhir dari Pak Paijo.

“Para ziarah, ini wasiatnya Pak Paijo, saya mohon para hadirin diam karena pasti beliau meninggalkan suatu perkara yang sangat penting bagi kita semua”

Sekejap hadirin langsung diam dan mengalihkan perhatian pada pak modin yang berdiri sendiri di samping makam Paijo.

Pak modin mengambil sikap seperti akan membaca puisi, menarik suara sejenak, dan tiba-tiba nafasnya tercekat, alangkah terkejutnya ia setelah membaca isi yang tertulis dalam kertas kecil itu:

“MODIN GOBLOG, SELANG OKSIGENKU OJOK MBOKLUNGGUHI, NGALEH!”

Tambak Bayan, Kampung Tua di Tengah Sengketa.

23 Jul

Pagi itu sejatinya penulis ingin meliput tentang House of Sampoerna, namun ketika melewati sebuah kampung, penulis terhenyak dengan adanya sebuah spanduk bernada menyentil.

Protes: Memasang Spanduk Sebagai Ungkapan Kekesalan Warga

Ya, spanduk itu rupanya terletak tak jauh dari akses keluar sebuah hotel berbintang yang ada di kawasan tersebut. Penasaran apa gerangan maksud dari spanduk tersebut, penulis mendatangi warga setempat dan bertanya.

Seorang pengayuh becak setempat bernama Pak Alex mengungkapkan, spanduk itu adalah ungkapan kekesalan warga terhadap satu pihak pengusaha yang lima tahun lalu mengakuisisi lahan hunian mereka untuk dijadikan sebuah hotel. Pihak pengusaha telah mengklaim memberikan uang ganti rugi atas penggusuran tanah rumah warga setempat, namun warga mengatakan bahwa itu hanyalah bohong semata.

“Spanduk itu ya gara-gara warga sini jengkel mas” Tutur Pak Alex dengan raut muka jengkel, tukang becak yang telah 25 tahun mengabdi di kampung ini pun menambahkan, bahwa hingga saat ini proses ganti rugi belum beres sama sekali.

Lalu, apa hubungannya dengan hotel mesum? Usut punya usut, sang pengusaha ini rupanya terkenal memiliki reputasi sebagai pemilik hotel yang dianggap bermasalah. Diperkuat lagi dengan fakta bahwa hotel yang dibangunnya kali ini berada di kawasan yang cenderung sulit diakses oleh orang awam.

Kemelut menarik itu membuat penulis menginjakkan kaki lebih lama di kampung yang adem ayem ini. Ya, kampung ini bernama Tambak Bayan, sebuah kawasan perkampungan kecil yang terletak di daerah China Town ini memang sudah legendaris. Warga setempat mengatakan bahwa warga asli Tambak Bayan adalah generasi ketiga dari imigran Tiongkok asal daerah Guangdong (Canton). Dulu di kampung ini pernah berdiri sebuah kampus universitas swasta yakni UPN Veteran, namun kini bangunan tersebut sudah diganti dengan hotel yang penulis maksud di atas.

Saat ini, warga Tambak Bayan sedang bergelut dengan arus modernisasi yang mereka sebut sebagai “Tsunami” yang mereka nilai mampu menghilangkan kultur asli warga Tambak Bayan. Sengketa yang terjadi inilah yang menjadi faktor utama bagi mereka, warga sangat takut akan kehilangan lahan tinggal yang nantinya otomatis akan berdampak langsung pada kehangatan komunikasi mereka: kehangatan autentik khas perkampungan Surabaya. Betapa tidak, dari kasus sengketa tanah dengan pihak hotel ini, kurang lebih 10 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.

Untunglah warga Tambak Bayan juga merupakan sekumpulan orang-orang kreatif, komunitas seniman yang mereka namakan “Refugees of Future City” ini mengangkat protes atas pengambilan lahan ini dengan jalan membuat mural pada dinding-dinding tempat tinggal yang tersisa, kebanyakan berciri Tiongkok, khas warga asli kampung Tambak Bayan. Selain itu mural dengan tema-tema sosial juga mereka goreskan sebagai cermin dari aspirasi mereka, mereka berharap bahwa mural-mural itu mampu menjembatani keinginan mereka dalam menjalani hidup yang tentram sebagai satu kampung di masa depan. “Tanah mungkin dimiliki developer, tapi tembok itu akan digunakan untuk kehidupan sehari-hari penduduknya” tulis mereka pada sebuah spanduk oranye.

Warga VS Developer: Pemukiman Warga dengan Hotel di Belakangnya.

"Kami Tentram di Sini!": Mural Sebagai Penyambung Lidah.

Sebagian warga rupanya agak canggung dengan kehadiran penulis, sehingga penulis tidak sempat mengambil terlalu banyak gambar. Namun wawancara singkat dengan Pak Alex benar-benar membuka pikiran, betapa ada selembar sisi lain yang patut dikuak dari sebuah kota Metropolitan. Tanpa menghiraukan aspirasi serta ketentraman warga kecil seperti mereka, modernisasi selamanya hanya akan dianggap sebagai tsunami. Masih banyak saudara di sekitar kita yang rupanya membutuhkan perhatian dari petinggi-petinggi rakyat, karena bagaimana juga, mereka dan kampung tua ini adalah saksi sejarah dari bangkitnya Surabaya yang kita tinggali saat ini.

Bubur Ayam Jalan Jawa

22 Jul

Bagi warga Surabaya, pasti tidak asing lagi dengan kuliner yang satu ini, ya, bubur ayam Jakarta yang biasanya setia menanti pelanggan di Jalan Jawa (dekat Kelt dan SMPN 6 Surabaya) ini memang sudah terkenal sebagai spot sarapan favorit bagi sebagian warga kota pahlawan, khususnya kalangan penggila sepeda pancal yang umumnya menjadi pelanggan tetap di sini.

Penulis beruntung dapat menjadi pelanggan pertama ketika ingin mencoba bubur yang satu ini, maklum, menu yang satu ini dikenal cepat sekali ludes. Bahkan pada akhir pekan biasanya sudah bubaran sebelum jam sembilan pagi. Penulis berangkat dari rumah dengan menggunakan sepeda pada pukul 05.30, sehingga pas dengan datangnya gerobak bubur ayam yang bersiap untuk standby kira-kira pukul 05.45.

PERTAMAX GAN!!! YEEEAHHHH

Semangkuk bubur ayam dibanderol seharga Rp7.000 rupiah, tambah Rp3.000 rupiah untuk topping jeroan (ati, ampela, atau salah satunya saja). Untuk minumannya, si penjual bersimbiosis mutualisme dengan pemilik warung di belakang gerobaknya (tidak terlihat di foto, belum buka) untuk menyediakan teh manis hangat sekaligus tempat duduk buat pengunjung.

Penulis akhirnya memesan semangkuk bubur ayam dengan topping ampela, porsinya memang standar menu sarapan, namun rasanya setimpal dengan harga yang ditawarkan. Yang penulis suka adalah rasanya yang mild, tidak terlalu dominan rempah-rempah untuk ukuran bubur ayam, karena biasanya ada yang rasa jahenya terlalu kuat. Selain itu rasa krupuknya yang menyatu serta topping jeroannya yang gurih juga menjadi nilai plus buat bubur ayam yang satu ini.

Paaak, minta paaaak (source: kaskus.us)

Pengemasan untuk pesanan take away juga patut diacungi jempol, dilakukan dengan cukup telaten dan bersih sehingga memudahkan konsumen untuk menikmatinya di rumah sebagai oleh-oleh buat keluarga tercinta.

Saran penulis, usahakan datang pagi-pagi terutama pada hari Sabtu atau Minggu kalau tidak ingin kehabisan, terutama bagi yang ingin merasakan nikmatnya topping jeroan ala Bubur Ayam Jalan Jawa.

Selamat berwisata kuliner, salam kemalan badhogan!

Tunjungan Siap Bangkit Kembali?

22 Jul

“Rek ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan…”

Sepotong lirik lagu karangan Cak Mus Mulyadi itu seakan sudah jadi lagu wajib bagi orang Surabaya, bahkan telah menjadi ikon identitas kota Surabaya itu sendiri. Tiap ada liputan berita mengenai Surabaya di televisi mana saja, kemungkinan besar lagu inilah yang akan diputar sebagai backsound.

Kawasan Tunjungan merupakan spot penting apabila kita mau menyebut tentang kota Surabaya, bahkan Hotel Majapahit yang tersohor itu pun terletak di kawasan ini.

Namun belakangan kawasan ini sedikit merana, bangunan-bangunan dibiarkan mangkrak tak berpenghuni, toko-toko legendaris yang dulu mewarnai hari para warganya pun sebagian gulung tikar. Penulis masih ingat waktu dulu diajak berbelanja di toko Sari Agung (sebelah TEC) sekitar akhir periode 90an bersama keluarga, namun kini yang tersisa hanyalah sebuah blok yang tertutup pintu besi, dan sebuah tulisan petunjuk parkir pada pilar di depannya, yang menunjukkan bahwa dulu pernah ada sebuah toko yang bernama Sari Agung. Patut disayangkan, apalagi setelah mendengar cerita orang tua bahwa toko itu dahulu merupakan jujukan utama pelajar Surabaya ketika ingin membeli perlengkapan sekolah.

Spot Mangkrak di Tunjungan: Harusnya Bisa Lebih Baik Lagi

Belum lagi kawasan Jalan Tanjung Anom (dekat SMPN 4 Surabaya) yang tak terawat, tempat ini bahkan terlihat tak ramah bagi pengunjung karena suasananya yang sepi dan gelap bahkan pada siang hari pun. Penulis masih ingat bahwa di sana dulu merupakan gudangnya alat-alat elektronik macam radio maupun televisi. Sayang kini tidak mencerminkan hal yang demikian karena kondisinya becek, lebih mirip pasar. Sehingga kini orang-orang hanya akan terlintas Tunjungan Plaza di benak mereka apabila disodori nama “Tunjungan” ketimbang tempat-tempat macam Siola atau Toko Nam.

Padahal apabila diberi perhatian khusus, Tunjungan mampu bangkit lagi menjadi kompleks perdagangan yang berkualitas di Indonesia. Berbagai macam barang dagangan mulai dari modern hingga asli Indonesia tersaji lengkap, membentang sepanjang jalan yang menghubungkan Jalan Embong Malang serta Jalan Gemblongan ini.
Upaya revitalisasi kawasan ini pun timbul kembali, Tunjungan City, itulah proyek visioner yang dicanangkan Pemkot Surabaya dalam rangka membangkitkan kembali Tunjungan sebagai Central Business District (CBD) Surabaya yang dahulu sempat menikmati masa keemasannya pada periode 80an. Proyek yang dikabarkan menghabiskan dana 20 miliar rupiah inilah yang diharapkan mampu mengembalikan animo masyarakat dalam berkunjung ke Tunjungan, serta sebagai sarana promosi bagi Surabaya sendiri.

Sejenak patut kita menengok ke proyek renovasi bangunan Siola. Gedung yang dahulunya bernama White Laidlaw ini kini sedang ada dalam tahap penyelesaian akhir. Cat berwarna krem nan anggun kini membalut tampilan luar gedung yang pernah dijadikan pusat perbelanjaan oleh Ramayana Group ini. Sedangkan interiornya kini dalam tahap penyelesaian akhir, nuansa putih yang indah serta pengaktifan kembali eskalator gedungnya dapat kita lihat dari luar gedung sembari menikmati suasana di jalan Tunjungan. Rencananya, gedung ini akan diisi dengan berbagai macam pusat perbelanjaan seperti department store ataupun pusat hiburan keluarga. Bahkan akan ada wacana untuk mengintegrasikan bangunan cagar budaya ini dengan hotel berbintang.

Tampak Depan Proyek Gedung Tunjungan City dari Jalan Praban.

Potensial: Keramaian Saat Masa Jayanya Sempat Mengingatkan Pada Kawasan Perbelanjaan di Hongkong

Penulis berharap semoga proyek ini dapat berjalan tepat sasaran serta didukung oleh berbagai pihak termasuk warga kota Surabaya. Penulis juga memimpikan suatu hari nanti, wisatawan asing akan menjadikan Tunjungan sebagai shopping centre yang mendunia.

Teruslah berbenah, Tunjungan, kami tak sabar menantikanmu bangkit lagi sebagai ikon pariwisata Surabaya!

Surabaya

22 Jul

Kota kedua terbesar di Indonesia ini memiliki tempat khusus di hati penulis, bukan hanya karena di tempat ini penulis dilahirkan, namun karena adanya sebuah potensi luar biasa yang dimiliki oleh kota ini dalam menjadi sebuah metropolitan yang hebat. Seperti raksasa yang sedang dalam masa pertumbuhan, kalau boleh dianalogikan, terus bergerak dinamis menuju arus modernisasi.

Satu hal yang penulis cintai pula adalah betapa kota ini tetap memegang ciri khasnya, sebagaimana kota besar lain di Asia, Surabaya dalam pandangan penulis merupakan paduan yang indah antara modern dan tradisional, dan itu makin dipercantik dengan cultural diversity  yang tinggi dari penduduknya.

Banyak yang memprediksi bahwa di masa depan, Surabaya akan sejajar dengan kota penting dunia lainnya seperti Busan maupun Seattle.

Surabaya: Raksasa yang Sedang Tumbuh

Saat ini, Surabaya telah mempersiapkan citranya dalam menjadi kota penting di Asia Tenggara dengan jalan mempercantik penampilannya. Berbagai macam usaha sinergi rakyat dan pemerintah seperti “Surabaya Green and Clean” maupun “Sparkling Surabaya” menjadi salah satu faktor keberhasilan Surabaya dalam memperbaiki citranya. Karakter orang Surabaya yang bonek, termasuk rela melakukan usaha demi kemajuan kotanya, juga turut mengangkat nama Surabaya sehingga mampu go-nasional sebagai “The New Green City”.

Tak sia-sia, tahun ini total Surabaya berhasil memenangi lima penghargaan dalam kompetisi Adipura. Surabaya, yang sepuluh tahun lalu hanyalah dikenal sebagai kota besar yang gersang dan panas, kini dikenal sebagai salah satu kota terindah di Indonesia.

Bahkan mulai tahun lalu, program “Surabaya Berbunga” juga sudah mulai dijalankan. Apabila sinergi ini berlangsung konsisten, jangan heran jika lima tahun lagi predikat Kota Kembang akan hijrah ke Surabaya.

Taman Pelangi, Jalan Ahmad Yani.

Dalam bidang pariwisata, penulis selalu yakin bahwa Surabaya tak kalah dengan Yogyakarta atau bahkan Singapura sekalipun, kita bahkan memiliki potensi yang apabila digali tak kalah besar dibanding kota-kota tersebut. Yang kita butuhkan hanyalah adanya promosi gencar serta kebanggaan dari seluruh elemen masyarakat untuk memelihara keunikan kota ini, karena rasa bangga itulah yang selalu ada di balik kemajuan tiap kota lainnya.

Karena kita adalah duta bagi rumah kita sendiri. Dan kita akan berbangga apabila apabila suatu hari nanti kita melihat Surabaya sebagai ikon kemajuan bangsa ini pula.

Siapa tahu juga suatu hari nanti di Singapura akan ada kawasan hunian prestisius berjuluk “Suroboyone Singapura” yang terinspirasi dari keunikan Surabaya seperti “The Singapore of Surabaya” milik Ciputra Group? 😉

That’s it, Surabaya adalah milik saya, anda, dan kita semua.

Tentang SurabayaStory

22 Jul

Assalamualaikum rek!

Selamat datang di SurabayaStory, sebuah blog dari dan untuk Surabaya. Berawal dari hobi jalan-jalan keliling Surabaya, penulis berusaha untuk membagi catatan kecil tentang hal-hal menarik dari kota pahlawan ini. Penulis berharap blog ini mampu menjadi referensi bagi pembaca yang ingin mengenal hal lain dari kota Surabaya, khususnya dari luar Surabaya.

Selamat membaca, semoga bermanfaat 😀

Penulis