Surabaya Akan Segera Punya Trem dan Monorel

13 Agu

Pemkot Surabaya sudah sejak lama ingin mengurai kemacetan yang terjadi di Basuki Rachmat dan Urip Sumohardjo dengan membangun underpass Pandegiling. Namun niatan itu terkendala dengan adanya bangun cagar budaya di Urip Sumohardjo sehingga underpass yang butuh lahan luas, tidak bisa diwujudkan.

Karena itu untuk menggantikannya, pemkot tetap akan membangun monorel di kawasan itu. Nantinya, monorel itu yang menjadi penghubung transportasi massal dari koridor Timur ke Barat. Bahkan lelang detail engineering design (DED) untuk proyek monorel sudah dijalankan.

Hal itu diakui Kepala Bappeko Surabaya Hendro Gunawan. Menurut dia, masalah transportasi alternatif di Surabaya ini sudah dibicarakan dengan para ahli atau pakar transportasi kota. Hendro menyatakan, dalam minggu ini lelang DED proyek yang bakal menginvestasikan triliunan rupiah, akan dilakukan.

Proyek itu nantinya akan dibangun investor, sehingga pemkot akan akan mengeluarkan anggaran sedikit pun. Pemkot hanya kebagian menyediakan kendaraan penghubung serta pembuatan lokasi parkir khusus pemberhentian monorel dan trem.

Pemkot berkeinginan menyediakan monorel untuk menghubungkan transportasi dari Timur ke Barat dan trem untuk koridor Utara-Selatan. Koridor Timur-Barat yang dihubungkan dari ITS-Kertajaya-Jl dr Seotomo-Mayjen Sungkono-Pakuwon Trade Centre. Sedangkan untuk trem menghubungkan Wonokromo-Jl Raya Darmo-Urip Soemohajo-Jl Basuki Rachmad-Jl Embong Malang-Jl Blauran-Jl Bubutan dan Tugu Pahlawan.

Peta Rencana Jalur Trem dan Monorel (source: skyscrapercity.com)

 

Monorel dan trem ini juga sebagai alternatif setelah penolakan pemkot atas tol tengah kota. Transportasi itu dianggap sebagai solusi terbaik untuk transportasi di Surabaya.

source: http://www.centroone.com/news/2012/1y/monorel-surabaya-segera-terwujud/

 

Iklan
Gambar

5983813151_423e4a1c6c

13 Agu

5983813151_423e4a1c6c

Peta Rencana Trem-Monorel Surabaya

#SaveKBS

17 Mar

“Kliwon, satu-satunya jerapah koleksi Kebun Binatang Surabaya, ditemukan mati; di dalam perutnya ditemukan sampah-sampah plastik.”

Yogyakarta – Pagi itu, saya terbangun oleh suara pembaca berita dari sebuah televisi swasta. Berada ratusan kilometer dari rumah membuat telinga saya lebih sensitif apabila ada nama Surabaya disebut-sebut di kabar nasional. Rupanya telinga saya tidak salah, lagi-lagi saya mendengar kabar kematian satwa koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS), kali ini adalah seekor Jerapah yang merupakan satu-satunya koleksi kebun binatang populer ini.

Sedikit tertegun, saya mengambil sebuah album keluarga berisi koleksi foto liburan saya di KBS pada tahun 1995. Pada suatu halaman, saya menemukan selembar foto di mana saya digendong oleh ibu saya, dengan latar belakang seekor jerapah yang sedang berdiri dengan gagahnya, seakan turut tersenyum ke arah kamera.

Ya, saya menyadari bahwa itu pastilah si Kliwon, yang saat itu saya saksikan di TV sedang diseret menuju liang lahat oleh para petugas KBS.

Tinggal Kenangan: Foto ini diambil pada 1995.

Ada sebuah rasa kehilangan yang hinggap, meskipun pada kenyataannya foto itu sudah diambil sekitar 17 tahun yang lalu, dan bahkan Kliwon sama sekali bukan bagian keluarga saya. Namun, keberadaannya dalam foto keluarga tersebut telah menunjukkan, bahwa KBS telah ada dalam hati setiap warga Surabaya. Saya pun berani bertaruh: dari setiap foto keluarga di Surabaya, paling tidak pasti ada sebuah album yang berisi foto-foto kunjungan ke KBS.

Sebagaimana arek Suroboyo lainnya, KBS memiliki kesan mendalam bagi saya. Tempat ini merupakan spot wisata Surabaya yang pertama saya kunjungi seumur hidup, di sini pulalah saya menjalani karyawisata pertama saya sebagai siswa SD, dan di tempat ini pula saya melakukan penelitian dalam rangka Student Day SMA sebelum akhirnya saya harus meninggalkan Surabaya. Di luar itu, tak terhitung sudah berapa kali saya mengunjungi tempat wisata ini.

Kebun Binatang Surabaya, siapa yang tak mengenal nama satu ini. Sedari duduk di bangku SD, saya terbiasa mendengar cerita guru tentang kehebatannya sebagai kebun binatang terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara. Sekitar 4000 satwa dari berbagai macam spesies terdapat di sana. Sebagai seorang anak kecil, siapa yang tak bangga tempat wisata favoritnya dielu-elukan sedemikian rupa.

Namun, kebanggaan tinggallah masa lalu. Kini, KBS dihadapkan pada sebuah permasalahan yang pelik. Kematian satwa yang beruntun, konflik internal pegawai KBS, carut marut antara pengurus lama dan baru, serta sengketa kepemilikan pun makin memperkeruh suasana. Bahkan, sempat terdengar kabar bahwa akan ada investor yang ingin mengambil alih KBS untuk dijadikan pusat perbelanjaan.

Yang paling menyedihkan,  sebuah sumber berita mengatakan bahwa KBS akan ditutup pada tahun ini. Dalam sumber tersebut tertulis bahwa KBS tidak lagi masuk dalam SK baru Pemerintah Kota Surabaya. Sedangkan masalah pengelolaan hewan akan diserahkan kepada lembaga konservasi.

Gajah dan gajah saling bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah. Pepatah ini tepat menggambarkan KBS saat ini, pengelola dan pengelola saling tidak mau mengalah, satwalah yang menjadi korban. Sekali lagi, keegoisan manusia menjadi bukti penyebab rusaknya lingkungan.

 

Dapatkah anda membayangkan Surabaya tanpa KBS?

 

Well, saya juga tidak mampu.

 

 

 

Karena, bagi warga Surabaya, KBS lebih dari sekedar tempat wisata, ia adalah sebuah tempat yang telah banyak merekam senyuman, tawa, tangisan, rengekan, pelukan, dan candaan dari orang yang mereka cintai menjadi satu. Semua dalam wujud yang spesial di hati mereka.

 

Mungkin ini hanyalah satu dari sekian banyak doa.

 

Namun, saya masih berharap bahwa di masa depan nanti, akan ada suatu hari di mana saya dapat mengantarkan keluarga saya pergi ke KBS dan berkata: “Tempat yang indah kan? Dahulu, kakek-nenekmu suka mengajak ayah ke sini.”

Saya masih bermimpi bahwa akan ada masa di mana saya mampu mendengar cerita anak-anak saya tentang karyawisata mereka di KBS, dan saya pun dapat dengan bahagia menceritakan kembali pengalaman karyawisata saya puluhan tahun yang lalu di tempat yang sama.

Saya masih membayangkan, bahwa akan ada waktu di masa tua saya ketika saya duduk bersantai sambil memandangi foto-foto kiriman anak cucu saya yang tengah berlibur di KBS, sembari berbisik mantap dalam hati: “KBS  masih ada…”

Saya masih berangan, semoga pihak yang kini sedang berseteru, akan berdamai demi KBS, demi para satwa di sana, dan demi memori-memori masa lalu dari pengunjungnya yang berserakan di tiap inci sudutnya.

…Dan akhirnya Kliwon, beserta satwa-satwa yang telah pergi lainnya, pun dapat tersenyum dengan tenang di alam sana.

 

“KBS iso ae ditutup, diancurno….Tapi gak kiro iso nutup karo ngancurno kenangan pas cilikanku nang kono”

– @aslisuroboyo

#SaveKBS

Oleh:

Ario Bimo Utomo, satu dari sedemikian ribu arek Suroboyo yang kenangan masa kecilnya banyak tertinggal di KBS, dan berharap KBS akan selalu ada bagi tiap hati yang merindukannya.

House of Sampoerna: Tempat Wisata yang Sempurna.

29 Nov

Baiklah, seharusnya tulisan ini sudah dipost sejak penulis belum pergi ke luar Surabaya untuk urusan studi. Namun tidak ada kata terlambat bagi penulis untuk selalu mengabarkan tempat-tempat menarik di Kota Pahlawan.  Nah, kali ini yang penulis angkat adalah sebuah tempat wisata yang menjadi favorit penulis, yakni House of Sampoerna.

Mungkin namanya masih kalah tenar bila dibandingkan dengan Monumen Kapal Selam ataupun Tugu Pahlawan, secara lokasi pun ia kalah strategis dari Kebun Binatang Surabaya, namun penulis berani menjamin bahwa tempat wisata yang satu ini tidak akan mengecewakan pembaca sekalian.

Megah: Penampakan House of Sampoerna (source: ceritamu.com)

Terletak di kawasan “Surabaya Tua”, kurang lebih 500 meter dari ex-Penjara Kalisosok, keberadaan House of Sampoerna bisa dikatakan bagai berlian di tumpukan kain, mengingat lokasinya yang terselubung di tengah perkampungan warga.

Berdiri kokoh dengan gaya arsitektur kolonial Eropa, House of Sampoerna sejatinya dahulu merupakan sebuah panti asuhan milik Belanda yang akhirnya dibeli oleh keluarga Liem Seng Tee pada 1932 sebagai tempat usaha perdagangan rokoknya. Bangunan House of Sampoerna terdiri dari tiga bagian, yakni museum, kafe dan galeri seni, serta sebuah rumah pribadi milik Putera Sampoerna.

Aura berbeda segera terasa begitu menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tempat ini. Aroma tembakau yang wangi serta semilir angin dari pendingin ruangan segera menyapa, mengajak kita untuk berlama-lama singgah di tempat ini. Untuk beberapa saat ke depan kita akan lupa bahwa kita sedang berada di kawasan utara Surabaya yang panas dan berdebu.

Begitu memasuki area museum, kita akan disambut dengan berbagai macam benda menarik. Contohnya adalah replika warung keluarga Liem Seng Tee, sepeda Liem Seng Tee, serta tungku pemroses tembakau. Semakin ke dalam, kita dapat melihat replika seragam marching band Sampoerna Group dan berbagai macam sampel bungkus rokok dari berbagai belahan dunia.

Yang lebih asyik, di lantai dua kita dapat menyaksikan secara langsung proses pelintingan rokok dalam kecepatan tinggi yang dilakukan sekitar tiga ribu wanita pekerja. Sekedar informasi, dahulunya lokasi pelintingan ini adalah sebuah auditorium teater di mana Charlie Chaplin pernah mampir ke sana dalam rangka kunjungannya ke Surabaya.

Selain museum, House of Sampoerna menawarkan fitur menarik lainnya seperti kafe di mana kita bisa membeli oleh-oleh khas Sampoerna Group bagi keluarga di rumah. Kemudian ada juga galeri seni yang rutin menyelenggarakan pameran, mulai dari pameran tekstil, fotografi, hingga lukisan.

Interior: Inilah isi dari museum House of Sampoerna (source: houseofsampoerna.museum)

Like a boss: Penulis di dalam House of Sampoerna.

House of Sampoerna dapat dibilang merupakan tempat wisata yang sempurna, selain menakjubkan juga ramah di kantong karena kita tidak dipungut sepeserpun untuk menikmati segala fasilitas yang ada. House of Sampoerna juga dikenal sebagai surga bagi fotografer yang ingin mencari nuansa elegan bagi karyanya, bahkan kamar mandinya yang super nyaman pun dapat digunakan bila mau.

Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya telah menggandeng House of Sampoerna dalam proyek Surabaya Heritage Track  yang memungkinkan wisatawan mengelilingi tempat-tempat historis di Surabaya, lagi-lagi secara gratis!

Kerjasama: Bus Surabaya Heritage Track yang siap membawa kita berkeliling Surabaya. (source: houseofsampoerna.museum)

House of Sampoerna siap menyambut pengunjungnya dengan tangan terbuka setiap hari pukul 09.00 pagi hingga 22.00 malam. Saran pembaca, selalu membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) bagi yang ingin mengajak pengunjung berusia di bawah 17 tahun mengingat museum ini adalah museum rokok.

Bagaimana pembaca? siapkah kalian menjalani wisata budaya yang mengesankan di House of Sampoerna? 😀

Sego Njamoer, Pertolongan Pertama pada Kelaparan.

25 Sep

Bagi pelajar, khususnya yang tinggal di luar kota untuk urusan studi, anggaran sehari-hari merupakan suatu hal yang krusial apabila ingin survive  dalam waktu yang cukup lama di perantauan (curhat…) Nah, beruntunglah bagi yang memilih Surabaya sebagai tempat untuk menuntut ilmu, karena di kota ini biaya hidup tergolong dalam kategori murah. Selain itu, ada sebuah solusi bagi yang ingin makan hemat tanpa harus merogoh kantong terlalu dalam.

Berawal dari even Program Kreativitas Mahasiswa, sekumpulan mahasiswa kreatif asal Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) akhirnya menciptakan sebuah inovasi dalam bidang pangan yang mereka namai Sego Njamoer (Nasi Berjamur). Seperti namanya, bahan baku makanan ini adalah nasi dan jamur tiram. Yang bikin unik, jamur tiram ini memliki cita rasa seperti daging yang enaknya epic, nasinya pun dibentuk seperti onigiri (makanan Jepang) sehingga niscaya akan membuat ngiler semua orang yang belum pernah mencobanya langsung. Secara fisik, bolehlah Sego Njamoer ini dikatakan setara dengan Sego Kucing di Jawa Tengah 😀

Mengangkat slogan “Lezat dan Nggak Bikin KanKer”, tim Sego Njamoer mengangkat dua makna: yakni mempublikasikan khasiat jamur tiram sebagai makanan yang mampu mencegah pembentukan tumor dan kanker, serta keistimewaan Sego Njamoer yang nikmat di lidah tapi aman di kantong. Benar saja, untuk sebungkus Sego Njamoer kita hanya perlu membayar ganti rugi sebesar Rp3.000,00. Tapi tentu saja sebungkus tidak cukup, kalau mau puas kita minimal harus makan dua bungkus (saat kalap, penulis pernah beli 6 bungkus untuk dimakan sendiri).

Ada dua varian Sego Njamoer, yaitu original dan pedas. Penulis lebih menyarankan untuk memesan yang original saja, karena selain lebih terasa jamurnya, yang varian pedas menurut penulis agak kurang ramah di tenggorokan.

Gerai Sego Njamoer telah tersebar di beberapa lokasi sebut saja di Kantin pusat ITS, FTI ITS, Ria Swalayan Keputih, kantin Fakultas Hukum Universitas Airlangga, serta Kampus A Universitas Airlangga.  Penulis lebih suka untuk membeli di Ria Swalayan Keputih (kira-kira 500 meter dari Universitas Hang Tuah) karena penulis agak sungkan kalau harus masuk kampus orang…hehehe…Saran penulis, datanglah setelah pukul 10.00 pagi, karena meskipun gerai sudah dibuka mulai pukul 09.30, biasanya si penjual masih sibuk dengan mengolah jamur dan menanti kiriman nasi.

Berikut adalah foto-fotonya, maaf kalau fotonya colongan semua, karena saat penulis ke TKP gerainya belum buka.

Penampakan Gerai Sego Njamoer (source: segonjamoer.com)

Bahan Baku The Epic Sego Njamoer (source: wikipedia.com)

Penampakan Sego Njamoer di Website Resminya (source: segonjamoer.com)

Selamat makan! Kalau beli cepet-cepet dimakan ya, biar nasinya nggak njamur beneran! 😀

DagelanStory: Pintu Ajaib.

24 Sep

Suatu hari Wak Tam pergi bersama istri dan anaknya, mereka bertiga pergi ke Plasa Tunjungan untuk yang pertama kalinya. Maklumlah, orang desa, setiap kali mereka berjalan melewati tempat yang ada di sana mereka selalu berdecak kagum.

Setelah berjalan sekian lama, Wak Tam berhenti tepat di depan sebuah pintu besi berwarna keperakan. Yang membuatnya heran, pintu itu bisa membuka-tutup secara otomatis, dan pintu itu bisa mengeluarkan suara yang lembut…”TING!”

Pak, iku jenenge opo pak?” Tanya Eko, anaknya.

Wah, aku yo gak ngerti le…ket eruh iki aku ono lawang iso koyo ngono” Jawab Wak Tam sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Akhirnya, Wak Tam sekeluarga mengamati pintu itu tanpa henti sambil berjongkok di depannya.

“TING!” pintu itu terbuka, lalu seorang nenek-nenek masuk ke dalam pintu tersebut. Pintu itu tertutup lagi, tak lama muncullah angka-angka di atas pintu tersebut. Satu, dua, tiga, berhenti…kemudian tiga, dua, satu…”TING!” pintu itu kembali terbuka.

Wak Tam sangat terkejut melihat seorang siswi SMA yang sangat cantik keluar dari pintu tersebut.

Wak Tam antara kebingungan dan gembira, sembari pandangannya meleng ke arah gadis tersebut, dia menarik-narik tangan istrinya sambil berteriak, “Ko, Eko, ibukmu ndang lebokno kono Ko!!!”

 

Dari Penulis.

24 Sep

Assalamualaikum…

Sebelumnya, penulis berterima kasih kepada semua yang selama ini mengikuti update SurabayaStory, lebih-lebih yang merasa terhibur melalui info-info ringan seputar kota kita tercinta ini. Sebagai warga kota biasa, penulis hanya mencoba untuk berbagi hal yang menurut penulis juga akan menarik bagi orang lain, khususnya pendatang baru atau orang yang ingin mengenal Surabaya lebih dalam.

Namun berhubung penulis juga memiliki kewajiban meneruskan studi di luar kota, mulai saat ini update akan sedikit berkurang frekuensinya. Tapi penulis usahakan untuk menerbitkan tiga artikel sekaligus tiap update, baik itu dari BadhoganStory, DagelanStory, maupun LokasiStory. Bagi yang ingin merekomendasikan info untuk diterbitkan, penulis akan dengan senang hati menerima dan mempertimbangkan 😀

Kini, penulis mohon doanya untuk kelancaran studi penulis di kota Yogyakarta hingga usai, semoga penulis tetap bisa berkarya sebagai duta kecil-kecilan bagi Surabaya. Salam!

DagelanStory: Rebung.

3 Sep

Mr.Black, seorang bule asal Inggris, kemarin datang ke Surabaya untuk homestay di rumah Mas Joko di daerah Wonocolo. Suatu sore, istri Mas Joko, Mbak Supiyah, menyajikan sebuah masakan yang terlihat asing buat  Mr.Black.

“Wahh…ini apa namanya Mbak Supiyah?” kata Mr.Black dengan logat British yang medok saat melihat Mbak Supiyah menuangkan sesendok besar sayur ke mangkuknya.

“Itu namanya gulai mister, monggo coba deh!” Sahut Mas Joko sambil menikmati sepiring nasinya.

Mr.Black pun menyuap sesendok gulai tersebut, matanya terbelalak seakan belum pernah memakan makanan enak sebelumnya.

“Wuaaaahh, ini enak sekali! Apalagi yang ini, renyah banget!” kata Mr.Black sambil menunjuk sepotong benda asing di mangkuknya.

“Itu namanya rebung, mister Black! Itu dari tumbuhan bambu yang masih belum dewasa.” Mbak Supiyah menjelaskan kepada Mr.Black dengan bangga.

“Negara Indonesia hebat sekali! Bahkan tumbuhan yang masih mentah aja udah seenak ini, gimana yang udah matang ya?”

Nasi Goreng Iblis Srikana.

21 Agu

Lidah orang Surabaya terkenal betah pedes, tidak bisa makan kalau tidak ada nuansa pedasnya, meskipun sekali kepedasan tapi kalau enak ya diteruskan saja atau dalam istilah lainnya kapok lombok. Dan nasi goreng adalah salah satu menu wajib yang harus ada dalam daftar badhogan sehari-hari orang Surabaya. Menu yang merupakan warisan kebudayaan Tiongkok ini telah diadaptasi dalam berbagai macam rasa hingga cocok dengan tipe lidah orang Indonesia.

Salah satunya adalah nasi goreng jawa, nasi goreng dengan ciri khas penggunaan telur rebus serta taburan tauge serta ayam ini memang sudah sangat terkenal sebagai penghangat di malam hari bagi warga Surabaya. Contohnya adalah Nasi Goreng Iblis yang berlokasi di jalan Srikana ini. Cukup mencolok untuk ditemukan, ada sebuah geber berwarna putih bertuliskan Nasi Goreng Jawa Papi Kancil yang memudahkan pembaca untuk mencarinya.

Yang menjadikan nasi goreng ini terkenal adalah cita rasa pedasnya yang ajegile, untuk yang tidak tahan pedas (termasuk penulis) mungkin bakalan berpikir dua kali untuk menambah suapan kedua. Sekilas mengingatkan pada nasi goreng jancuk milik Surabaya Plaza Hotel, tapi berhubung harga nasi goreng jancuk yang makin melambung, bolehlah pembaca menjadikan nasi goreng iblis sebagai bahan latihan sembari mengumpulkan uang. (lho??)

Hal lain yang membedakan dari nasi goreng jancuk adalah porsinya yang lebih masuk di akal. Pembaca tak perlu khawatir terkapar di tengah makan, lain halnya dengan nasi goreng jancuk yang porsinya bisa membuat kita harus menelepon hingga tiga orang bala bantuan ketika sudah tidak kuat menghabiskannya. Selain itu kita juga bisa memesan sesuai kadar kemampuan kita, karena tidak hanya menu “iblis” yang dijual tapi ada juga nasi goreng untuk lidah manusia normal seperti nasi goreng krengsengan dan nasi goreng sosis.

Satu porsi dibanderol Rp7.000, selain itu pembaca juga bisa memesan segelas es teh seharga Rp1.500 untuk membawa cahaya surga ke dalam mulut. Untuk penambah cita rasa, sepiring kerupuk juga sudah disediakan di samping seporsi nasi goreng.

Penulis sangat tidak menyarankan menu iblis ini untuk dijadikan menu buka bersama (yaiyalah!). Jadi, waktu yang paling tepat untuk menyantap nasi goreng iblis adalah malam setelah salat Tarawih, karena akan cocok untuk memanaskan kembali perut yang terkena hawa dingin malam. Dan bagi penderita maag, alangkah baiknya untuk membawa sestrip tablet obat maag untuk dikonsumsi setelah makan.

Selamat makan!

———————————————–

Geef Mij Maar Nasi Goreng – Wieteke van Dort

Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd  (Ketika kami pulang dari negeri khatulistiwa)

Dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht (Ternyata Belanda sangat dingin, kami tak mengiranya)
Maar et ergste was ‘t eten, nog erger dan op reis (Yang paling parah adalah makanannya, lebih buruk dari perjalanannya)
Aardapp’len, vlees en groenten en suiker op de rijst (kentang, daging, dan sayur, dan nasi dicampur gula)
Geef mij maar nasi goreng, met een gebakken ei (Berikan aku nasi goreng saja, dengan telur goreng)
Wat sambal en wat kroepoek, en een goed glas bier erbij (Dengan sambal dan krupuk dan segelas bir)
Geef mij maar nasi goreng, met een gebakken ei (Berikan aku nasi goreng saja)
Wat sambal en wat kroepoek, en een goed glas bier erbij (Dengan sambal dan krupuk dan segelas bir)

(source: kaskus.us)

 

Menikmati Pagi di Taman Mundu.

20 Agu

Di bulan Ramadan, sebagian dari kita mungkin memutuskan untuk melanjutkan mimpi setelah melaksanakan ibadah sahur, demikian juga dengan penulis yang kebetulan sedang libur panjang. Tapi pagi ini penulis mencoba sesuatu yang beda dengan kembali berjalan-jalan mengitari Kota Pahlawan, kali ini jujukan penulis adalah Taman Mundu.

Bagi warga Surabaya, pastilah tidak asing dengan taman yang terletak tepat di depan Stadion Gelora 10 November ini. Sekitar lima tahun yang lalu, sebelum direnovasi menjadi sebuah taman, tempat ini adalah sebuah lapangan yang kerapkali dijadikan tempat untuk menggelar bazar atau sekedar dijadikan lokasi senam pagi. Kini, setelah revolusi Sparkling Surabaya yang diselenggarakan oleh pemerintah kota, Taman Mundu menjelma menjadi sebuah tempat yang elok di pusat kota Surabaya.

Fasilitas yang ditawarkan taman ini lumayan lengkap: mulai dari tempat bermain bagi anak-anak, trek berbatu untuk area berjalan kaki sambil menikmati pijatan refleksi, serta tempat duduk yang luas. Istimewanya lagi, Taman Mundu juga menjadi salah satu lokasi (selain Taman Bungkul) yang dipilih oleh PDAM Surabaya untuk menjadi spot keran air siap minum, jadi pengunjung yang kebetulan lewat bisa leluasa meminum air dari sana secara gratis.

Berbunga: Salah Satu Sudut di Taman Mundu.

Segar: Keran Air Siap Minum di Taman Mundu.

Taman yang diresmikan pada Juli 2010 oleh mantan wali kota Bambang D.H. ini juga dikenal memukau saat malam tiba, air mancur dan kilauan lampu dalam berbagai macam warna siap memanjakan mata siapa saja yang memandangnya. Sulit dipercaya bahwa di sana dulu pernah terdapat sebuah lapangan yang cenderung tidak terurus, bahkan dulu tidak ada yang terpikirkan untuk memalingkan wajah tiap kali melewatinya.

Taman Mundu adalah salah satu di antara belasan taman-taman kota yang ada di Surabaya, rencananya pemerintah kota masih akan menambah jumlah taman hingga melebihi target 30% Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk kategori kota. Kini Surabaya adalah kota dengan persentase RTH yang cukup tinggi dengan lebih dari 25% dibanding luas wilayah, jauh lebih tinggi dari Jakarta yang hanya memenuhi sekitar 5-6% dari total luas.

Semoga ke depannya Surabaya akan terus menambah jumlah taman kota, sehingga dapat menjadi contoh bagi kota-kota yang lain untuk go green serta menyediakan paru-paru kota yang otomatis bisa membuat warganya nyaman dan sehat dalam menjalani aktivitas.

(source: surabayapost.co.id)